Nasional

Alissa Wahid Dorong Peran Aktif Jaringan Psikolog Nahdliyin Tangani Isu Kesehatan Mental

NU Online  ·  Ahad, 11 Oktober 2026 | 18:00 WIB

Alissa Wahid Dorong Peran Aktif Jaringan Psikolog Nahdliyin Tangani Isu Kesehatan Mental

Ilustrasi kesehatan mental. (Foto: NU Online)

Yogyakarta, NU Online

Psikolog Keluarga sekaligus Direktur Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid mendorong Jaringan Psikolog Nahdliyin (JPN) untuk mengambil peran aktif dan memperbesar khidmahnya dalam menangani isu kesehatan mental yang semakin kompleks di Indonesia, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).


​Hal tersebut disampaikan Alissa dalam sebuah arahan kegiatan Launching Jaringan Psikolog Nahdliyin Yogyakarta pada Sabtu (10/10/2026).


Ia menyambut baik inisiatif pembentukan Jaringan Psikolog Nahdliyin sebagai langkah strategis dalam menjawab tantangan sosial dan psikologis masa kini.


​"Saya senang sekali Jaringan Psikolog Nahdliyin mengambil isu kesehatan mental ini sebagai salah satu tema utama untuk mulai kita merancang langkah khidmat kita di lingkungan Nahdlatul Ulama," ujar Alissa.


​Menurut Alissa, perubahan pesat di era digital, dinamika geopolitik, ketidakpastian ekonomi, hingga maraknya perundungan (bullying) dan kekerasan di ruang pendidikan turut memberikan tekanan berat pada mental anak muda dan keluarga.


​Ia mengingatkan bahwa risiko gangguan kesehatan mental dan kekerasan tersebut juga dapat dirasakan oleh keluarga serta lembaga pendidikan di lingkungan NU.


​"Tantangan kekerasan di lembaga pendidikan tidak hanya terjadi di sekolah umum, tetapi sekolah-sekolah NU dan pesantren-pesantren NU tentu saja juga menyimpan risiko yang sama. Masalah kesehatan mental ini juga dirasakan oleh keluarga-keluarga Nahdliyin," jelasnya.


​Oleh karena itu, Alissa menekankan pentingnya kehadiran psikolog Nahdliyin untuk memberikan perlindungan serta pendampingan bagi para santri, siswa, dan orang tua.

​
Jaringan Psikolog Nahdliyin diharapkan mengonsolidasikan diri dan merumuskan langkah konkret yang disesuaikan dengan ekosistem NU, baik di pesantren, sekolah, maupun lingkungan keluarga.


​"Penting sekali bagi Jaringan Psikolog Nahdliyin untuk mengonsolidasikan diri, menata langkah, dan terutama menyiapkan pendekatan-pendekatan khas NU untuk bisa memperbesar khidmatnya di lingkungan lembaga pendidikan, keluarga, maupun pesantren," imbuhnya.


Sebelumnya, bertepatan dengan hari mental sedunia, sejumlah praktisi psikologi dan akademisi Daerah Istimewa Yogyakarta meluncurkan Jaringan Psikologi Nahdliyin (JPN) di kantor DPD RI Yogyakarta Sabtu (10/10/2026).


Ketua Jaringan Psikologi Nahdliyin (JPN) Maya Fitria menyampaikan JPN secara kelembagaan tergolong baru dan saat ini belum dilegalkan secara formal. Soft launching JPN sebelumnya telah dilaksanakan bertepatan dengan Muktamar ke-35 NU di Jombang.


"Gagasan pembentukan JPN sebenarnya telah berkembang sejak masa pandemi Covid-19 sekitar empat tahun yang lalu,”ungkap Maya.


Menurutnya, terbentuknya JPN ini berangkat dari keprihatinan terhadap kebutuhan pesantren akan pendekatan psikologi dalam menangani berbagai persoalan psikologis, JPN kemudian tumbuh sebagai komunitas keilmuan. 


"JPN ini sebagai bentuk khidmah kepada masyarakat melalui keilmuan psikologi," tuturnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang