Klaten, NU Online
Pola penyebaran Islam di masa Wali Songo berjalan, salah satunya karena dengan model akulturasi dengan budaya lokal. Dengan cara tersebut, justru banyak masyarakat yang simpati dan kemudian memeluk Islam.
<>
Model dakwah di atas menandakan, Wali Songo paham akan medan dakwah. Mereka juga tahu bagaimana cara yang efektif untuk memasukkan Islam, dengan pemahaman yang minim dari masyarakat terhadap Islam saat itu.
“Sebagai seorang pendidik harus bisa memahami tingkat pemikiran pendengarnya. Jadi cara mendidiknya juga dengan cara berbeda,” terang KH Ahmad Muwafiq, pada sebuah acara pengajian di Masjid Pesantren Al-Manshur Popongan Tegalgondo Wonosari Klaten, belum lama ini (27/10).
Kiai asal Lamongan tersebut mencontohkan ada di zaman sekarang, ada beberapa ulama yang menggunakan media musik, wayang, lagu pop religi, tembang Jawa sebagai alat untuk menyampaikan Islam. “Jadi cara apapun tidak masalah, yang penting tetap pada syariat,” tuturnya.
Menurutnya, sebagai seorang pendidik umat, ketika memberikan peringatan kepada umat ada baiknya dengan menggunakan cerita hikmah dan nasehat baik. “Tidak secara langsung melarang, menggunakan (vonis) bid'ah, masuk neraka,” imbuhnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Spirit Muharram untuk Menghadapi Era Modern
2
Usulan LF PBNU Atasi Perbedaan Awal Bulan Hijriah di Tengah Kesepakatan Imkanur Rukyah
3
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nguri-uri Kamulyaning Wulan Muharram
4
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah, Jangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
5
Khutbah Jumat: Tetap Membaca Al-Qur’an di Tengah Kesibukan Hidup
6
Khutbah Jumat: Mari Tingkatkan Kualitas dari Ibadah Personal Menuju Kepedulian Sosial
Terkini
Lihat Semua