Internasional

Piala Dunia 2026 Selesai: Ciptakan Sejarah, Kontroversi, dan Transformasi Sepak Bola Global

NU Online  ·  Selasa, 21 Juli 2026 | 17:00 WIB

Piala Dunia 2026 Selesai: Ciptakan Sejarah, Kontroversi, dan Transformasi Sepak Bola Global

Timnas Spanyol juara Piala Dunia 2026. (Foto: instagram FIFA World Cup)

Jakarta, NU Online

Piala Dunia FIFA 2026 berakhir dengan keberhasilan Spanyol mengakhiri penantian 16 tahun untuk kembali menjadi juara dunia setelah mengalahkan juara bertahan Argentina 1-0 pada partai final. Namun, edisi perdana yang diikuti 48 tim itu dikenang bukan hanya karena prestasi di lapangan, melainkan juga berbagai kontroversi yang mengiringinya.


Turnamen yang digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menghadirkan banyak catatan sejarah baru dikutip dari Anadolu. Di sisi lain, ajang ini juga memunculkan perdebatan mengenai kebijakan visa, dugaan intervensi politik, rasisme, penggunaan Video Assistant Referee (VAR), hingga tata kelola FIFA.


Spanyol kembali ke puncak dunia

Keberhasilan Spanyol menandai lahirnya generasi baru yang mampu memadukan permainan penguasaan bola khas La Roja dengan kecepatan serta efektivitas serangan.


Lamine Yamal menjadi salah satu bintang utama turnamen. Bersama para pemain muda lainnya yang didukung sejumlah pemain senior, Spanyol menyingkirkan Austria, Portugal, Belgia, dan Prancis sebelum menaklukkan Argentina di partai final. Gelar tersebut menjadi trofi Piala Dunia kedua bagi Spanyol setelah sukses menjuarai edisi 2010 di Afrika Selatan.


Di sisi lain, Argentina gagal mempertahankan gelar yang diraih pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Lionel Messi pun gagal membawa Albiceleste menjadi negara pertama sejak Brasil pada 1962 yang mampu mempertahankan gelar juara dunia.


Sementara itu, Cristiano Ronaldo kembali mencatat sejarah sebagai pemain putra pertama yang mencetak gol dalam enam edisi Piala Dunia berbeda. Turnamen ini diperkirakan menjadi penampilan terakhir Ronaldo dan Messi di panggung Piala Dunia.


Format 48 tim lahirkan kejutan

Perluasan peserta dari 32 menjadi 48 tim menjadi perubahan terbesar dalam sejarah Piala Dunia dalam hampir tiga dekade terakhir.


Meski sempat dikhawatirkan menghadirkan banyak pertandingan yang timpang, sejumlah negara debutan justru mencuri perhatian. Tanjung Verde (Cape Verde) berhasil lolos ke fase gugur pada penampilan perdananya di Piala Dunia.


Negara-negara seperti Curaçao, Yordania, Uzbekistan, dan Republik Demokratik Kongo juga memperoleh panggung internasional yang lebih luas.


Maroko kembali tampil impresif dengan menembus perempat final setelah menyingkirkan Belanda melalui adu penalti dan mengalahkan tuan rumah Kanada.


Namun, format baru tersebut juga menambah jumlah pertandingan menjadi 104 laga serta menghadirkan babak 32 besar, sehingga meningkatkan beban fisik dan logistik bagi pemain, suporter, maupun kota penyelenggara.


Kebijakan visa menuai kritik

Di tengah kampanye FIFA yang menyebut Piala Dunia 2026 sebagai turnamen paling inklusif, kebijakan imigrasi Amerika Serikat justru menjadi sorotan.


Sejumlah suporter maupun personel sepak bola dari berbagai negara dilaporkan mengalami keterlambatan, ketidakpastian, bahkan penolakan visa. Pendukung dari Maroko, Mesir, Yordania, Irak, Uzbekistan, Iran, Haiti, Senegal, dan Pantai Gading termasuk di antaranya.

 

Ofisial dan pemain Timnas Iran terdampak penerbitan visa yang tersendat. Setelah visa terbit pun, pemain Timnas Iran tidak diperbolehkan tinggal di AS sehingga harus mengorbankan kondisi fisik pemain untuk memilih tinggal di Meksiko. Hal itu dampak dari perang Iran dengan AS-Israel yang hingga kini belum mereda.


Wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, juga gagal bertugas meski telah mengantongi visa yang sah. Pemerintah Amerika Serikat menyebut keputusan tersebut berkaitan dengan alasan keamanan nasional, sementara sejumlah organisasi hak asasi manusia menilai FIFA gagal membela prinsip inklusivitas yang selama ini dikampanyekan.


