Daerah

Tata Kemandirian dari Pinggiran Tambakberas, Ikhtiar H AR Jauharuddin Bangun Ponpes Al-Ghazali 2 Bahrul Ulum

NU Online  ·  Rabu, 2 September 2026 | 13:00 WIB

Tata Kemandirian dari Pinggiran Tambakberas, Ikhtiar H AR Jauharuddin Bangun Ponpes Al-Ghazali 2 Bahrul Ulum

Masyarakat saat berkegiatan di Pesantren Al-Ghazali 2 Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur. (Foto: istimewa)

Jombang, NU Online

 

Tidak semua pesantren lahir dari sebuah rencana besar yang telah disusun jauh-jauh hari. Sebagian justru tumbuh dari tuntutan keadaan, dorongan lingkungan, dan keinginan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

 

Hal itu pula yang menjadi awal pendirian Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ghazali 2 Bahrul Ulum di Bakalan, Tampingmojo, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

 

Dirintis sejak 2020, pesantren yang berada tidak jauh dari Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas tersebut diasuh oleh H AR Jauharuddin Alfatih (Gus Ruddin). Jaraknya hanya sekitar dua kilometer dari kawasan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.

 

Ia mengaku awalnya tidak memiliki rencana untuk membangun pesantren di luar kawasan Tambakberas. Namun, sejumlah teman dan masyarakat mendorongnya untuk memperluas ruang pengabdian agar keberadaan pesantren tidak hanya dirasakan di lingkungan Tambakberas.

 

"Saya di Al-Ghazali 2 Bahrul Ulum ini sebenarnya bukan rencana pribadi, tapi tuntutan situasi lingkungan dan teman-teman yang menginginkan saya meluaskan posisi, melebarkan posisi," katanya di kepada NU Online Pondok Pesantren Al-Ghazali 2 Bahrul Ulum di Bakalan, Tampingmojo, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur pada Selasa (1/9/2026).

 

Ia kemudian menjadikan tempat tersebut sebagai semacam rumah kedua. Namun, rumah kedua itu tidak semata-mata diperuntukkan bagi kepentingan pribadi. Ia ingin tempat tersebut menjadi ruang bersama bagi masyarakat sekitar.

 

"Ini second home, second house. Saya bikin untuk kegiatan kemasyarakatan terutama," katanya.

 

Dari tarbiah ke pengabdian masyarakat

 

Gus Ruddin mengungkapkan, jika aktivitas di lingkungan Tambakberas lebih banyak diarahkan pada tarbiah, Al-Ghazali 2 Bahrul Ulum memiliki karakter yang berbeda. Di tempat tersebut, ia ingin membangun pesantren yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan.

 

Menurutnya, masyarakat di wilayah rural tidak hanya membutuhkan pendidikan keagamaan secara formal. Mereka juga membutuhkan ruang kebersamaan, pendampingan, dan upaya merawat kultur keagamaan yang telah hidup di tengah masyarakat.

 

"Jadi, masyarakat rural ini juga butuh ditemani dan diberikan kebersamaan waktu untuk hal-hal merawat kultur keagamaan," jelasnya.

 

Ia mengungkapkan, konsep tersebut kemudian memengaruhi karakter santri yang tinggal di dalamnya. Berbeda dengan pesantren yang banyak dihuni santri usia sekolah, Al-Ghazali 2 Bahrul Ulum secara khusus lebih banyak menerima santri mahasiswa.

 

Bukan tanpa alasan, Gus Ruddin ingin para mahasiswa tidak berhenti pada pembelajaran akademik di kampus. Mereka juga diharapkan memiliki pengalaman langsung berinteraksi dengan masyarakat dan mengambil bagian dalam aktivitas keagamaan.

 

Gus Ruddin mendorong para santri untuk terlibat menjadi pengurus kegiatan, membantu aktivitas masjid, hingga tampil dalam kegiatan keagamaan. Pada hari Jumat, misalnya, mereka dapat mengambil peran sebagai bilal. 

 

"Terus kami juga kirim anak-anak yang cukup punya kemampuan jadi imam di masjid agak jauh lagi," katanya.

 

Dengan cara itu, pesantren tidak menjadi ruang yang terpisah dari masyarakat. Sebaliknya, santri justru ditempatkan sedekat mungkin dengan realitas kehidupan warga.

 

"Kami dekatkan mereka dengan situasi real masyarakat makanya kami ambil santri yang mahasiswa," ujarnya.

 

Bagi Gus Ruddin, pendidikan pesantren tidak cukup hanya membekali santri dengan kemampuan berbicara dan menulis. Santri juga perlu memiliki keterampilan praktis dan mampu bekerja bersama masyarakat.

 

Gus Ruddin berharap agar santri memiliki tiga kemampuan, yakni bisa memegang mikrofon, pulpen, dan cangkul. Mikrofon untuk berdakwah dan berkomunikasi, pulpen untuk belajar, serta cangkul untuk dekat dengan kehidupan masyarakat.

 

"Karena di sini kami bersama-sama juga belajar terjun ke sawah. Ini juga sama-sama, bareng-bareng jadi tempat belajarnya," jelasnya.

 

Setelah terjadi rangkaian duka, Gus Ruddin merasa perlu melakukan sesuatu yang baru, sekaligus melanjutkan nilai perjuangan yang telah diwariskan oleh orang tua dan para pendahulunya. Ia menyebut proses tersebut sebagai upaya untuk "merestart" dirinya. 

 

Menurutnya, menjadi bagian dari keluarga pesantren bukan berarti hanya menerima warisan yang telah ada, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk membuat rintisan baru sesuai kebutuhan zaman dan masyarakat.

 

"Bagaimana perjuangan itu dilakukan oleh almarhum orang tua dan pendahulu bahwa dirintisan inilah sebenarnya nilai-nilai perjuangan itu bisa dirasakan," katanya.

Kru NU Online bersama pengasuh PP Al Ghozali 2 H AR Jauharuddin Alfatih usai liputan Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, Selasa (1/9/2026).
 

Kemandirian

 

Selain pendidikan dan kegiatan kemasyarakatan, Gus Ruddin menyebut bahwa kemandirian ekonomi menjadi salah satu gagasan penting yang ingin dibangun di Al-Ghazali 2 Bahrul Ulum. Ia memandang, pesantren idealnya mampu membiayai perjalanan dan aktivitasnya sendiri. 

 

"Mengenai ekonomi pesantren bahwa kemandirian itu adalah cita-cita. Kalau bisa pesantren itu mandiri, dia bisa membiayai perjalanannya sendiri," jelasnya.

 

Pesantren tersebut memiliki lahan yang luasnya hampir satu hektare yang kemudian mulai dimanfaatkan sebagai ruang untuk mengembangkan pertanian. Gus Ruddin memilih untuk terlebih dahulu memahami pola pertanian masyarakat sekitar yang masih cenderung konvensional.

 

Menurutnya, salah satu tantangan yang ditemui adalah kebiasaan masyarakat yang sudah sangat terbiasa menggunakan jenis bibit tertentu.

 

"Contoh begini, kalau lagi tanam padi, mereka taunya bibit padi maunya cuma dua, kalau enggak IR64 (Primadona Rasa), IR32 (Si Tangguh)," jabarnya.

 

"Saya eksplorasi bibit itu ternyata banyak. Saya coba datangkan bibit, saya kasih gratis. Saya coba tanam, nggak mau. Oh masyarakat sini masih konservatif," sambungnya.

 

Ia ingin para santri memiliki wawasan pertanian yang lebih inovatif dan tidak berhenti pada pola yang selama ini berjalan.

 

Ke depan, Gus Ruddin memiliki visi yang lebih besar untuk lahan pesantren tersebut. Ia ingin mengembangkan sistem ekonomi yang mengintegrasikan pertanian, peternakan, dan perikanan.

 

Di sektor pertanian, ia membayangkan adanya greenhouse yang dapat menjadi tempat pengembangan berbagai komoditas dengan pendekatan yang lebih modern. Sementara pada sektor peternakan, ia tertarik mengembangkan ayam petelur dengan sistem yang lebih terukur, termasuk menghasilkan telur dengan kualitas tertentu. 

 

"Saya ingin ada ayam yang petelor, yang didesain berapa hari sudah menghasilkan sekian banyak telur dan kualitasnya itu bukan telur biasa, ada yang sampai omega 3. Saya sedang pelajari itu," katanya.

 

Menurutnya, integrasi berbagai sektor tersebut dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang saling mendukung. Hasil pertanian, peternakan, dan perikanan dapat dikembangkan secara bersama-sama sehingga tidak berdiri sendiri.

 

"Tentu kami ini juga dalam rangka untuk pilot project. Menjadi pilot project masyarakat baru untuk saya, masyarakat baru saya di sini ini untuk bareng-bareng bergerak ke arah ekonomi yang lebih baik," katanya.

 

Pesantren sebagai sentra keagamaan dan ekonomi masyarakat

 

Bagi Gus Ruddin, masa depan Al-Ghazali 2 Bahrul Ulum tidak semata-mata diukur dari seberapa besar bangunan pesantren atau seberapa banyak jumlah santri yang dimiliki. Ukuran keberhasilannya justru terletak pada sejauh mana pesantren dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

 

"Baik filosofi pesantren, secara ekstrem saya itu sempat terbayang, ini bukan milik pribadi, jadi bumi ini dipercayakan kepada saya hari ini, mungkin akan berlalu dan ganti orang nanti," jelasnya.

 

Selama masih diberikan waktu dan kesempatan, ia ingin menggunakan amanah tersebut untuk membangun sesuatu yang dapat terus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

 

"Maka saya di sini memungkinkan diberi waktu, kesempatan ini saya ingin menjadi sentrum kegiatan-kegiatan keagamaan masyarakat dan juga ekonomi masyarakat kira-kira begitu," terangnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang