Muhammad Syakir NF
Penulis
Jakarta, NU Online
Akhir Agustus 2023 akan terjadi fenomena langit yang dikenal dengan istilah blue moon. Istilah ini tidak berarti bulan berubah menjadi warna biru.
Wakil Sekretaris Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) Ma'rufin Sudibyo menjelaskan bahwa blue moon adalah istilah tidak baku untuk purnama kedua dalam satu bulan Masehi.
"Blue moon merupakan istilah milenial bagi dua peristiwa bulan purnama yang terjadi berturut-turut dalam satu bulan Miladiyah (Masehi) yang sama," katanya kepada NU Online pada Ahad (27/8/2023).
Hal tersebut memungkinkan terjadi, mengingat bulan purnama terjadi dalam setiap 29,5 hari sekali (rata-rata). Sementara satu bulan Miladiyah bisa berumur 30 atau 31 hari (kecuali Februari).
"Maka bilamana suatu bulan purnama terjadi di awal Miladiyah (mislanya pada tanggal 1 atau 2), maka Bulan purnama berikutnya akan terjadi di akhir bulan Miladiyah tersebut (tanggal 30 atau 31)," ujarnya.
"Bulan purnama terakhir dari bulan purnama ganda inilah yang disebut blue moon," imbuh Ma'rufin.
Dalam data falakiyah dari Lembaga Falakiyah PBNU berdasarkan produk penyerasian metode falak 2022 silam, maka bulan purnama untuk Safar 1445 H terjadi pada Kamis 14 Safar yang bertepatan dengan 31 Agustus 2023 M pukul 09:37 WIB.
Sementara bulan di titik perigee diperhitungkan akan terjadi pada malam Kamis, 14 Safar 1445 H pukul 22:52 WIB (30 Agustus 2023 M) saat bulan berjarak hanya 357.000 km dari bumi.
"Terjadi 11,5 jam lebih awal dari purnamanya. Sehingga bulan purnama Safar 1445 berkualifikasi sebagai Bulan purnama perigean (supermoon).
Disebut supermoon karena jaraknya yang dekat dengan bumi sehingga bulan tampak lebih besar dari biasanya. "Supermoon juga merupakan istilah milenial, diperuntukkan bagi bulan purnama yang terjadi hampir bersamaan dengan jarak terdekat bulan ke bumi (perige)," katanya.
Ma'rufin menjelaskan bahwa bulan mengelilingi bumi dalam orbitnya yang lonjong (bujur telur) dengan nilai kelonjongan sebesar 1/18 atau empat kali relatif lebih lonjong dibanding orbit bumi (dalam mengelilingi matahari). Maka Dalam orbit bulan pun terdapat titik terdekat ke bumi (titik perigee) dan titik terjauh ke bumi (titik apogee).
"Bilamana bulan sedang menempati titik terdekat ke bumi pada saat bulan purnama, maka terjadilah fenomena bulan purnama perigean. Atau dikenal juga sebagai supermoon," pungkasnya.
Terpopuler
1
Mengenal Enam A’wan PBNU 2026-2031 dari Kalangan Guru Besar dan Rektor Perguruan Tinggi
2
Khutbah Jumat: Keutamaan Mendoakan Keluarga yang Sudah Meninggal pada Hari Jumat
3
Khutbah Jumat: Sedekah Jumat Berkah, Menghidupkan Hari Mulia dengan Kebaikan
4
Khutbah Jumat: Menjaga Diri dari Maksiat Digital di Era Media Sosial
5
PBNU Sosialisasikan AD/ART Baru, Konferensi PWNU, PCNU, dan PCINU Dimulai 1 November 2026
6
Khutbah Jumat: Peran Masyarakat, Pemerintah dan Keluarga dalam Menciptakan Lingkungan Bebas Perundungan
Terkini
Lihat Semua