Jangan Sampai Penderita Covid-19 Seperti Fenomena Gunung Es
NU Online · Kamis, 30 April 2020 | 10:30 WIB
Praktisi Kemanusiaan Internasional Yogi Mahendra Nasution mengatakan bahwa orang yang terkena wabah Covid-19 saat ini seperti fenomena gunung es. Artinya, orang yang terkena virus corona tidak terdata secara keseluruhan, bahkan sangat mungkin jumlah mereka lebih besar dibandingkan dengan yang terdata.
“Sebetulnya fenomena gunung es ini tidak hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara lain,” katanya kepada NU Online, Rabu (29/4).
Fenomena gunung es Covid-19 di Indonesia, kata dia, karena tidak mekanisme penanganan wabah yang terpola dengan baik.
Ia mengusulkan, pencegahan harus dilakukan di tingkat terkecil, misalnya di level RT dan RW, bahkan di tingkat keluarga. Cara sederhananya adalah, setiap RT harus memiliki data warga dengan beberapa kategori, misalnya dari segi pekerjaan, umur, dan riwayat penyakit.
“Misalnya, jika ada 100 orang di satu RT, ada berapa orang yang bekerja keluar dan masuk di wilayahnya, ada berapa orang yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, ada berapa orang yang secara usia sangat rentan terserang virus corona,” jelasnya.
Kemudian, lanjutnya, setelah dikategorisasi, orang-orang yang rentan diperiksa oleh petugas kesehatan. Orang yang positif harus rela melakukan diisolasi atau melakukan isolasi mandiri.
Menurut dia, jika penanganan secara sederhana seperti saja tidak dilakukan, orang tanpa gejala (ODP) jumlahnya tentu akan lebih dibanding yang terdata. Dan jika demikian, wabah akan semakin susah ditangani.
“Kesalahan kita sendiri sebenarnya dalam penanganan dan menghadpi wabah ini. Masyarakat banyak takut terkena wabah ini sehingga tak mau memeriksakan diri, karena mereka takut dijauhi tetangganya. Hal ini akan memperparah keadaan,” katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa semestinya yang menjadi gara terdepan dalam pencegahan penyebaran virus corona adalah masyarakat sendiri, bukan tenaga medis. Seharusnya, tenaga medis adalah palang pintu saat pencegahan di masyarakat kebobolan.
Senada dengan Yogi, Ketua PBNU Bidang Kesehatan H Syahrizal Syarif mengungkapkan istilah hulu dan hilir. Hulu adalah pencegahan di level masyarakat, sementara hilir adalah rumah sakit.
Pewarta: Abdullah Alawi
Terpopuler
1
PBNU Finalisasi SK Kepengurusan Peserta Muktamar Ke-35 dan Road Map NU 25 Tahun
2
Hukum Lomba Mancing Berbayar di Kolam
3
Tim PBNU Tinjau Tiga Pesantren di Cirebon sebagai Calon Lokasi Muktamar Ke-35 NU
4
Prediksi Cuaca 3-9 Juli 2026:Kemarau Berlanjut, Hujan Masih Mengiringi Sebagian Wilayah Indonesia
5
Lokasi Muktamar NU dari Masa ke Masa (Bagian Pertama-Masa Kolonial)
6
Suluk Kajen Diresmikan, Siap Jadi Pusat Riset Manuskrip dan Pemikiran Syekh Ahmad Mutamakkin
Terkini
Lihat Semua