Nasional

Dua Kapal Tanker Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz, Cadangan Energi Nasional Terancam

NU Online  ·  Kamis, 9 April 2026 | 12:00 WIB

Dua Kapal Tanker Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz, Cadangan Energi Nasional Terancam

Kapal Gamsunoro PT Pertamina International Shipping (PIS). (Foto: dok Pertamina)

Jakarta, NU Online

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) unsur konsumen, Muhammad Kholid Syeirazi, mengungkapkan bahwa tertahannya dua kapal tanker raksasa milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro di Selat Hormuz, berpotensi mengganggu cadangan energi nasional.


“Hal ini terjadi karena sebagian sumber penyediaan minyak mentah dan produk kilang terdampak oleh terganggunya jalur Selat Hormuz,” ujarnya kepada NU Online, Kamis (9/4/2026).


Ia menjelaskan, sebagian impor minyak mentah Indonesia, terutama dari Arab Saudi, serta pasokan gas minyak cair (LPG) sangat bergantung pada jalur tersebut. Meski demikian, situasi mulai mereda seiring gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung selama dua pekan sejak Selasa (7/4/2026).


“Sekitar 18 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Arab Saudi yang harus melewati Selat Hormuz. Selain itu, sekitar 25 persen pasokan LPG juga terdampak oleh jalur tersebut,” katanya.


Menurutnya, tertahannya dua kapal tanker dengan muatan sekitar empat juta barel tersebut juga berdampak pada badan usaha lain yang mengimpor produk kilang dari Singapura, Malaysia, dan negara lain yang sumber pasokannya berasal dari Timur Tengah.


“Apabila Selat Hormuz kembali dibuka, hal ini akan meningkatkan coverage days atau jumlah hari cadangan operasional yang dibutuhkan untuk menjaga ketahanan energi,” jelasnya.


Ia berharap gencatan senjata yang terjadi dapat menjadi langkah awal menuju perdamaian yang lebih permanen, sehingga jalur perdagangan energi global kembali normal dan ketahanan energi Indonesia tetap terjaga.


“Kita berharap gencatan senjata ini dapat menjadi awal menuju perdamaian permanen,” ujarnya.


Perlu Tinjau Ulang Diplomasi Energi

Sementara itu, akademisi Hubungan Internasional dari Universitas Bina Nusantara, Tia Mariatul Kibtiah, menilai perlu adanya evaluasi terhadap sistem diplomasi Indonesia, khususnya dalam konteks hubungan dengan Iran.


“Artinya harus di-review dari sistem diplomasi kita, kalau tidak mau dibilang gagal,” katanya dalam Diskusi Pojok Kramat edisi Harlah ke-41 Lakpesdam PBNU dan Halal Bihalal di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).


Ia menyebut, para menteri luar negeri sebelumnya seperti Ali Alatas, Alwi Shihab, Hassan Wirajuda, Marty Natalegawa, hingga Retno Marsudi memiliki rekam jejak diplomasi yang kuat.


“Tidak ada sejarah mentok dalam diplomasi. Mereka semua memiliki kemampuan yang mumpuni. Tapi kenapa sekarang tidak? Dalam berbagai hal, kebijakan luar negeri kita seperti menemui jalan buntu,” ujarnya.


Pemerintah Lakukan Komunikasi Intensif

Di sisi lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia masih menjalin komunikasi intensif dengan pihak Iran terkait dua kapal tanker Pertamina yang belum dapat melintasi Selat Hormuz.


Meski gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran telah berlangsung, proses tersebut diakui belum berjalan mudah.


“Sedang dilakukan komunikasi intensif terkait dua kapal itu. Insya Allah, doakan bisa segera selesai,” ujarnya, dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden di Istana, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang