Mempersoalkan Durasi Pendidikan Pesantren
Jakarta, NU.OnlineKetika gagasan pengembangan dan pembaruan pesantren dilakukan pada pertengahan 1980-an, beberapa persoalan penting pesantren ditinjau, sejak dari kurikulum, sistem pengajaran dan penjenjangan sampai durasi (jangka waktu) pendidikan. Selama ini pendidikan pesantren dinilai kurang efisien, sebab untuk menguasai suatu ilmu seseorang harus belajar sampai tua, ubanan, bahkan kemudian menjadi santri kelana yang mencari ilmu dari satu pesantren kepesantren lain, dalam kurun waktu yang cukup lama. Memang konsep thuluz zamani (durasi lama) merupakan prasyarat keberhasilan seseorang untuk menguasai keilmuan. Bahkan banyak di antaranya yang terlambat kawin, atau terus belajar padahal anaknya sudah besar, setelah merasa cukup atau karena dijemput orang tua atau mertuanya baru mereka pulang.
Lain lagi kisah KH Mudjib Ridwan Surabaya yang dikenal sebagai tokoh pencipta simbol NU, dia ini seorang santri kelana tulen, tidak ada pesantren penting di Jawa yang belum didatangi untuk meguru, apalagi pesantren besar seperti Tebuireng, Lirboyo, Langitan semua sudah dijamah. Namun suatu ketika ia kena batunya, ketika nyantri di pesantren Bangkalan pimpinan Kiai Khalil yang terkenal sangat ma’rifat. Mujib muda memang sudah lama nyantri di pesantren itu, yang sebenarnya hanya untuk menyepuh (mematangkan) ilmu.
Senin, 21 Juli 2003 | 12:11 WIB