Nasional

Gunung Anak Krakatau Masih Erupsi, Lampung Perketat Kesiapsiagaan Tsunami

NU Online  ·  Jumat, 11 September 2026 | 10:00 WIB

Gunung Anak Krakatau Masih Erupsi, Lampung Perketat Kesiapsiagaan Tsunami

Pemeriksaan sirine peringatan dini tsunami di Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Selasa (8/9/2026). (Dok Kedeputian Bidang Pencegahan BNPB)

Jakarta, NU Online

Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Provinsi Lampung masih menunjukkan erupsi berskala kecil. Meski aktivitas gunung api tersebut secara umum mengalami tren penurunan, pemerintah daerah memperketat kesiapsiagaan, terutama untuk mengantisipasi potensi tsunami yang dapat mengancam kawasan pesisir.

 

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan penguatan kesiapsiagaan dilakukan melalui pendampingan kepada pemerintah daerah dan pemantauan langsung kondisi lapangan untuk memastikan masyarakat serta infrastruktur pendukung mitigasi benar-benar siap menghadapi kemungkinan dampak erupsi.

 

“(Pemantauan) dilakukan di Desa Kalianda, Sukaraja, Way Muli, Tarahan, Banding, dan Tri Tunggal yang mencakup keberadaan desa tangguh bencana, rambu jalur evakuasi, rambu titik kumpul, serta Sirene Peringatan Dini Tsunami,” ujarnya di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

 

Berton menyampaikan bahwa saat ini, BPBD dan Pemerintah Provinsi Lampung telah menyiapkan aktivasi Rencana Kontingensi (Renkon) Tsunami apabila aktivitas gunung api meningkat dan memperbesar potensi ancaman tsunami.

 

“Pemerintah Provinsi Lampung juga telah menginstruksikan seluruh BPBD kabupaten/kota untuk memastikan kesiapan jalur evakuasi serta Sirene Peringatan Dini Tsunami dapat berfungsi dengan baik,” ujarnya.

 

Ia mengatakan bahwa perbaikan sirene di wilayah Sukaraja masih dilakukan pemerintah daerah bersama pihak terkait. Sementara, satu unit sirene peringatan dini tsunami di Desa Maja, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan akan dibangun.

 

Berton menjabarkan hasil pengamatan dari Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Hargo Pancuran, erupsi kecil masih berlangsung, tetapi tidak terlihat secara visual karena puncak gunung tertutup awan dan kabut.

 

“Erupsi berskala kecil terakhir tercatat pada 8 September 2026 sekitar pukul 17.56 WIB,” katanya.

 

Ia menyampaikan bahwa saat ini, angin bertiup ke arah barat daya sehingga potensi penyebaran abu vulkanik mengarah menjauh dari permukiman menuju Samudera Hindia.

 

“Aktivitas Gunung Anak Krakatau secara umum menunjukkan tren penurunan secara bertahap berdasarkan perkembangan aktivitas sejak status gunung api ditetapkan pada tingkat Siaga,” tuturnya.

 

Berton menyampaikan bahwa kegiatan belajar mengajar masih dilakukan secara daring hingga 10 September 2026. Kebijakan tersebut mengacu pada Surat Edaran Gubernur Lampung Nomor 100.3.4/14/V.01/2026 tanggal 8 September 2026 tentang Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Akibat Dampak Abu Vulkanik.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang