Jateng

Ribuan Orang Iringi Pemakaman KH Amdjad Al Hafidz di Kompleks Pemakaman Keluarga Besar Unwahas

NU Online  ·  Kamis, 5 November 2026 | 06:00 WIB

Ribuan Orang Iringi Pemakaman KH Amdjad Al Hafidz di Kompleks Pemakaman Keluarga Besar Unwahas

Suasana tahlil dan doa bersama untuk KH Amdjad Al Hafidz di Computer Based Test (CBT) Fakultas Kedokteran Unwahas (Foto: NU Online Jateng/Ahmad Rifqi Hidayat)

Semarang, NU Online

Sejak malam hingga sore ini, rombongan demi rombongan datang bertakziah ke kediaman pengarang nadzam Asmaul Husna, KH Amdjad Al Hafidz di Perumahan BPD 3 Tlogomulyo, Pedurungan Kota Semarang, Jawa Tengah. Mereka menyalati dan mendoakan secara bergantian. 

 

Sekira pukul 09.00 WIB, almarhum Kiai Amdjad dibawa ke Masjid Agung Jawa Tengah untuk dishalati, kemudian iringan pelayat membawanya ke komplek pemakaman keluarga besar Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) di kompleks Kampus 2 Unwahas yang ada di Kecamatan Gunungpati, Semarang, Rabu (4/11/2026).

 

Sebelum dimakamkan, jenazah dishalati untuk ke sekian kalinya di kompleks Fakultas Kedokteran Unwahas. Nampak hadir sejumlah tokoh dan sesepuh NU di area pemakaman. Mereka turut mengiringi dengan doa.

 

Makam Khusus 

Ketua Yayasan Wahid Hasyim, Prof Noor Achmad mengatakan kepada NU Online Jateng, kompleks makam tersebut memang permintaan dari sejumlah tokoh Unwahas. Namun wacana tersebut baru terealisasi hari ini.

 

"Jadi ini memang sengaja kita jadikan sebagai maqbaroh karena permintaan dari banyak pihak, dari para pendiri, pengurus yayasan, dan para tokoh. Semuanya minta di Wahid Hasyim ada maqbaroh," kata dia seusai jenazah KH Amjad Al Hafidz dikebumikan.

 

Wacana untuk membuat area makam khusus bagi orang-orang yang berjasa bagi Yayasan Wahid Hasyim terus bergulir hingga kini baru terlaksana.

 

"Kemarin begitu ada kabar beliau wafat, kita langsung mencari tempat yang mana, kita ada tempat yang cukup bagus, di sini cukup luas, insyaallah kami sediakan dari sini sampai ke sana," jelasnya sambil menunjuk area kompleks pemakaman.

 

Noor Achmad menyebut, area tersebut cukup untuk peristirahatan terakhir orang-orang yang memiliki kualifikasi layak dimakamkan di pemakaman keluarga besar Unwahas.

 

"Memang maqbaroh ini tidak untuk umum, tapi khusus untuk keluarga besar Unwahas. Yang bisa masuk di sini nanti ada kualifikasinya walaupun kami tidak membatasi, karena kalau semuanya ke sini juga nanti tidak cukup," terangnya.

 

Noor Achmad yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah ini juga mengiyakan terkait prospek kedepan Pesantren Luhur Wahid Hasyim yang ada di kampus 1 ikut bergeser ke kampus 2.

 

"Kami sudah menyediakan pesantren di sana. Ini (kampus 2) kan seharusnya ada juga, kami juga akan buat pesantren," bebernya.

 

Terkait pengasuh Majelis Mujahadah Asmaul Husna yang sudah menyebar di hampir sebagian negara di Asia, Noor Achmad mengatakan tetap dilanjutkan oleh sala satu putra KH Amdjad Al Hafidz yakni Hamid Sakti Wibowo.

 

"Tadi sudah kami umumkan, kami tetap menjadi perlindung, tapi yang meneruskan itu putranya yang namanya Gus Hamid, Hamid Sakti," jelasnya.

 

Profil KH Amdjad Al-Hafidz

KH Amdjad Al-Hafidz lahir di Wonokromo, Yogyakarta, 13 April 1948. Selain menjadi pengasuh Mujahadah Asmaul Husna, ia merupakan salah satu pendiri dan pengasuh Pesantren Luhur Wahid Hasyim dan dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Unwahas.

 

Sebagai dosen yang mengampu bimbingan belajar baca dan tulis Al-Qur'an. Ia tidak banyak mengajarkan tentang teori mengajar. Namun lebih menekankan agar para mahasiswa memiliki kemampuan untuk melafalkan huruf hijaiyah dengan baik an benar. Bahkan, ia menekankan bacaan surat Alfatihah dengan mentashih setiap mahasiswa.

 

Untuk kepentingan tashih, ia bisa menghabiskan beberapa kali pertemuan, sementara untuk teori metode mengajar hanya butuh waktu sekali atau dua kali pertemuan. Karena baginya, mahasiswa Wahid Hasyim harus memiliki kelayakan dalam menjadi imam shalat. Jangan sampai alumni Unwahas mendapat kritik saat menjadi imam shalat karena bacaan Al-Quran yang kurang fasih. 

 

Amjad pertama kali mengkhatamkan hafalan Al-Qur'an dari Kiai Cholid Harun, Segorosoyo, Bantul Yogyakarta. Ia melanjutkan mencari berkah di Pesantren Al-Munawir Krapyak Yogyakarta. Di sana, ia berguru kepada KH Achmad Munawir, AH dan KH Mufid Mas'ud, AH. 

 

Tak berhenti di Yogyakarta, Amjad melanjutkan pendidikan Al-Qur'an dengan KH Muhammad Mu'in, AH di Wotprau Semarang Tengah. Kemudian berguru lagi kepada KH Abdullah Umar, AH dan KH Turmudzi Taslim, AH di Kauman Semarang Tengah.

 

Sebelum menjadi Dosen Unwahas, ia aktif mengikuti Majlis Mudarosah Khatmil Qur'an. Sebuah majlis pengajian khataman Al-Qur'an yang dimotori para alumni santri KH Abdullah Umar, AH.

 

Ia juga tercatat sebagai Penasehat Pimpinan Wilayah (PW) Jam'iyyatul Qurra' wal-Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Jateng masa khidmat 2026-2031, Rais Majlis Ilmi PW JQHNU Jateng 2021-2026, Ketua 2 pada tahun 2016-2021.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang