Jakarta, NU Online
Menjadi bangsa yang majemuk adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari oleh masyarakat Tanah Air. Kemajemukan adalah sunnatullah (hukum Allah). Sebagai petunjuk bagi semua manusia, Al-Qur’an mengajarkan sikap hidup yang positif mengahadapi kenyataan ini.
<>“Al-Qur’an memberi petunjuk lakum diinukum waliyadin (bagimu agamamu, bagiku agamaku),” terang Rais Syuriyah PBNU KH Ali Mustofa Yakub, Selasa (14/8) malam, di Jakarta.
“Orang nonmuslim bebas menjalankan agamanya sesuai petunjuk-petunjuk agamanya dan orang muslim tak boleh merasa tersinggung dan terganggu. Begitu juga, orang muslim bebas menjalankan agamanya dan orang nonmuslim tak boleh merasa tersinggung dan terganggu,” tuturnya seperti disiarkan sebuah stasiun televisi swasta.
Imam Besar Masjid Istiqlal ini berpendapat, gagasan Presiden Soekarno membangun Masjid Istiqlal di seberang barat Gereja Katedral Jakarta bukan tanpa alasan. Ia hendak menyadarkan bahwa kemajemukan dalam bangsa ini merupakan sebuah keniscayaan.
Mustofa menceritakan, ketika sembahyang duhur, jamaah Masjid Istiqlal tak jarang mendengar dentang lonceng dari tetangganya itu. Peristiwa sejenis pun terjadi, pihak gereja tak luput dari gema azan yang keluar dari pengeras suara masjid milik negara ini.
Menurutnya, tak ada masalah serius dalam keberagaman ini. Justru ini bukti bahwa Indonesia termasuk bangsa yang toleran. “Kalau kita tidak mau denger lonceng, ya hidup di hutan sana.” tegasnya.
Redaktur : Hamzah Sahal
Penulis : Mahbib Khoiron
Terpopuler
1
Sidang Pleno Muktamar NU Sepakati Ketum PBNU Dipilih melalui AHWA
2
KH Miftachul Akhyar Resmi Terpilih Menjadi Rais Aam PBNU Masa Khidmah 2026–2031
3
AHWA Tetapkan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU Masa Khidmah 2026-2031
4
Terpilih, Ini Profil 9 Anggota AHWA Muktamar Ke-35 NU
5
Gus Yahya Minta Massa Pendukung Gus Yusuf Tenang: Potensi Besar Harus Tetap Diakomodasi untuk NU
6
Bakal Caketum PBNU Gus Kikin: Siapa Pun yang Terpilih Jadi Ketum, NU Harus Tetap Rukun
Terkini
Lihat Semua