Dikunjungi ARB, PBNU Bicara Pemerataan Ekonomi
NU Online Ā· Rabu, 7 Agustus 2013 | 08:10 WIB
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakri (ARB) yang juga berniat mencalonkan diri sebagai presiden RI berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta Pusat, Rabu (7/8) siang. ARB beserta rombongan disambut oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj bersama beberapa pengurus tanfidziyah dan ketua lembaga.<>
KH Said Aqil Siroj dalam kesempatan itu mengatakan, reformasi yang berlangsung di Indonesia sejak 1998 hanya bisa dikatakan berhasil untuk bidang politik. Namun dalam hal yang substansial menyangkut keadilan dan kemakmuran, reformasi masih belum menghasilkan apa-apa.
Dalam kesempatan itu disampaikan, pemerintah selalu berbicara angka pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat. Namun kenyataannya masyarakat tidak merasakan dampak apapun.
āPemerintah selama ini mementingkan persoalan pertumbuhan ekonomi, bukan pemerataan. Pemerintah telah mengatakan telah memberikan kredit usaha dan semacamnya tapi mana? Nyatanya masyarakat di kampung saya juga tidak tahu,ā kata Kang Said, panggilan akrab kiai asal Cirebon itu.
Menurutnya, pemerataan ekonomi mutlak menjadi agenda presiden ke depan, siapa pun yang terpilih. āYang semakin kaya hanya Pak Haji yang punya modal besar,ā kata Kang Said.Ā
Sekjen PBNU Marsudi Syuhud dalam kesempatan itu bahkan menantang ARB untuk mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk pemerataan ekonomi.
āKalau Anda terpilih jadi presiden, apakah Anda berani mengalokasikan 30 persen APBN untuk pemerataan? Saat ini dari sekian anggaran tidak ada satu persennya untuk kredit usaha rakyat,ā katanya.
Menurut Marsudi, enam program pemerintah saat ini yang menyangkut soal pemerataan, yakni KUR, BLSM, BOS, Raskinm PNPM dan Jamkes hanya ibarat permen, sama seperti di masa Orde Baru. Pemerintah tidak betul-betul serius mengusahakan pemerataan ekonomi.
Menanggapi hal itu, ARB mengatakan, dalam Visi Indonesia 2045 yang digagas bersama Partai Golkar tidak hanya ditekankan soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pemerataan. āSaya sepakat dengan PBNU bahwa pembangunan itu tidak ada artinya tanpa pemerataan,ā katanya.
Menurutnya, beberapa program yang dicanangkan dalam Visi Indonesia 2045 sudah menyangkut persoalan pemerataan, antara lain pembangunan infrastruktur desa, aturan yang ketat terkait pendirian hypermarket, serta program kredit bergulir. āKredit bergulir selama ini memang sudah ada, tapi jumlahnya tidak cukup.
Lebih lanjut, ARB mengatakan, kedatangannya bersama rombongan adalah dalam rangka meminta masukan dari NU untuk menyempurnakan Visi Indonesia 2045 yang digagas Partai Golkar sejak setahun yang lalu. Dikatakan, sebelumnya pihaknya juga telah meminta masukan kepada Muhammadiyah.Ā
āAkhir September rangkuman dari masukan untuk Visi Indonesia 2045 ini harus sudah selesai dan akan menjadi panduan bagi calon Presiden Partai Golkar. Kenapa perlu ada visi semacam ini? Karena amandemen UUD yang terjadi beberapa kali sudah menghapuskan GBHN,ā katanya.
Penulis: A. Khoirul Anam
Terpopuler
1
5 Santri Laki-laki Jadi Korban Pelecehan Seksual, Syekh Ahmad Al Misry Jadi Tersangka
2
Kisah Rombongan Gus Dur Diberondong Senapan di Timor Leste
3
Resmikan Klinik di Cilacap, Gus Yahya: Harus Profesional, Bukan Sekadar Khidmah
4
Hukum MenarikĀ UangĀ Parkir di Lahan Orang Lain
5
Haji 2026: 5.426 Jamaah Aceh Siap Terbang, Ini Rute dan Jadwalnya
6
Safari Diplomatik Terakhir, Gus Yahya Kunjungi Dubes Federasi Rusia
Terkini
Lihat Semua