Gus Yahya Sebut Digitalisasi Jadi Kunci Pesantren Hadapi Perubahan Zaman
NU Online · Kamis, 22 Januari 2026 | 15:00 WIB
Gus Yahya dalam peluncuran Gerakan Pesantren Cakap Artificial Intelligence (AI) di Lobi Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, pada Kamis (22/1/2026). (Foto: NU Online/Suwitno)
Haekal Attar
Penulis
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengungkapkan bahwa pesantren sejak lama menghadapi persoalan keterlambatan dalam beradaptasi dengan perubahan zaman, terutama dalam aspek digitalisasi.
Atas dasar itu, Gus Yahya menyebut bahwa digitalisasi bagi pesantren menjadi kunci untuk menghadapi perubahan dan tantangan zaman.
"Betapa masa depan bagi kita ini semakin menekan, masa depan rasanya menjadi lebih cepat datangnya menekan kita semua untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi," tegasnya dalam peluncuran Gerakan Pesantren Cakap Artificial Intelligence (AI) di Lobi Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, pada Kamis (22/1/2026).
Gus Yahya juga melihat ada fenomena ketertinggalan pesantren dalam perubahan zaman, termasuk pada fase awal kemerdekaan. Ia menjelaskan, ketika dunia pendidikan mulai terintegrasi ke dalam sistem global, pesantren tidak langsung mengikuti arus perubahan tersebut.
"Pesantren tidak serta merta mengikuti perubahan-perubahan yan terjadi pada waktu itu. bahkan pada awalnya menolak," jelasnya.
Gus Yahya menilai, kehadiran internet merupakan perubahan yang sangat fundamental dan terbukti membawa dampak besar terhadap seluruh aspek kehidupan umat manusia hingga saat ini.
"Perubahan-perubahan ini semakin cepat pertama langgam gerak kita sebagai kultur dan jembatan generasional di dalam menghadapi perubahan itu," katanya.
Pada saat pencalonan dirinya sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Yahya menyatakan bahwa isu digitalisasi merupakan prioritas utamanya.
"Karena entitas skala besar seperti Nahdlatul Ulama ini tidak mungkin lagi dikelola secara manual," jelasnya.
Sementara itu, Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU KH Hodri Arief mengungkapkan bahwa perkembangan teknologi digital telah membawa banyak perubahan yang mempengaruhi cara berpikir, belajar, dan berinteraksi di masyarakat, termasuk di lingkungan pendidikan pesantren.
Ia menegaskan, meski sejumlah pesantren masih terdapat sikap kewaspadaan terhadap penggunaan internet karena diyakini ada potensi mafsadah atau dampak negatif dari teknologi informasi.
Kiai Hodri mengingatkan, kewaspadaan itu perlu diikuti langkah-langkah serius untuk mengambil kemaslahatan baru tanpa meninggalkan akar tradisi pesantren.
"Sikap waspada terhadap kemajuan teknolpgi informasi ini tidak bisa dibiarkan tetap bertahan sebagai sikap waspada saja, tetapi perlu ada langkah-langkah serius al-akhdzu bil jadidil ashlah tanpa perlu kehilangan akar tradisi kita," jelasnya.
Terpopuler
1
Sambangi PBNU, 23 PWNU Sampaikan Harapan Soal Muktamar ke-35 NU
2
Innalillahi, Pengurus Muslimat NU Kemayoran Wafat dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi
3
Stasiun Bekasi Timur Ditutup Sementara, KRL Hanya Beroperasi hingga Stasiun Bekasi
4
KA Jarak Jauh Tabrak KRL di Bekasi Timur, Gerbong Perempuan Ringsek
5
Sempat Hilang, Karyawan Kompas TV Aini Meninggal Dunia dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
6
3 Orang Tewas dalam Tabrakan Kereta di Bekasi, KAI Minta Maaf Fokus Evakuasi
Terkini
Lihat Semua