Rasisme terhadap Mbappé

Turnamen ini juga diwarnai kontroversi rasisme yang menimpa kapten Prancis, Kylian Mbappé.


Usai Prancis mengalahkan Paraguay, Senator Paraguay Celeste Amarilla mengunggah pernyataan bernada rasialis yang menyinggung latar belakang keluarga dan identitas Mbappé.


Federasi Sepak Bola Prancis kemudian mengajukan pengaduan, sementara jaksa di Paris membuka penyelidikan atas dugaan ujaran kebencian bermotif rasial.


Kontroversi serupa muncul menjelang semifinal Spanyol melawan Prancis ketika mantan Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy menyatakan bahwa Prancis memiliki tim yang kuat, tetapi "tidak memiliki pemain Prancis". Pernyataan tersebut dinilai mempertanyakan identitas para pemain Prancis keturunan Afrika dan imigran.


FIFA mencatat lebih dari 89 ribu unggahan media sosial bernada kasar selama fase grup. Sekitar 11 persen di antaranya mengandung unsur rasisme.


Dugaan intervensi politik

Salah satu kontroversi terbesar terjadi ketika FIFA menangguhkan hukuman larangan satu pertandingan bagi penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun.


Balogun sebelumnya menerima kartu merah saat menghadapi Bosnia dan Herzegovina. Namun, FIFA kemudian membekukan hukuman otomatis tersebut sehingga ia tetap dapat tampil melawan Belgia.


Keputusan itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku telah berbicara dengan Presiden FIFA Gianni Infantino dan meminta peninjauan ulang atas kartu merah tersebut.

 

Federasi Sepak Bola Belgia memprotes keputusan itu dan menilai proses disipliner telah dipengaruhi faktor politik. Sejumlah politisi Eropa bahkan mendesak penyelidikan independen karena kasus tersebut dinilai mencederai integritas sepak bola internasional.


VAR kembali diperdebatkan

Teknologi Video Assistant Referee (VAR) kembali menjadi sumber polemik sepanjang turnamen.


Laga Argentina melawan Mesir pada babak 16 besar menjadi salah satu yang paling disorot. Mesir memprotes dianulirnya gol Mostafa Zico serta tidak diberikannya penalti dalam situasi yang dianggap krusial.


Berbagai keputusan VAR pada fase gugur juga memunculkan kritik mengenai konsistensi penerapan aturan, standar intervensi, serta minimnya transparansi kepada penonton di stadion.


Meski FIFA terus mempertahankan penggunaan VAR sebagai alat untuk mengoreksi kesalahan nyata wasit, banyak pihak menilai penerapannya masih belum konsisten.


Politik masuk ke stadion

Piala Dunia 2026 juga berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia.


Partisipasi Iran menjadi perhatian setelah konflik di Timur Tengah memengaruhi pengaturan keamanan, perjalanan tim, hingga distribusi visa.


FIFA juga melarang atribut yang berkaitan dengan Kepulauan Falkland dalam semifinal Argentina melawan Inggris. Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk mencegah provokasi politik, tetapi memicu perdebatan mengenai batas antara ekspresi nasional dan pesan politik dalam olahraga.


Harga tiket dan komersialisasi

Harga tiket menjadi sasaran kritik para pendukung. Selain harga resmi yang tinggi, biaya perjalanan dan akomodasi di tiga negara tuan rumah juga dinilai memberatkan.


Bek Inggris Marc Guehi bahkan menyebut kebijakan harga tiket sebagai sesuatu yang "tidak masuk akal" setelah banyak kursi stadion kosong meski harga tiket mencapai ratusan poundsterling.

 

Tiket premium partai final dilaporkan menembus puluhan ribu dolar Amerika Serikat di pasar resmi maupun penjualan kembali.


Turnamen ini juga memperlihatkan semakin kuatnya unsur hiburan ala olahraga Amerika Serikat.


Pertunjukan prapertandingan diperluas, aktivasi sponsor semakin dominan, dan untuk pertama kalinya final Piala Dunia menghadirkan konser jeda babak pertama yang menampilkan Madonna, Justin Bieber, BTS, Shakira, Burna Boy, Gustavo Dudamel, PS22 Chorus bersama Chris Martin dari Coldplay, hingga karakter The Muppets.


Sebagian pihak memuji inovasi tersebut sebagai upaya menarik penonton baru. Namun, tidak sedikit yang menilai komersialisasi yang berlebihan mulai menggeser tradisi sepak bola dan menjauhkan turnamen dari para suporter yang selama ini menjadi denyut utama Piala Dunia.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang