Nasional

Cerita Dai Penggerak 3T: Tentang Nana, Buku dan Rasa Ingin Tahu yang Tinggi

NU Online  ·  Senin, 14 September 2026 | 06:00 WIB

Cerita Dai Penggerak 3T: Tentang Nana, Buku dan Rasa Ingin Tahu yang Tinggi

Para santri Nurul Jadid, Singkut, Jambi, mengikuti pembelajaran awal September 2026 (NU Online Institute)

Menjalankan tugas sebagai dai Penggerak Daerah 3T di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Singkut, Jambi, membuat kami tidak hanya berhadapan dengan kegiatan keagamaan. Di sela-sela padatnya aktivitas pesantren, ada banyak hal kecil dalam keseharian santri yang perlahan menarik perhatian kami.

 

Salah satunya adalah Nana, anak Kelas 3 MI berusia sembilan tahun yang tidurnya bersebelahan dengan kamar kami yang tanpa pintu itu.

 

Sejak awal kedatangan kami, Nana termasuk anak yang mudah mendekat. Bahkan ketika kami baru dua malam tinggal di pesantren dan belum sempat berkenalan, ia sudah mengintip dari balik gorden kamar kami.

 

“Mbak, besok bangunin aku jam tiga ya.”

 

Hari-hari berikutnya, Nana kerap datang sepulang sekolah. Ia senang mengajak kami berbincang dan memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap berbagai hal, termasuk barang-barang bawaan kami yang menurutnya berbeda dari yang dimiliki mbak-mbak lain. Sesekali ia juga menawarkan makanan atau minuman yang dimilikinya.

 

Di balik keceriaan itu, kami mengetahui bahwa Nana masih mengalami kesulitan membaca. Ia dapat membaca, tetapi masih harus mengeja dan membutuhkan waktu untuk menyelesaikan sebuah kalimat.

 

Kami sebenarnya ingin mendampinginya belajar membaca secara lebih rutin. Namun aktivitas di pesantren dan jam sekolah serta kegiatan bermain Nana membuat waktu kami belum mudah disesuaikan. Sampai akhirnya, pada suatu malam, 7 September 2026, sebuah buku pelajaran yang berada di kamar kami justru mempertemukan Nana dengan pengalaman belajar yang berbeda.

 

Nana tertarik membuka buku Bahasa Indonesia. Ia mulai membaca dengan perlahan. Setiap menemukan kata, ia mengejanya dengan serius. Tubuhnya mendekat ke buku, jarinya menunjuk kata demi kata, sementara sesekali ia berhenti untuk memastikan bacaannya.

 

Aku hanya duduk di sampingnya.

 

Sekitar sepuluh menit berlalu. Nana tetap membaca. Sampai pada sebuah bacaan tentang ojek, ia tiba-tiba berhenti dan bertanya, “Mbak, bawa motor itu ternyata bolehnya 17 tahun ya?”

 

Pertanyaan sederhana itu membuatku tersenyum. Dari bacaan yang sedang diejanya, Nana baru saja menemukan pengetahuan yang sebelumnya tidak ia ketahui.

 

“Kamu jadi tahu sesuatu yang baru, kan, dari membaca?” tanyaku.

 

Jawabannya justru datang dengan semangat yang lebih besar. “Mbak, besok aku bawa ke sekolah ya bukunya dua." 

 

Ia kemudian meminta izin membawa buku tersebut ke sekolah. Aku membolehkannya memilih dua buku, PAI dan Bahasa Indonesia. Aku sempat bertanya, “Kamu baca kapan? Memangnya ada waktu luang di sekolah? Nggak main sama teman?”

 

“Kadang aku bosen, jadi aku bawa dewek (sendiri),” jawabnya.

 

Pagi harinya, Nana benar-benar membawa kedua buku itu ke sekolah.

 

Aku belum tahu apakah hari itu ia sempat membacanya atau tidak. Namun keinginannya membawa buku tersebut membuatku melihat Nana dengan cara yang sedikit berbeda.

 

Selama ini, kami mengetahui bahwa kemampuan membacanya masih perlu mendapat perhatian. Tetapi malam itu aku justru melihat sesuatu yang lain: rasa ingin tahu Nana ternyata begitu besar.

 

Ia tidak sedang membaca karena mendapat tugas. Tidak pula karena diminta mengikuti pelajaran. Ia menemukan sebuah buku, membacanya perlahan, menemukan informasi baru, lalu ingin membawa buku itu bersamanya agar dapat membacanya lagi ketika bosan.

 

Dari pengalaman kecil bersama Nana, kami kembali menyadari bahwa tantangan pendidikan tidak selalu berhenti pada tersedianya sekolah atau berlangsungnya kegiatan belajar. Ada anak-anak yang membutuhkan pendampingan lebih dekat agar kemampuan dasarnya dapat berkembang sekaligus agar rasa ingin tahu mereka tetap terpelihara.

 

Nana sendiri bersekolah di MI di luar lingkungan pesantren. Namun kesehariannya banyak dihabiskan bersama lingkungan pesantren dan mbak-mbak yang mengabdi di dalamnya. Di antara kesibukan kami sebagai dai, perjumpaan-perjumpaan kecil dengannya menjadi pengingat bahwa perhatian kepada anak tidak selalu harus hadir dalam bentuk program besar.

 

Kadang, perhatian itu dimulai dengan duduk di sampingnya. 

 

Mendengarkan ketika ia mengeja.

 

Menunggu sampai ia selesai membaca.

 

Dan membiarkan sebuah buku menjadi jalan baginya untuk menemukan sesuatu yang baru.

 

Rekan dakwah saya, Rifa, yang juga melihat ketertarikan Nana terhadap bacaan, bahkan terpikir untuk membelikannya buku bacaan. Sebab setelah melihat Nana begitu serius membaca, kami merasa bahwa rasa ingin tahu semacam itu layak mendapat ruang untuk tumbuh.

 

Kami belum tahu sejauh mana dua buku yang dibawanya ke sekolah akan membawanya. Tetapi bagi seorang anak yang masih mengeja, keinginan untuk membawa buku sendiri ke sekolah adalah langkah kecil yang patut disyukuri.

 

Bagi kami, barangkali inilah salah satu bentuk dakwah yang sering kali luput terlihat: bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi menemukan siapa yang sedang mencarinya, lalu menemani mereka agar tidak berhenti mencari.

 

Putri Milenia Gusdian, Dai Penggerak 3T dengan penugasan ke Singkut, Jambi.

 

Catatan Redaksi: Program Dai Penggerak 3T  merupakan wujud nyata khidmat jamiyah Nahdlatul Ulama untuk menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah ke pulau-pulau terluar Indonesia.  

 

Program ini didukung oleh dana infak atau donasi yang dihimpun melalui NU Online Super App. Bagi masyarakat yang ingin berkontribusi, silakan klik https://filantropi.nu.or.id/galang-dana/mari-hadirkan-dai-penggerak-di-pelosok-nusantara.

 

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang