Banyak Air, Minim Tata Kelola: Ancaman Krisis Mengintai Indonesia
NU Online · Senin, 4 Mei 2026 | 18:30 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Indonesia menghadapi tantangan serius dalam mengelola sumber daya air di tengah ancaman perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan tingginya kebutuhan sektor pertanian.
Utusan Khusus PBB untuk Urusan Air Retno Marsudi menyampaikan bahwa kekayaan air di Indonesia melimpah, tetapi minim tata kelola berpotensi memicu krisis di masa depan. Ia menambahkan bahwa air merupakan fondasi utama kehidupan yang harus dijaga secara berkelanjutan.
“Air bukan sekadar sumber daya, melainkan fondasi kehidupan dan peradaban,” ujarnya dalam Seminar Water Impact Week Festival di Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, Jakarta pada Senin (4/5/2026).
Menurutnya, menjaga kelestarian hutan dan pohon menjadi langkah mutlak untuk mempertahankan siklus air. Selain itu, perlindungan ekosistem pesisir seperti mangrove juga tidak bisa diabaikan, mengingat perannya sebagai benteng alami bagi wilayah laut Indonesia.
Retno juga menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur penampungan air di darat, seperti danau dan waduk, guna mengantisipasi ketimpangan antara musim hujan dan kemarau.
Baca Juga
Adab Buang Air Menurut Imam Al-Ghazali
“Pengelolaan air yang terencana, berkelanjutan, dan berbasis kolaborasi menjadi semakin penting agar generasi mendatang tidak mengalami krisis air bersih,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Eksekutif Kemitraan Air Indonesia-Belanda Arie Setiadi Moerwanto mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki ekosistem mangrove yang luas dan menjadi kekuatan strategis yang belum dimanfaatkan secara optimal.
“Indonesia memiliki 17 ribu pulau-pulau kecil yang tentu mangrovenya juga sangat luas,” ujarnya.
Menurutnya, pengelolaan mangrove tidak hanya berdampak nasional, tetapi juga dapat memberi kontribusi bagi negara lain.
Arie mencontohkan di daerah Kota Semarang, pendekatan berbasis alam mulai diterapkan melalui penanaman mangrove di kawasan pesisir.
“Mangrove dapat menyerap energi gelombang sebelum gelombang menghantam laut kita,” tuturnya.
Ia menilai tantangan utama terletak pada belum terintegrasinya pengelolaan air secara menyeluruh. Pendekatan sektoral yang terpisah, menurut Arie dapat menghambat efektivitas kebijakan di lapangan.
Lebih jauh, Arie mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen penggunaan air di Indonesia masih terserap untuk sektor pertanian. Kondisi ini menunjukkan perlunya efisiensi dan inovasi teknologi agar penggunaan air dapat ditekan tanpa mengganggu produksi pangan.
“Jika kita bisa menurunkan konsumsi air untuk pertanian, kita bisa menghemat air untuk kebutuhan air minum,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa memasuki musim kemarau, perlunya pembenahan tata kelola air di daerah-daerah.
“Tanpa strategi terpadu yang menghubungkan aspek lingkungan, pangan, dan teknologi, Indonesia dapat berisiko menghadapi krisis air yang berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat,” ujar Arie.
Terpopuler
1
Ngantor Perdana, Gus Kikin Mulai Siapkan Susunan Kepengurusan PBNU 2026-2031
2
Gus Kikin Kunjungi Pojok Gus Dur pada Momen Perdana Ngantor di PBNU
3
Anggota Banser Wafat Selepas Tugas di Muktamar, Ketum GP Ansor Takziah dan Beri Santunan
4
Gus Kikin Sebut NU Dukung Program Pemerintah, Fokus pada Pembangunan Manusia
5
Menakar Kapasitas Al-Albani dalam Ilmu Hadits: Benarkah Layak Disebut Muhaddits?
6
PCNU Jombang Harapkan PBNU Masa Khidmah 2026-2031 Prioritaskan Program Keumatan
Terkini
Lihat Semua