Jogjakarta, NU.Online
Negara Indonesia yang sudah merdeka 58 tahun, nampaknya baru mendapatkan satu pemimpin atau presiden yang bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat, yakni Presiden Soekarno. Setelah Soekarno wafat, seakan Indonesia tidak bisa mendapatkan pemimpin yang figurnya seperti presiden Soekarno lagi.
Krisis kepemimpinan berkepanjangan yang dialami negeri saat ini, ternyata juga mempengaruhi figur kepemimpinan negeri ini kedepan, terutama pada pemilu 2004 nanti. Oleh sebab itu masyarakat saat ini juga masih belum bisa menentukan calon presiden yang akan dipilihnya pada pemilu 2004 nanti, dengan kodisi seperti ini PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Cabang Jogja, sebagai organisasi yang sebagian besar anggotanya dari berbagai media masa, merasa perlu ikut andil dalam memilih figur seorang pemimpin demi jalannya proses demokrasi di negeri ini.
<>Karena itulah PWI, kemarin Sabtu (25/10) mengadakan seminar Lokakarya yang bertema ‘’Sikap, Pola dan Ketokohan Panglima Besar Jenderal Soedirman Dalam Perspektif Kebangsaan’’, seminar diselenggarakan di Hotel Sahid Babarsari, Jogjakarta, dalam acara diskusi ini pesertanya dihadiri dari berbagai kalangan antara lain, Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, TNI/Polri, Organisasi kepemudaan, Ormas, Parpol, Pimpinan Perguruan Tinggi, OSIS SMU BEM, dan Tokoh masyarakat yang ada dari seluruh Jogja.
Lokarya yang dihadiri puluhan peserta ini dibuka oleh Gubernur DIY Sri Sultan HB X, dalam sambutannya, Sultan mengatakan, untuk menyambut pemilu 2004 sangat perlu seminar-seminar seperti ini diadakan, karena masyarakat Indonesia khususnya Jogja, masih banyak yang belum bisa menentukan calon presiden dan calon wakil presiden pada pemilu mendatang.
Lebih lanjut, Sultan menegaskan, dengan adanya acara lokakarya ini, mengharapkan pada peserta untuk memberikan kriteri Capres dan Cawapres,yang benar-benar bisa mengayomi, melindungi, melayani, dan mensejahterakan rakyatnya.
’Kalau memilih Capres dan Cawapres harus yang benar, buat apa memilih mereka, kalau mereka hanya memikirkan perutnya sendiri, dan mengabaikan rakyatnya,’’ tegasnya.
Seminar yang diprakarsai PWI ini menghadirkan tokoh-tokoh yang tidak asing lagi bagi masyarakat Jogja, nara sumber diantaranya adalah Dr. Andi Malarangeng (pakar politik), Prof Dr Ki Supriyoko (Guru besar FKIP UST Jogja) , Ir H.M Teguh Sardiman, dan Pangdam IV/Diponegoro Jogja, acara yang berlangsung pukul 09.00 sampai 14.00 WIB ini cukup ramai, karena dari para peserta banyak yang bertanya, menariknya ada dua nara sumber (Supriyoko dan Sadirman), ada perbedaan soal nisab atau asal usul keturunan Palima besar soedirman, sehingga dalam diskusi tersebut sempat memanas. Akan tetapi diskusi tersebut mulai mendingin setelah dua nara sumber tersebut berdiskusi dan dijelaskan pada peserta diskusi.
‘’Memang kami ada perbedaan dalam penyampaian materi tadi, karena sumber yang kami terima juga berbeda, tapi sebenarnya materi yang saya sampaikanlah yang benar,’’ tegas Sadirman, guru besar UNY ini. Setelah berembuk dengan Supriyoko. (kd-Jgj/Mar)
Terpopuler
1
Ancam Ekosistem Pertembakauan, Lesbumi PBNU Tolak Rancangan Aturan Kemenko PMK dan Kemenkes soal Tembakau
2
Kapten Timnas Iran Kritik FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 'Bencana' dan Berjalan Tidak Adil
3
Pemerintah Tetapkan Logo Resmi HUT ke-81 RI, Ini Makna Desain dan Cara Unduhnya
4
DPR Desak Latsarmil Calon Manajer Kopdes Dihapus, Negara Bisa Hemat Lebih dari Rp1 Triliun
5
Hari Bhayangkara Ke-80, Presiden Prabowo Klaim Polri Berkontribusi pada Ketahanan Pangan dan MBG
6
BMKG Prediksi El Nino Berlangsung hingga Setahun, Wilayah Selatan Berpotensi Dilanda Kekeringan
Terkini
Lihat Semua