Nasional

Asap Karhutla Ancam Kesehatan Ibu dan Janin, Perlindungan Kelompok Rentan Tak Boleh Terabaikan

NU Online  ·  Ahad, 1 November 2026 | 22:00 WIB

Asap Karhutla Ancam Kesehatan Ibu dan Janin, Perlindungan Kelompok Rentan Tak Boleh Terabaikan

Ilustrasi (NU Online/AI Generated)

Jakarta, NU Online

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan. Ibu hamil dan janin menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian karena berisiko terdampak polusi udara akibat asap kebakaran.

 

Dosen Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) Suryane Sulistiana Susanti mengatakan, perlindungan ibu hamil dan janin harus menjadi bagian dari respons kesehatan terhadap krisis lingkungan dan perubahan iklim. Menurutnya, dampak asap karhutla tidak hanya berupa gangguan pernapasan jangka pendek.

 

“Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan polusi udara perlu diwaspadai karena dapat mengganggu kesehatan ibu dan dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur serta berat badan lahir yang rendah,” ujarnya dalam keterangan yang diterima NU Online, Ahad (1/11/2026).

 

Ia menjelaskan, paparan polusi udara selama kehamilan juga dapat memicu peradangan dan stres oksidatif. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi fungsi plasenta serta lingkungan tempat janin berkembang.

 

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Sulistiana mendorong pemerintah daerah, puskesmas, tenaga kesehatan, dan kader Posyandu di wilayah rawan karhutla agar memperkuat edukasi serta kesiapsiagaan kesehatan ibu dan anak.

 

“Upaya tersebut meliputi pemantauan kualitas udara, identifikasi ibu hamil yang membutuhkan dukungan khusus, edukasi mengenai pengurangan paparan, hingga pencatatan riwayat paparan dan keluhan yang relevan dalam pelayanan antenatal,” ucapnya.

 

Pada tingkat individu, ibu hamil dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menjaga udara dalam ruangan tetap bersih, serta mengikuti peringatan resmi dari otoritas terkait.

 

“Apabila harus beraktivitas di luar ruangan saat udara berasap, penggunaan respirator N95 atau yang setara dengan ukuran yang sesuai dapat membantu mengurangi paparan partikel,” ucapnya.

 

Sulistiana juga mengingatkan ibu hamil yang mengalami sesak napas, nyeri dada, atau keluhan yang semakin memburuk agar segera mencari pertolongan medis.

 

“Kita perlu melihat karhutla bukan hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai risiko kesehatan yang membutuhkan respons lintas sektor. Perlindungan ibu hamil dan janin harus menjadi bagian dari kesiapsiagaan bencana dan pelayanan kesehatan yang tangguh terhadap perubahan iklim,” tegasnya.

 

Dalam perspektif planetary health, kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan lingkungan dan ekosistem. Karena itu, perlindungan ibu dan anak perlu berjalan beriringan dengan pencegahan kebakaran, pengendalian pencemaran udara, penguatan pelayanan kesehatan, serta kebijakan yang berpihak pada kelompok rentan.

 

“Melindungi ibu dan janin dari dampak asap karhutla merupakan investasi kesehatan jangka panjang. Risiko kesehatan akibat perubahan iklim perlu menjadi perhatian bersama, mulai dari keluarga dan masyarakat hingga tenaga kesehatan dan pengambil kebijakan,” pungkas Sulistiana.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang