Perpustakaan Agung Damar Gelar Dialog Kepustakaan
NU Online · Sabtu, 25 Februari 2012 | 12:27 WIB
Pamekasan, NU Online
Perpustakaan Pesantren Agung Damar, Talaga Pakamban Daja, Pragaan, Sumenep, menggelar Dialog Kepustakaan, bertempat di Aula Agung Damar, Jumat (24/2) pagi. Acara yang diikuti ratusan santri Agung Damar dari tingkat MI sampai MA, ini mendatangkan mantan Pembina Perpustakaan Annuqayah Latee Guluk-Guluk, Anam Al-Yumna, sebagai narasumber.
Ketua Perpustakaan Agung Damar, Muhammad Faruqi, menyatakan bahwa setidaknya ada 3 tujuan yang ingin dicapai dari Dialog Kepustakaan.
<>
“Agar santri-santri di Agung Damar semakin senang membaca. Ini tujuan yang pertama. Kedua, supaya mereka lebih paham tentang kepustakaan,” tutur Muhammad Faruqi di ruang perpustakaan, setengah jam sebelum acara dimulai.
Sedangkan tujuan yang ketiga, tambah siswa kelas XI IPS MA Tahdits Agung Damar tersebut ialah sebagai penerapan dari perintah agama.
Dalam sambutannya, pengasuh Agung Damar Kiai Mas’udy Shabri menyatakan senang dengan diselenggarakannya acara tersebut.
“Saya sangat senang. Acara ini mencerminkan bahwa kecintaan adik-adik Pustakawan terhadap perpustakaan sangat tinggi. Sekali lagi, saya amat senang sekali,” ujarnya dengan suara santun.
Dalam sambutannya pula, salah satu tenaga pendidik di MA Tahfidh Annuqayah, Guluk-Guluk, itu mengamini terhadap pentingnya perpustakaan.
“Jantung dari lembaga pendidikan adalah perpustakaan,” tegasnya yang disimak secara khidmat oleh hadirin. Kiai Mas’udy juga memantik semangat para Pustakawan Agung Damar agar semakin menggalakkan kegiatan-kegiatan kepustakaan lainnya.
“Saya tunggu kegiatan-kegiatan lainnya ke depan,” katanya penuh keseriusan.
Seksi Pengadaan Buku Perpustakaan Agung Damar, Abd Adzim, menyatakan bahwa Dialog Kepustakaan merupakan bagian dari program kerja perpustakaan. Hanya saat ini adalah yang pertama kalinya.
“Sebenarnya tahun lalu sempat diadakan acara Dialog Kepustakaan. Tapi gagal, karena narasumber pas di waktu pelaksanaan tidak hadir tanpa memberi alasan yang bisa diterima akal sehat,” ungkapnya, agak kesal.
Narasumber tersebut, tegasnya, mengundang ketua perpustakaaan daerah Pamekasan.
“Semua teman-teman Pustakawan kecewa. Kekecewaan tersebut bisa dimaklumi, mengingat acara kala itu melibatkan para siswa dari luar Agung Damar. Malu kami,” tambahnya.
Pustakawan Putra dan Putri Dipisah
Perpustakaan Agung Damar yang berdiri 6 tahun lalu, kini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Ribuan buku dari ragam tema dikoleksi. Tebal-tebal dan bagus-bagus. Dan perkembangan terkini ialah adanya pemisahan antara Pustakawan putra dan putri. Dengan kata lain, sudah ada 2 perpustakaan di pesantren yang sangat maju tersebut.
“Yang putra bernama Gemar Membaca (GM), sedangkan untuk putri bernama Fatimatus Zahrah (Faza),” tutur Pembina perpustakaan Agung Damar, Zainurrahman.
Dengan begitu, tambah alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Latee tersebut, nama perpustakaan di putra dan putri berbeda beserta dengan para pustakawannya. Masing-masing kedua perpustakaan yang tetap dinaungi Agung Damar tersebut dikelola oleh 8 Pustakawan, ditambah lagi 1 Pembina.
“Selain bagian dari tradisi pesantren, pemisahan ini diharapkan bisa melahirkan persaingan positif antara putra dan putri. Sehingga, taman baca di pesantren ini kian pesat kemajuannya,” tambah Zainurrahman.
Koleksi buku Perpustakaan GM mencapai 4 ribuan, sedangkan di perpustkaan Faza masih seribuan. Dan tentu, koleksi buku tersebut pasti bertambah setiap waktu berkat semangat mengabdi para Pustakawan yang tinggi.
Di samping itu, papar Zainurrahman, pemisahan tersebut tidak lantas pisah secara utuh. Dalam artian, antara Pustakawan GM dan Faza masih bisa kerja sama.
“Dalam kedua perpustakaan ini, terdapat program kolektif dan yang tidak kolektif. Yang tidak kolektif misalnya diskusi kelompok, penerbitan majalah dinding, dan yang lainnya,” kata Zainurrahman.
Sedangkan program kerja yang bersifat kolektif, tambah mantan pemimpin redaksi majalah Hijrah Annuqayah Latee tesebut, ialah seperti pelatihan kepustakaan, dialog kepustakaan, tukar pinjam buku, dan sebagainya.
Menguatkan Perpustakaan sebagai Sumber Peradaban
Di awal penjelasannya, Anam Al-Yumna menyatakan bahwa membaca adalah wajib hukumnya bagi umat Islam. Kewajiban tersebut berpangkal dari sabda nabi bahwa mencari ilmu itu wajib hukumnya bagi seorang Muslim dan Muslimah.
“Kita wajib mencari ilmu. Ini sabda nabi. Dan ilmu itu tidak akan pernah kita raih tanpa dengan jalan belajar (membaca). Karena sumber ilmu itu adalah membaca, dan mencari ilmu hukumnya wajib, maka membaca wajib pula hukumnya,” tegas mantan ketua Lembaga Pers Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, itu.
Anam berusaha agar penjelasannya mudah dicerna oleh peserta Dialog Kepustakaan yang terdiri dari ragam pendidikan; MI, MTs, dan MA. Maka, dalam penjelasannya, sesekali Anam menguatkan penjelasan dengan bahasa Madura.
“Karena membaca hukumnya wajib, maka kita akan masuk neraka kalau meninggalkannya,” ujar Anam sembari mendekati para peserta yang berumur sekitar sepuluh tahunan.
Selain itu, Anam juga mengutip pernyataan Penyair Nasional asal Madura, KH M Faizi yang menyatakan bahwa sekolah tanpa perpustakaan, dibongkar saja.
“Sekitar 5 tahun silam (2007), pernyataan salah satu kiai Annuqayah tersebut menggema di ruangan MA 1 Annuqayah, tempat Pustakawan Annuqayah menggelar work shop kepustakaan. Sebagai salah satu peserta, saya sangat memerhatikan pernyataan tersebut. Entah puluhan peserta yang lainnya. Pastinya, kata-kata tersebut sangat bermakna bagi saya yang ketika itu belum tahu banyak tentang perpustakaan. Berpangkal dari itulah, selama 4 tahun, saya menisbahkan diri sebagai Pustakawan Annuqayah Latee yang tentu sebelumnya melalui proses melelahkan,” ungkap Anam.
Hemat Anam, pernyataan kiai M Faizi tersebut menyiratkan betapa pentingnya perpustakaan. Apalagi bila sentuhannya pada dunia pendidikan semacam sekolah. Sekolah sebagai salah satu media pendewasaan diri, tentu kurang bermakna tanpa keberadaan perpustakaan di dalamnya.
“Konkretnya, sekolah tak akan mampu melahirkan lulusan yang cerdas tanpa perpustakaan sebagai penunjang utamanya. Pada titik ini, kita harus sepakat betapa urgennya sebuah perpustakaan. Awas kalau kalian tidak sepakat,” ujar Anam tanpa melewatkan bakat humornya.
Bagi Anam, manakala ada pernyataan bahwa buku adalah jendela dunia, maka perpustakaan adalah dunia itu sendiri. Di perpustakaan, bisa ditemukan ragam pemikiran dan informasi sarat arti di dalamnya. Dan di perpustakaan pula lah pembaca mampu menguak dan melepaskan dahaga keilmuannya.
“Di perpustakaan, kita bebas melakukan jelajah dunia sesuai dengan kemauan kita. Kita bisa ‘berpetualang’ melalui dataran filsafat, sejarah, sastra, relijiusitas (keagamaan), politik, pendidikan, dan ragam ilmu pengetahuan lainnya,” ujar Anam dengan suara lantang, penuh semangat.
Perpustakaan Ideal
“Sempatkanlah sesekali diri Anda ke perpustakaan umum di Sumenep. Saat saya melakukan penelitian di Sumenep sebagai penerapan dari pelatihan investigative reporting yang digelar oleh PC PMII Sumenep, saya meluangkan waktu yang cukup berarti ke perpustakaan tersebut. Saya kecewa,” kata Anam.
