Nasional

Fenomena Musisi Hijrah Dilihat dari Identitas, Otoritas Keagamaan, dan Gerakan Sosial

NU Online  ·  Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Fenomena Musisi Hijrah Dilihat dari Identitas, Otoritas Keagamaan, dan Gerakan Sosial

Hilmy Firdausy, Penulis buku Musisi Hijrah: Kebangkitan Islamisme Kultural di Indonesia Rahmat Hidayatullah, Peneliti BRIN Wahyudi Akmaliyah, Dosen Psikologi Binus University Roosalina Wulandari dan Direktur PUSAD Paramadina Ihsan Ali Fauzi (dari kiri ke kanan) dalam agenda Diskusi Publik dan Bedah Buku di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Rabu (14/10/2026).(Foto: NU Online/Risky)

Jakarta, NU Online

Fenomena musisi yang memilih berhijrah tidak hanya berkaitan dengan perubahan individu personal musisi. Di baliknya ada perbincangan seputar pembentukan ulang identitas, ideologi keagamaan, dan dampaknya terhadap kehidupan sosial.


Perbincangan ini mengemuka di dalam diskusi publik dan bedah buku *Musisi Hijrah: Kebangkitan Islamisme Kultural di Indonesia* yang berlangsung di Teater Wahyu Sihombing Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (14/10/2026). 


Dosen Psikologi Binus University Roosalina Wulandari mengapresiasi buku yang dikembangkan penulisnya dari karya akademik disertasi itu. Pasalnya, ia melihat pemaknaan yang proporsional terhadap kata hijrah.


"Karena penulis tidak mereduksi (kata) hijrah serta merta dilekatkan dengan musisi bertaubat, tetapi membuka relasi antara krisis personal, jaringan sosial, budaya populer dan otoritas keagamaan itu sendiri," kata Wulandari.


Ia menjelaskan, pengalaman hijrah seseorang tidak datang seketika, melainkan melalui serangkaian proses psikologis yang panjang. Dalam konteks ini, menurutnya, hijrah  bukanlah peralihan dari buruk-baik melainkan fase dari kehidupan.


Kecenderungan orang yang berhijrah, lanjutnya, berangkat dari kondisi mental berada dalam ketidakpastian. Dalam kondisi ini diperlukan jawaban yang selaras dengan kecenderungan orang tersebut dalam beragama maupun berbudaya.


"Makanya ideologi yang berafiliasi dengan para pehijrah ini menawarkan kepada mereka. Ada yang memberikan ruang eksplorasi cukup luas, dikotomi seperti halal-haram cukup tegas, dan lain-lain," terang perempuan yang juga peneliti transformasi identitas keagamaan itu.


Ia juga mengemukakan bahwa faktor lain yang turut melancarkan proses hijrah yakni adanya koneksi sosial. Mereka yang memilih hijrah selalu terpaut dengan lingkungan keluarga, relasi kerja atau hubungan pertemanan di mana ia tinggal. Hal ini menguatkan proses sebelumnya, ketika kesehatan mental seseorang terganggu.


"Dalam konteks itu terjadilah rekonstruksi identitas identitas baru ketika merasa menjadi bagian dari suatu kelompok," ujarnya.


Sementara itu, Peneliti BRIN Wahyudi Akmaliyah mengatakan bahwa buku yang diterbitkan oleh LP3ES akhir 2025 itu membantu masyarakat dalam merawat fenomena hijrah yang terjadi di kalangan musisi. Fakta ini, lanjutnya, turut memengaruhi cara pandang terhadap agama secara kolektif.


"Buku ini membantu ingatan mengenai musisi hijrah yang kita lihat dalam potongan media sosial, artikel atau gelar wicara melalui Youtube kemudian menjadi gerakan kolektif," ungkapnya.


Wahyudi pun menilai, langkah yang diambil penulis dalam membaca diskursus Islamisme sangat berani. Sebab, ia menengahkan alternatif Islamisme Kultural, alih-alih menggunakan pendekatan yang sudah ada yakni Post-Islamisme atau Pop-Islamisme.


"Penulis menempatkan dirinya sebagai Islamisme Kultural, yang dimaknai dengan keterhubungan seseorang dalam organisasi tertentu, tetapi karena mereka juga memiliki basis masa yang kuat sehingga mereka bisa membuat gerakan sendiri," kata dia.


Kemudian Penulis buku Rahmat Hidayatullah mengungkapkan konten yang dibahas dalam karyanya itu. Pertama berkenaan dengan pengalaman mental yang kompleks dari seorang musisi ketika berada dalam fase hijrah.


"Kedua, apa implikasinya terhadap kehidupan personal mereka secara khusus atau secara spesifik. Dan bagaimana itu nantinya ketika menjadi satu movement, karena satu pehijrah dengan pehijrah yang lain itu saling terkoneksi antara satu sama lain, ini juga berimplikasi terhadap kehidupan sosial, kultural, dan bahkan politik di Indonesia," singkap Rahmat.


Ia pun mengutarakan alasan di balik fokus studi Islamisme yang mengarah kepada musisi. Berbeda dari arus utama yang menempatkan tokoh, gerakan ormas dan institusi keagamaan sebagai fokus kajian.


"Musisi ini kan kehidupannya dari panggung ke panggung, ketemu fans dan lain sebagainya, itu bisa dibilang orang biasa. Dalam studi Islamisme jarang dipotret gitu, maka kemudian saya coba masuk dari situ. Walaupun mereka musisi yang sangat dikenal, tetapi dalam dunia akademik seputar fundamentalisme Islam atau Islamisme itu saya kira belum banyak dieksplorasi," ujarnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang