Hasyim: Koalisi Parpol Hanya Pikirkan Kapling Kekuasaan
NU Online · Jumat, 2 Mei 2014 | 11:24 WIB
Jakarta, NU Online
Mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menyampaikan, konsekuensi perolehan suara partai politik yang minim menyebabkan mereka harus berkoalisi di parlemen.
<>
Sayangnya, menurut Hasyim, koalisi tersebut bukan bertujuan untuk menyangga Indonesia, tetapi hanya untuk kapling kekuasaan.
Demikian disampaikannya disela-sela acara bedah buku “Road to Semen Indonesia” karya Dwi Soetjipto, direktur utama Semen Indonesia di gedung PBNU, Jum’at (2/5).
Akibat perbedaan kapling-kapling politik ini para menteri atau pejabat hanya memikirkan kepentingan kelompoknya masing-masing. Demikian pula koordinasi birokrasi ke bawah menjadi lebih sulit ketika penguasa di tingkat propinsi atau kabupaten berasal dari partai yang berbeda.
“Dalam hal ini, seorang presiden harus mampu membedakan posisinya sebagai politisi dan negarawan,” tandasnya.
Ia mengusulkan adanya UU yang mengatur seorang presiden tidak boleh menjabat menjadi ketua umum partai agar tidak terjadi konflik kepentingan sehingga seluruh energinya benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan negara dan bangsa.
Ditanya mengenai sejumlah capres, menurutnya, saat ini belum ada sosok kandidat yang mampu memberesi semua persoalan bangsa.
Mengenai sejumlah calon presiden yang berkunjung ke gedung PBNU, ia berpendapat hal tersebut tidak masalah, tetapi PBNU secara institusional tidak mencalonkan kandidat tertentu karena ini merupakan domain warga NU untuk memilih sesuai dengan hati nuraninya.
Dalam komentarnya dihadapan audiens bedah buku, ia menyampaikan pentingnya pemerataan ekonomi, mengingat saat ini sebagian besar aset ekonomi di Indonesia hanya dimonopoli oleh segelintir orang. Dalam aspek hukum pun, belum ada kesamaan di depan hukum. (mukafi niam)
Terpopuler
1
Kultum Ramadhan: Keutamaan 10 Malam Terakhir dan Cara Mendapatkan Lailatul Qadar
2
Menurut Imam Ghazali, Lailatul Qadar Ramadhan 1447 H Akan Jatuh pada Malam Ke-25
3
Syed Muhammad Naquib al-Attas: Cendekiawan tanpa Telepon Genggam
4
Makna Keterpilihan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
5
Cendekiawan Malaysia Syed Naquib Alatas Meninggal Dunia dalam Usia 94 Tahun
6
Lafal Doa Malam LaiLatul Qadar, Lengkap dengan Latin dan Terjemah
Terkini
Lihat Semua