Di dalamnya, tambah mantan dewan konsultan majalah Hijrah tersebut, ditemukan banyak buku tidak terurus. Tak sedikit yang nyaris rusak. Tata letaknya pun mengenaskan. Ditambah lagi Pustakawannya kurang menyenangkan. Mereka hampir tidak punya daya pikat agar pengunjung betah membaca, membaca berlama-lama.
“Dalam hal ini, saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan Perpustakaan Sumenep. Melainkan, melalui informasi ini, ada semacam refleksi untuk kemudian berujung pada pembenahan diri. Kita tak boleh meneladaninya,” tegas Anam.
Bagi Anam, perpustakaan ideal itu tidak sebatas yang berbangunan mewah dengan ribuan buku di dalamnya. Perpustakaan mewah dan kaya buku adalah penting, tapi lebih penting lagi ialah pengelolaannya yang dilakukan secara amat serius.
“Dari beberapa literatur yang pernah saya baca, saya mendapatkan cakrawala pengetahuan tentang perpustakaan ideal (Maaf, saya tak bisa melacak referensi bacaan saya tersebut karena keterbatasan waktu),” ujarnya.
Dari hasil bacaan tersebut, lanjut Anam, ada beberapa catatan penting tentang perpustakaan ideal; potret perpustakaan yang menjadi dambaan banyak orang
“Pernahkah Anda menonton film The Librarian; Quest for the Spear? Dari film tersebut, kita boleh kagum pada Barat. Terlepas dari kelemahannya, Barat telah membuktikan bahwa mereka mampu membangun peradaban melalui perpustakaan,” kata Anam.
Dari itu, papar Anam, ada beberapa syarat utama untuk menjadikan perpustakaan menjadi taman baca yang ideal.
Pertama, Sumber Daya Manusia (SDM) yang ahli dan enerjik. Tentang SDM ini bisa disiasati dengan sistem kaderisasi yang dilakukan secara serius dan berkesinambungan. Sistem tersebut bersifat elastis, lentur sesuai dengan kondisi perpustakan tersebut. Jelasnya, pemilik perpustakaan harus memiliki desain tersendiri tentang sistem kaderisasinya. Penting digarisbawahi, jangan sekali-kali merekrut seseorang yang tak peduli terhadap pentingnya membaca.
“Kedua, pengelolaan yang efektif dan efesien. Pengelolaan (manajemen) yang terkesan berbelit-belit tidak lagi laku di zaman kekinian. Dan saya cukup berbangga karena di Perpustakaan Agung Damar sedang diproses sistem perpustakaan online. Ini merupakan sebuah prestasi besar di tengah masih merebaknya manajemen perpustakaan yang dilakukan secara amat tradisional, sehingga Pembaca acap diliputi keengganan untuk ke perpustakaan,” ungkap Anam.
Ketiga, kelengkapan koleksi. Upayakan koleksi perpustakaan lengkap. Tidak perlu ada pembatasan terhadap buku yang mau dikoleksi. Misalnya ada buku yang dinilai tidak selaras dengan visi-misi sekolah/pesantren, janganlah dijauhi. Bisa dengan dibaca, didiskusikan untuk kemudian dicarikan pencerahan yang tidak berbanding terbalik dengan visi-misi sekolah/pesantren. Pembatasan terhadap bahan bacaan adalah sebuah kenistaan.
“Keempat adalah dana. Di manapun, dana (uang) menjadi hal penting dalam pengelolaan perpustakaan. Tapi perlu diingat: segalanya butuh uang, tapi uang bukanlah segalanya. Untuk menyikapi keterbatasan dana, Pustakawan bisa memperluas relasi kepustakaan dengan penerbit. Salah satu cara yang baik ialah mengadakan bazar buku dari penerbit yang dapat diajak kerja sama,” tandasnya.
Redaktur : Mukafi Niam
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Seni Berlapang Dada di Tengah Ujian Kehidupan dari Imam al-Qusyairi
2
Khutbah Jumat: Menata Hati di Tengah Zaman Penuh Fitnah
3
Khutbah Jumat: Keutamaan Melaksanakan Puasa Ayyamul Bidh
4
Tiga Peserta Meninggal, Amnesty Minta Latsarmil Pengelola Kopdes Dihentikan
5
Pengumuman Hasil Seleksi Berkas Beasiswa Al-Azhar Mesir 2026, Cek Daftar Namanya di Sini
6
Harga Barang Naik, Rakyat Menjerit: Di Mana Letak Tawakal dan Kritik Kebijakan?
Terkini
Lihat Semua