Nasional

528 KK Mualaf di Pulau Buru, Dibina Sepasang Suami-Istri di Antara Sumur-Sumur yang Mati

NU Online  ·  Selasa, 29 September 2026 | 22:00 WIB

528 KK Mualaf di Pulau Buru, Dibina Sepasang Suami-Istri di Antara Sumur-Sumur yang Mati

Pembangunan Rumah Singgah Muallaf Pulau Buru, Maluku terhenti karena kendala pendanaan (NU Online Institute)

Buru, NU Online

Di Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, ada seorang kiai yang mendampingi 528 kepala keluarga mualaf. Mereka tersebar dalam satu kabupaten. Ia mendampingi mereka hanya bersama sang istri.

 

Namanya Kiai Fawzan Abdurrahman. Ia adalah pendiri Mualaf Center di Pulau Buru, lembaga yang ia rintis pribadi, tanpa afiliasi organisasi apa pun, tanpa donatur tetap. "Kalau untuk operasional atau finansial, saya dengan istri saya yang menjalankan," tuturnya dalam rapat koordinasi daring bersama NU Online Institute, Senin (28/9/2026).

 

Sang istri berasal dari keluarga mualaf, dan warga asli. Dari titik itu, jaringan silaturahim tumbuh hingga hari ini melahirkan angka 528 KK yang harus dijaga imannya.

 

Setiap Jumat sore hingga Senin pagi, Kiai Fawzan meninggalkan Namlea untuk mendatangi titik-titik binaan mualaf. Pekan ini di satu kampung, pekan berikut di kampung lain: bergiliran, karena tidak mungkin dijangkau semuanya sekaligus.

 

Titik terdekat, Desa Wabloi, berjarak sekitar 54 kilometer dari Namlea; ditempuh satu sampai satu setengah jam berkendara. Titik terjauh: tujuh jam perjalanan naik-turun gunung. itu pun kalau kendaraan memungkinkan. Dulu, santri-santri Gus Rijal Mumazziq dari Universitas As Sunniyyah Salafiyah, Jember yang bernama Ustaz Zulfam dan Ustadz Lutfi pernah ditempatkan di titik yang cukup jauh dari tempat ia berada, yaitu sejauh 75 kilometer.

 

"Kalau ini alhamdulillah medannya enak, jalan rata. Sampai di Unit 16, daerah transmigrasi, itu masih aspal. Dari Unit 16 ke lokasi, jalan sawah, lewat tengah-tengah sawah," kata Kiai Fawzan menggambarkan medan menuju Wabloi.

 

Hal yang berat bagi Kiai Fawzan justru sekarang yaitu ketika istrinya sedang sakit. Selama ini, sang istrilah yang menemani perjalanan panjang itu. "Istri ikut. Sekarang ini enggak. Selama istri sakit ini enggak bisa ikut. Jadi saya sendirian bermalam di sana," ujarnya.

 

Krisis Air yang Melumpuhkan Kabupaten
Pulau Buru sedang dilanda krisis air yang berat. Dua sumur milik PDAM Kabupaten Buru mati total; tinggal satu sumur untuk melayani seluruh kota, dengan sistem giliran enam hari sekali.

 

Di Wabloi, tidak ada penjual air tangki sama sekali. Warga terbiasa punya sumur sendiri, tetapi sumur-sumur itu kini kering. Yang menjual air tangki hanya ada di Namlea, di kota. Harga air 1.600 liter di Namlea sekitar Rp 75.000, cukup untuk empat hari pemakaian sederhana. Jaringan PDAM sendiri belum sampai ke rumah Kiai Fawzan.

 

Satu hal yang lebih membikin Kiai Fawzan pilu adalah dua sumur peninggalan dakwah juga mati. Sumur yang dibangun Gus Rijal pada 2025, satu-satunya fasilitas publik peninggalan NU di Pulau Buru, kini tidak lagi mengeluarkan air. Sumur yang dibangun sendiri oleh Kiai Fawzan di sekitar Masjid Wabloi bernasib sama.
Solusi darurat yang ia terapkan: memanfaatkan bekas kolam ikan berterpal miliknya sebagai penampungan air wudu.

 

"Warga ambil air minum juga di sumur saya yang saya bor. Tetangga yang belum punya sumur ambil dari saya, nyambung pakai selang," katanya.

 

Nikah Massal Lima Pasang Bulan November 2026
Di tengah keterbatasan itu, dakwah tidak berhenti. Kiai Fawzan sedang mempersiapkan nikah massal lima pasang mualaf untuk dilaksanakan November 2026 nanti. Mereka rata-rata sudah berkeluarga sebelum masuk Islam, sebagian sudah punya anak.

 

Kiai Fawzan tengah berkomunikasi dengan Pengadilan Agama untuk sidang isbat nikah, serta Kementerian Agama untuk pencatatan resmi. Ini bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan lewat satu-dua kali kunjungan; ia menuntut kesabaran Kiai Fawzan.

 

Selain itu, ia juga merintis pembangunan rumah singgah mualaf di Namlea. Baru fondasi. "Terkendala ujian di keluarga saya, sehingga belum terealisasi," ujarnya.

 

Kegiatan konsultasi mualaf hampir setiap hari berlangsung. Kadang di rumah, kadang lewat WhatsApp bagi mualaf di titik yang terlalu jauh untuk didatangi. Soal-soal yang mendesak—seperti pengislaman baru atau ritus sunatan—Kiai Fawzan datang langsung.

 

Dai Penggerak 3T NU Online Institute
Sejak awal Agustus 2026, NU Online Institute bekerja sama dengan JPZIS NU Online menempatkan dua dai Angkatan I di Pulau Buru: Ustadz Wildan dan Ustaz Yafi. Semula, keduanya diarahkan ke titik Wabloi. Namun karena krisis air, keduanya sementara bertugas di Namlea.

 

Meski demikian, mereka telah terlibat dalam banyak kegiatan strategis berupa kegiatan membantu di Masjid Darul Muttaqin mulai azan, imam, hingga mengajar ngaji anak-anak sekitar. Mendampingi Kiai Fawzan pada beberapa prosesi ikrar syahadat bersama para mualaf, mendampingi prosesi sunatan mualaf, hadir di berbagai kegiatan jamiyah seperti maulid dan konsultasi rutin.

 

"Untuk khusus terkait dakwah mualaf, mereka berdua sudah beraktivitas walaupun tidak di titik lokasi yang ditentukan," kata Kiai Fawzan.

 

Belum Tersambung
Salah satu yang mengejutkan dari cerita Kiai Fawzan adalah betapa dakwahnya berjalan sendiri. MUI Kabupaten Buru belum terbentuk; struktur PCNU setempat, menurut penuturannya belum mampun mengkaver pergerakan dakwah secara masif. Medan yang luas dan terjal menjadi salah satu tantangannya, belum lagi soal aspek finansial untuk kelancaran program. Di Maluku, NU Care-LAZISNU baru terbentuk di tingkat wilayah. Dukungan Baznas selama ini masih bersifat parsial: santunan ketika ada kegiatan tertentu.

 

Dua sepeda motor operasional besar milik dia pribadi, satu unit KLX Trail dan Megapro peninggalan penugasan dai sebelumnya, kini ngendon di bengkel. Biaya perbaikan yang diajukan Rp3,6 juta dan Rp1,8 juta. Total Rp5,4 juta untuk mengembalikan mobilitas dakwah yang menjangkau titik-titik terjauh.

 

Kabupaten Buru, dalam peta pikiran banyak orang, mungkin hanya nama yang lewat di berita cuaca. Tetapi di sana, ada seorang kiai yang menyimpan 528 nama di hatinya, 528 kepala keluarga yang baru saja belajar mengucap dua kalimat syahadat, yang butuh dijaga agar iman itu tidak goyah oleh keras kehidupan.

 

Ia menjalaninya bersama istri, yang kini sedang sakit. Ia berjalan bersama santri-santri kiriman NU Online Institute, yang tidak berhenti membantu meski titik penempatan belum ideal. Dan ia meneruskan warisan almarhum Gus Rizal yang sumurnya kini kering, tetapi jejak dakwahnya masih hidup.

 

«مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ»

 

"Barangsiapa meringankan satu kesulitan seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan satu kesulitannya di hari kiamat. (HR. Muslim, dari Abu Hurairah r.a.)

 

Dakwah di ujung Maluku ini bukan cerita satu orang. Ia adalah cerita tentang bagaimana Nahdlatul Ulama harus hadir bahkan di titik di mana strukturnya sendiri belum sempat berdiri. Kiai Fawzan Abdurrahman menunggu, bukan hanya simpati, tetapi ikhtiar bersama.

 

Catatan Redaksi: Penugasan Dai NU Online Institute di Pulau Buru, Maluku, merupakan wujud nyata khidmat jamiyah Nahdlatul Ulama yang dikerjakan oleh NU Online Institute bersama JPZIS NU Online untuk menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah ke pulau-pulau terluar Indonesia.

 

Program ini didukung oleh dana infak atau donasi yang dihimpun melalui NU Online Super App. Bagi masyarakat yang ingin berkontribusi, silakan klik https://filantropi.nu.or.id/galang-dana/mari-hadirkan-dai-penggerak-di-pelosok-nusantara.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang