Fragmen

Pembalasan Tentara pada Parpol

Hubungan dan interaksi antara saya sebagai petugas di Bagian Khusus Kabinet Perdana Menteri dengan KH Idham Chalid yang pada waktu itu Waperdam II lebih bersifat personal dan bukan fungsional. Namun oleh para Nahdliyin, saya sering dianggap sebagai ajudan beliau, padahal sekretarisnya adalah Arifien Wignyodiharjo yang penempatannya diatur oleh Biro Keamanan Kabinet PM yang lebih pantas sebagai ajudan beliau dan bukan saya. Dari sini lah kontak dengan pak Idham dan juga NU menjadi intensif. Berbagai hubungan dan juga kisah berkaitan dengan orang NU terjadi. Walau sebetulnya secara structural saya tidak ada hubungan dengan mereka. Kedekatan ini mungkin saja merupakan sumbangan saya. Tetapi secara umum saya memang banyak menjalin hubungan dengan orang-orang NU dengan berbagai tipenya. Ada beberapa hubungan kedekatan itu yang masih saya ingat antara lain: Usulan pencalonan KH Yusuf Hasyim untuk jadi anggota Dewan Nasional yang merupakan sebagian dari konsepsi Presiden soekarno. Saat itu setelah dibebaskan dari menjalani hukuman penjaradengan grasi Presiden Soekarno atas usaha Idham Chalid, KH Yusuf Hasyim pernah dianggap melakukan desersi dan pemberontakan melawan pemerintah (insubordinasi) berbarengan dengan waktu pecahnya pemberontakan Batalion 426 Diponegoro di bawah Kapten Sofyan keduanya dari Laskar Hizbullah, masing-masing dari Jatim (Munasir) dan Batalion 426 dari karesidenan Surakarta, Jawa Tengah.

Kamis, 5 Februari 2004 | 13:56 WIB