3 Dosa Besar dalam Dunia Pendidikan Dampak Kemajuan Teknologi
NU Online · Selasa, 16 Agustus 2022 | 08:30 WIB
Ilustrasi: Perundungan menjadi salah satu dampak dan dosa besar dalam bidang pendidikan karena kemajuan teknologi.
Syarif Abdurrahman
Kontributor
Grobogan, NU Online
Anggota Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif Nahdlatul Ulama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Esti Purnawinarni menjelaskan tiga dosa besar dalam dunia pendidikan sebagai dampak kemajuan teknologi dan harus dihindari.
"Ada tiga dosa besar dalam dunia pendidikan dampak dari kemajuan teknologi digital dalam bidang pendidikan. Pertama, perundungan; kedua, kekerasan seksual; dan ketiga. intoleransi," jelasnya saat mengisi acara 'Literasi Digital Sarana Belajar Generasi Z' di Pondok Pesantren As-Salam Grobogan, Jawa Tengah, Senin (15/8/2022).
Menurutnya, tiga dosa besar ini sudah marak terjadi di lingkungan pendidikan. Ketiga dosa ini semakin berpotensi terjadi dan hampir semua kasus terjadi dengan pemicu utamanya media sosial.
Di media sosial seseorang bebas komentar dan meniru gaya hidup individu dari berbagai latar belakang, sehingga peran orang tua dan guru sebagai pengontrol agar tidak kebablasan sangat penting. "Kita sama-sama prihatin, banyak sekali kejadian bullying dan kekerasan seksual melalui digital," imbuh Esti.
Dikatakan, terbaru ada seorang bocah umur 11 tahun di Tasikmalaya meninggal dunia akibat depresi di-bully setubuhi kucing. Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) mengidentifikasi pelaku berjumlah empat orang.
"Beberapa kasus membuat kita harus mencari formula agar tidak terjadi dampak negatif. Tujuan pendidikan adalah pembentukan manusia mampu," tegasnya.
Baginya, karena generasi muda saat ini adalah penduduk digital. Pendidikan harus jadi kendali generasi digital agar tidak melenceng. Pendidikan memiliki peran penting dalam laju teknologi ini.
Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk dapat mengarahkan kemajuan teknologi, pendidikan merdeka, profil pelajar pancasila dan peningkatan relevansi pendidikan.
"Generasi saat ini tidak bisa lepas dari internet. Ini kalau tidak ada yang memantau dan mendampingi maka bisa bahaya. Pendidikan akhlak harus diajarkan dengan contoh langsung," ungkap Esti.
Hal serupa disampaikan anggota Komisi D DPRD Grobogan Mansata Indah Maratona. Menurutnya ciri khas generasi saat ini tidak bisa lepas dari hanphone.
Google jadi rujukan dalam setiap kegiatan, terbiasa dengan teknologi, dari bangun tidur hingga tidur lagi. Kemajuan teknologi menghapus jarak, waktu, tembok, hampir tidak bisa dibedakan antara komentar seorang profesor dengan komentar anak lulusan sekolah dasar.
Guru perlu mengajarkan kepada siswanya untuk tidak hanya membaca di internet, tapi mampu menyaring dan mengambil manfaat.
"Generasi muda saat ini lebih mudah menyerap ilmu lewat internet, guru harus tanggap akan perubahan teknologi agar bisa mengimbangi perkembangan anak," tandasnya.
Kontributor: Syarif Abdurrahman
Editor: Kendi Setiawan
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Gubernur BI Siapkan Dua Langkah Penguatan
3
Imbas Rupiah Melemah, Menkeu Sebut Pedagang Tahu dan Tempe Mulai Tertekan
4
Kasus Suap Izin Tinggal WNA, Citra Indonesia Tercoreng di Mata Dunia
5
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
6
Kiai Azaim Harap Kekerasan di Pesantren Masuk Materi Munas-Konbes hingga Muktamar ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua