UNICEF: 340 Anak Tewas di Gaza meski Gencatan Senjata Berlangsung Setahun
NU Online · Sabtu, 17 Oktober 2026 | 15:30 WIB
London, NU Online
Lebih dari 340 anak di Jalur Gaza dilaporkan tewas dan ratusan lainnya terluka sejak kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas diumumkan pada 10 Oktober 2025. Hal tersebut disampaikan Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) pada Jumat (16/10/2026).
Juru Bicara UNICEF Ricardo Pires mengatakan, angka-angka tersebut tidak menggambarkan kenyataan yang dialami keluarga Palestina yang kehilangan anak-anak mereka akibat konflik.
“Bagi keluarga yang berduka karena kehilangan anak-anak mereka, statistik mengerikan itu tidak bisa disamakan dengan gencatan senjata,” ujar Pires kepada wartawan di Jenewa.
Ia menjelaskan, dalam dua pekan terakhir saja, sedikitnya lima anak laki-laki dan dua anak perempuan dilaporkan tewas. Selain itu, sedikitnya 33 anak mengalami luka serius akibat serangan udara, serangan pesawat nirawak, dan tembakan di berbagai wilayah Gaza. Dua anak laki-laki lainnya meninggal akibat luka yang diderita sebelumnya.
Pires menegaskan bahwa dampak perang memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan anak-anak di Gaza, mulai dari tempat mereka tidur dan makanan yang tersedia hingga kesempatan untuk memperoleh pendidikan.
Ratusan Ribu Anak Masih Mengungsi
Menurut UNICEF, sekitar 800.000 anak masih mengungsi akibat konflik. Sebagian besar dari mereka tinggal di tenda atau bangunan rusak yang membahayakan keselamatan.
UNICEF juga memperkirakan sekitar 60.000 anak kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka selama perang maupun sejak gencatan senjata diumumkan. Hampir seluruh anak di Gaza membutuhkan dukungan kesehatan mental dalam berbagai bentuk.
Pires mencontohkan kondisi seorang remaja berusia 16 tahun bernama Norhan. Ibunya ditembak ketika sedang hamil delapan bulan. Sang ibu kemudian melahirkan Norhan, tetapi meninggal dunia sehari setelah persalinan.
Dengan ayah yang hidup dengan disabilitas, Norhan kini merawat adik perempuannya, Narjis, yang berusia satu tahun. Ia memasak, membersihkan rumah, dan menemani adiknya bermain. Norhan juga membantu tiga saudara lainnya belajar setelah mereka pulang dari pusat pembelajaran yang didukung UNICEF.
Kisah tersebut menggambarkan beratnya tanggung jawab yang harus ditanggung anak-anak di tengah konflik berkepanjangan, bahkan ketika mereka sendiri masih membutuhkan perlindungan dan pendampingan.
UNICEF Desak Bantuan Kemanusiaan Terus Mengalir
Pires memperingatkan bahwa pemulihan kehidupan anak-anak di Gaza sangat bergantung pada kelancaran dan kesinambungan masuknya bantuan kemanusiaan serta barang-barang kebutuhan komersial.
Menanggapi laporan mengenai penghentian kerja sama sejumlah pedagang swasta di Gaza dengan otoritas Israel untuk memasukkan pasokan pangan komersial, Pires mengingatkan kondisi di Kota Gaza sebelum gencatan senjata diumumkan. Saat itu, pasokan yang masuk sangat terbatas hingga para ahli ketahanan pangan yang didukung PBB menyatakan wilayah tersebut mengalami kelaparan.
“Kita tidak bisa kembali ke situasi ketika anak-anak dan keluarga tidak mendapatkan seluruh pasokan, barang, dan layanan yang mereka butuhkan,” tegasnya.
Kekhawatiran tersebut meningkat seiring turunnya suhu udara dan mendekatnya musim hujan. Keluarga-keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat perang harus menghadapi kondisi pengungsian yang semakin berat.
Sebagian warga bahkan menggunakan karung tepung kosong yang diisi pasir untuk menghalangi air hujan masuk ke tenda mereka. Sementara itu, kerusakan jaringan drainase akibat bombardemen Israel meningkatkan risiko meluapnya air limbah ke kawasan permukiman.
Ancaman Banjir Air Tercemar Limbah
Pires mengatakan, salah satu titik yang menjadi perhatian mendesak adalah kolam penampungan air hujan Sheikh Radwan, yang dilaporkan telah terisi hingga setengah kapasitasnya.
“Dengan hujan musim dingin yang segera tiba, waktu kita untuk memompa air dari kolam ini semakin terbatas,” ujarnya.
UNICEF khawatir air yang tercemar limbah dapat meluap dari kolam tersebut dan membanjiri permukiman di sekitarnya. Kondisi itu berpotensi menimbulkan ancaman serius terhadap keselamatan anak-anak dan keluarga mereka.
Pires mengingatkan bahwa anak-anak sebelumnya pernah meninggal akibat tenggelam di air yang tercemar limbah.
“Anak-anak pernah tenggelam di air yang tercemar limbah sebelumnya,” katanya.
Karena itu, UNICEF menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar, dukungan psikososial, tempat tinggal yang aman, serta akses terhadap bantuan kemanusiaan. Langkah-langkah tersebut diperlukan agar anak-anak Gaza tidak terus menanggung dampak konflik berkepanjangan.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Bahaya Dengki terhadap Keluarga dan Tetangga
2
Berikut Daftar Wakil Rais Aam PBNU Periode 2026-2031 Beserta Bidangnya
3
Prabowo Lantik Empat Wakil Menteri, Kepala BNPB, dan Pimpinan Badan Pengelola Gambut
4
Gus Ipul: Jangan Campuradukkan Muktamar NU dengan Persoalan Lain
5
Khutbah Jumat: Pentingnya Membantu Korban Kebakaran Hutan dan Lahan
6
Judi Online, Racun Keharmonisan Keluarga dan Kesehatan Mental
Terkini
Lihat Semua