Petani Keluhkan Irigasi Minim dan Harga Hortikultura Tak Menentu saat Kemarau
NU Online · Kamis, 2 Juli 2026 | 17:30 WIB
Ayu Lestari
Kontributor
Rembang, NU Online
Musim kemarau mulai berdampak pada aktivitas pertanian di sejumlah wilayah. Selain menyebabkan lahan cepat mengering, keterbatasan akses air untuk irigasi turut menurunkan produktivitas tanaman dan meningkatkan biaya produksi yang harus ditanggung petani.
Petani cabai dan padi asal Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Mardi Setyawan, mengatakan musim kemarau pada awal Juli sangat memengaruhi kondisi lahan pertanian. Menurutnya, tanah menjadi lebih cepat kering dan mulai retak. Sementara itu, petani yang tidak memiliki akses irigasi maupun pompa air menghadapi kondisi yang semakin sulit.
"Kami sebagai petani mengalami kondisi yang sangat memprihatinkan ketika tidak memiliki akses irigasi atau pompa air. Itu menjadi persoalan yang sangat berat," ujar Iwan, sapaan akrabnya, kepada NU Online, Rabu (1/7/2026).
Ia menjelaskan, selama musim kemarau petani harus mengairi lahan hampir setiap hari agar tanaman tetap bertahan. Untuk komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang merah, penyiraman bahkan dapat berlangsung hingga dua hari dua malam demi menjaga kelembapan tanah. Di sisi lain, debit air yang tersedia terus menurun.
"Kalau airnya kurang, sekitar pukul 08.00 atau 08.30 WIB daunnya sudah layu," tambahnya.
Menurut Iwan, tanaman padi juga terdampak, terutama saat memasuki fase pengisian bulir. Kekurangan air menyebabkan bulir padi tidak terisi secara optimal sehingga hasil panen menurun.
"Kalau pengairannya tidak bagus, bulir padi tidak bisa terisi secara menyeluruh," katanya.
Akibat kondisi tersebut, hasil panen turun cukup signifikan. Produksi padi yang pada kondisi normal dapat mencapai 6–8 ton per hektare kini hanya berkisar 3-4 ton.
"Kerugiannya sangat terasa. Kalau bulir padi tidak terisi optimal, otomatis petani merugi. Biasanya satu hektare bisa menghasilkan 6 sampai 8 ton, saat kemarau hanya sekitar 3 sampai 4 ton," ungkapnya.
Untuk mempertahankan tanaman, petani memanfaatkan sumur dengan mengatur jadwal pengairan agar tanah tidak terlalu kering. Namun, apabila harus membeli air, biaya operasional meningkat cukup besar.
"Kalau beli air, per jamnya Rp25 ribu. Tetapi untuk mengairi setengah areal dengan pipa pralon ukuran dua dim selama dua hari dua malam pun masih belum cukup," tuturnya.
Iwan menambahkan, akses air antarwilayah juga tidak merata. Sebagian petani memiliki saluran irigasi, sedangkan sebagian lainnya hanya mengandalkan pompa air yang jumlahnya terbatas.
Ia juga mengatakan embung yang ada mulai mengering karena hanya berfungsi sebagai tempat penampungan sementara.
"Kalau hanya membuat embung untuk mengairi lahan setengah hektare juga belum cukup. Yang penting bagaimana air yang ada bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin," ujarnya.
Menurut Iwan, hingga kini bantuan yang benar-benar menyentuh kebutuhan irigasi petani masih sangat terbatas. Di wilayah Kedungtuban, misalnya, petani berinisiatif membangun pompa air secara swadaya.
"Bantuan untuk distribusi irigasi belum ada secara signifikan. Di wilayah kami, petani justru berinisiatif sendiri membuat pompa air," katanya.
Karena itu, ia berharap pemerintah memperkuat infrastruktur irigasi melalui pembangunan pompa berkapasitas besar dan jaringan kanal yang terintegrasi antardesa.
"Pemerintah harus hadir dengan membangun pompa besar dan kanal-kanal irigasi yang terintegrasi antardesa. Itulah yang paling dibutuhkan petani," ujarnya.
Selain persoalan irigasi, Iwan juga menyoroti ketidakstabilan harga komoditas hortikultura. Menurutnya, berbeda dengan padi dan jagung yang memiliki acuan harga pemerintah, harga cabai dan bawang merah sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar.
Ia menilai adanya harga acuan atau kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga akan memberikan kepastian bagi petani untuk memperoleh keuntungan yang layak.
"Kalau ada ketentuan harga acuan, misalnya cabai rawit Rp40 ribu per kilogram atau cabai merah besar Rp35 ribu, dalam kondisi apa pun petani masih bisa memperoleh keuntungan," ujarnya.
Saat ini, lanjutnya, harga cabai merah hanya sekitar Rp15 ribu per kilogram. Kondisi tersebut dinilai tidak sebanding dengan tingginya biaya produksi yang harus dikeluarkan petani, mulai dari pembelian air, pupuk, hingga kebutuhan budidaya lainnya.
Meski demikian, Iwan meyakini minat generasi muda terhadap sektor pertanian akan meningkat apabila harga komoditas hortikultura lebih terjamin.
"Kalau harga hortikultura lebih terjamin, anak-anak muda yang sebelumnya tidak tertarik bertani pasti akan mulai melirik sektor pertanian," paparnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Iwan menegaskan para petani tetap berupaya bertahan. Menurutnya, berbagai kesulitan yang dihadapi petani tidak sepenuhnya disebabkan faktor alam, tetapi juga berkaitan dengan kebijakan yang dinilai belum berpihak kepada sektor pertanian.
"Penderitaan petani bukan takdir, melainkan akibat kebijakan yang belum berpihak kepada petani," pungkasnya.
Terpopuler
1
Ancam Ekosistem Pertembakauan, Lesbumi PBNU Tolak Rancangan Aturan Kemenko PMK dan Kemenkes soal Tembakau
2
Kapten Timnas Iran Kritik FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 'Bencana' dan Berjalan Tidak Adil
3
Pemerintah Tetapkan Logo Resmi HUT ke-81 RI, Ini Makna Desain dan Cara Unduhnya
4
DPR Desak Latsarmil Calon Manajer Kopdes Dihapus, Negara Bisa Hemat Lebih dari Rp1 Triliun
5
Hari Bhayangkara Ke-80, Presiden Prabowo Klaim Polri Berkontribusi pada Ketahanan Pangan dan MBG
6
BMKG Prediksi El Nino Berlangsung hingga Setahun, Wilayah Selatan Berpotensi Dilanda Kekeringan
Terkini
Lihat Semua