Kasus Campak Naik, Menkes Soroti Rendahnya Imunisasi dan Mobilitas Anak Sekolah
NU Online · Kamis, 23 April 2026 | 06:00 WIB
M Fathur Rohman
Kontributor
Jakarta, NU OnlineÂ
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku khawatir atas tingginya penularan penyakit campak yang dinilai masih menjadi persoalan serius di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa satu kasus campak dapat menyebar dengan cepat ke banyak orang dalam waktu singkat.
"Dia (campak), obatnya juga sudah ada, efektif dan biasanya enggak mematikan. Dia mematikan karena ada efek sampingnya, bisa infeksi di paru atau di otak," ujar Budi dalam rapat bersama Komisi IX DPR dikutip NU Online Rabu (22/4/2026).
Dalam penjelasannya, Budi menekankan bahwa penyakit yang telah memiliki vaksin semestinya dapat dikendalikan secara optimal. Namun, peningkatan kasus campak masih kerap terjadi karena belum meratanya cakupan imunisasi di berbagai daerah.
"Kalau dari data di dunia, campak itu kok lucu seakan-akan ada musimannya. Jadi, nanti kalau kita bicara dengue, dengue itu benar-benar ada musiman tergantung dari El Nino, kalau El Nino naik, dia naik, jadi campak juga kelihatannya seperti itu. Jadi di seluruh dunia di awal tahun tinggi (kasus campak)," tuturnya.
Ia juga menguraikan bahwa lonjakan kasus di awal tahun bukan disebabkan oleh faktor cuaca, melainkan meningkatnya interaksi sosial, khususnya di kalangan anak-anak yang kembali beraktivitas di sekolah.
"Jadi, di seluruh dunia, awal tahun, anak-anak mulai sekolah. Di situlah, penularan terjadi dan cepat. Itu juga yang kita lihat di awal tahun ini. Jadi, ini lebih kepada mobilitas, kenapa terjadi campak ini," kata dia.
Budi mengungkapkan bahwa pandemi Covid-19 sebelumnya turut berdampak pada terganggunya pelaksanaan imunisasi rutin. Kondisi ini menyebabkan sebagian anak tidak memperoleh vaksinasi campak sesuai jadwal yang dianjurkan.
"Karena campak ini vaksinasinya kalau tidak salah harus tiga kali. Dan yang kedua, memang ini ada isu halal haram vaksin ini. Jadi sempat ramai dan agak susah masuknya," jelasnya.
Sebagai langkah respons, Kementerian Kesehatan telah menggulirkan program Outbreak Response Immunization (ORI) di sejumlah wilayah dengan peningkatan kasus yang signifikan. Program ini difokuskan pada daerah-daerah yang mengalami lonjakan penularan dalam beberapa waktu terakhir.
Pelaksanaan ORI dimulai sejak 9 Maret 2026 di berbagai daerah, sementara di Kota Serang program tersebut baru berjalan pada 30 Maret 2026. Adapun wilayah yang menjadi prioritas meliputi Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kota Serang, Kabupaten Bima, Kota Palembang, Depok, Jakarta Barat, dan Palu.
Terpopuler
1
Cara Penguburan Ikan Sapu-Sapu oleh Pemprov DKI Dapat Kritik dari MUI
2
Sejumlah Pemberitaan Wafat KH A Wahid Hasyim di Media Massa
3
118 Hotel Siap Tampung 108 Ribu Jamaah Haji Indonesia Kloter Pertama
4
Hukum Mengubur Ikan Sapu-Sapu Hidup-hidup, Bolehkah?
5
Delegasi Belanda Belajar Nilai dan Kehidupan Santri di Pesantren
6
Risih Tangisan Bayi di Transportasi Umum: Ruang Publik Bukan Milik Kita Sendiri
Terkini
Lihat Semua