Jateng

NU Peduli Jateng Tingkatkan Kapasitas Relawan untuk Penanggulangan Bencana

NU Online  ·  Ahad, 26 Juli 2026 | 07:00 WIB

NU Peduli Jateng Tingkatkan Kapasitas Relawan untuk Penanggulangan Bencana

Kegiatan Peningkatan Kapasitas Relawan NU Peduli se-Jawa Tengah di Bumi Perkemahan (Buper) Harda Walika Gunungpati (Foto: Lukman Hakim)

Semarang, NU Online Jateng 

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah melalui NU Peduli menggelar kegiatan Peningkatan Kapasitas Relawan NU Peduli se-Jawa Tengah di Bumi Perkemahan (Buper) Harda Walika, Kelurahan Jatirejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jumat (24/7/2026). 

 

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan relawan dalam menghadapi berbagai ancaman bencana melalui penguatan kapasitas, kolaborasi, dan pengabdian kemanusiaan.

 

Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan, Wakil Katib Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Hudallah, serta pengurus Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PBNU Sobirin.

 

Dalam materinya, Bergas Catursasi Penanggungan menekankan pentingnya membangun ketangguhan masyarakat agar mampu menghadapi bencana secara mandiri.

 

“Kalau kebencanaan menjadi kekhawatiran, sekarang jadikan situasi ini agar tidak mengkhawatirkan,” ujarnya.

 

Menurutnya Bergas, rasa takut dalam menghadapi bencana akan berkurang ketika masyarakat memiliki kebersamaan dan solidaritas yang kuat.

 

“Jika bencana menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan, jangan cemas dan takut. Kebersamaan teman-teman relawan menjadi sebuah kekuatan. Kalau pemikiran masih sendiri-sendiri pasti takut menghadapi bencana,” katanya.

 

Ia mengingatkan bahwa masyarakat tidak boleh hanya bersikap pasrah ketika menghadapi ancaman bencana.

 

“Jika mindset kita menjadi sesuatu yang pasrah maka kita menjadi korban. Saya harap ini dikomunikasikan oleh NU Peduli, bagaimana membangun masyarakat yang tangguh menghadapi ancaman dengan cara mengidentifikasi ancaman tersebut,” tuturnya.

 

Bergas menegaskan bahwa keselamatan dalam menghadapi bencana sejatinya bermula dari kesiapan individu dan komunitas.

 

“Keselamatan dari bencana bukan hadir dari orang lain, tapi dari diri sendiri atau komunitas kita seperti NU Peduli ini,” tegasnya.

 

Ia juga menjelaskan pembagian penanganan korban bencana berdasarkan klaster. Menurutnya, korban dibagi menjadi tiga kelompok, yakni korban yang masih hidup, korban yang membutuhkan penanganan medis, dan korban meninggal dunia.

 

Sementara itu, Wakil Katib Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Hudallah mengajak para relawan memaknai pengabdian kemanusiaan sebagai bentuk khidmah kepada Rasulullah SAW.

 

Ia mengawali penyampaiannya dengan mengisahkan kerinduan Rasulullah kepada umatnya yang belum pernah bertemu secara langsung.

 

“Menjadi relawan NU Peduli Jawa Tengah bukan berkhidmah kepada siapa-siapa, tapi berkhidmah kepada Rasulullah, yaitu memuliakan umatnya,” ujarnya.

 

Menurutnya, menjaga kelestarian alam juga merupakan bagian dari ajaran Islam yang harus terus dijaga.

 

“Kita harus menghindari hal-hal yang merusak keharmonisan alam ini. Bencana hadir itu ulahnya manusia sebagai peringatan dari Allah. Musibah adalah bentuk kasih sayang Allah karena akan diangkat dosanya bagi yang bersabar, dan bencana juga menjadi pembelajaran bagi manusia untuk belajar,” katanya.

 

Penyampaian selanjutnya, Pengurus LPBI PBNU Sobirin menegaskan bahwa NU Peduli merupakan wadah bersama seluruh unsur Nahdlatul Ulama dalam menjalankan misi sosial dan kebencanaan.

 

“Mari kita solid kalau ada warga kita yang sedang membutuhkan bantuan, apalagi ini adalah relawan NU Peduli. Jadi harus peduli. NU Peduli adalah payung sosial dari NU. Ada LPBI, Bagana, LAZISNU, LKKNU, LTM, LP Ma’arif, Fatayat, dan berbagai unsur di NU. Kita berhimpun di bawah bendera NU Peduli,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan bahwa penanggulangan bencana membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, hingga masyarakat.

 

“Konsep kebencanaan NU adalah kerja sama berbagai entitas. Pemerintah, akademisi, pelaku usaha atau donatur, media, dan masyarakat harus bergerak bersama,” katanya.

 

Selengkapnya klik di sini.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang