Kemenkes Catat 333.470 Kasus ISPA di 68 Kabupaten/Kota Terdampak Karhutla
NU Online · Jumat, 23 Oktober 2026 | 12:00 WIB
Tangkapan layar Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Then Suyanti menyampaikan paparan dalam Info Bencana TerkiniKamis (22/10/2026).
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di 68 kabupaten/kota yang tersebar di tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026. Ketujuh provinsi tersebut adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sumatra Selatan, Riau, dan Jambi.
Peningkatan kasus terlihat sejak awal musim kemarau, yakni Juli hingga Oktober 2026, seiring meningkatnya kewaspadaan terhadap karhutla.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, menyampaikan bahwa berdasarkan data hingga 21 Oktober 2026, sebanyak 4.522 orang masih mengalami ISPA. Dari total kasus kumulatif tersebut, sebanyak 75.172 kasus terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun atau balita, sedangkan 258.298 kasus lainnya dialami kelompok usia di atas lima tahun.
“Saat ini kondisi ISPA di wilayah terdampak secara kumulatif mencapai 333.470 kasus. Adapun jumlah penderita ISPA berdasarkan data harian pada 21 Oktober 2026 sebanyak 4.522 orang,” ujar Suyanti dalam acara Info Bencana Terkini pada Kamis (22/10/2026), yang digelar secara daring.
Ia mengungkapkan bahwa terjadi peningkatan kasus ISPA di tujuh provinsi yang memiliki risiko tinggi kebakaran hutan dan lahan. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, ketujuh provinsi tersebut menunjukkan peningkatan kasus ISPA yang signifikan.
“Kalau kita lihat, ada tren kasus ISPA di wilayah dengan risiko karhutla sangat tinggi pada 2026. Peningkatan kasus ISPA mulai terlihat pada awal musim kemarau, yakni Juli hingga Oktober, seiring meningkatnya kewaspadaan terhadap karhutla sejak Juli 2026,” jelasnya.
Suyanti menjelaskan bahwa asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik lainnya yang dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan. Dampaknya meliputi ISPA, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), iritasi mata, hingga gangguan kulit.
“Kelompok rentan sangat kita perhatikan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, maupun pekerja di luar ruangan,” katanya.
Untuk mengendalikan dampak kesehatan, Kemenkes melakukan langkah-langkah promotif dan preventif, antara lain membagikan masker serta memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai upaya mengurangi risiko krisis kesehatan akibat karhutla.
“Strategi pengendalian dampak kesehatan akibat karhutla terus kita lakukan, seperti pembagian masker, kemudian edukasi dan promosi mengenai upaya pengurangan risiko krisis kesehatan akibat karhutla kepada masyarakat,” kata Suyanti.
Kemenkes juga melaksanakan surveilans kualitas udara dalam ruang dan memantau dampak kesehatan di permukiman. Pemantauan penyakit meliputi ISPA, pneumonia, asma, iritasi mata, dan gangguan kulit. Selain itu, Kemenkes turut memantau ketersediaan obat, bahan medis habis pakai (BMHP), serta alat kesehatan yang dibutuhkan daerah.
“Kita juga berkoordinasi lintas sektor dan sudah mengeluarkan edaran kepada daerah maupun fasilitas kesehatan untuk menyiapkan kesiapsiagaan menghadapi karhutla ini. Kami juga mengirim surat kepada Kementerian Agama serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) apabila kualitas udara kurang baik,” tuturnya.
Terpopuler
1
PBNU Rilis Twibbon Hari Santri 2026, Unduh Linknya di Sini
2
Khutbah Jumat: 6 Teladan Nabi Yahya bagi Generasi Muda
3
Khutbah Jumat: Krisis Integritas, Ketika Dosa Dianggap Biasa
4
Khutbah Jumat: Menjaga Makanan Halal, Menjaga Keberkahan Hidup
5
KH Syukron Makmum dan Daarul Rahman-nya
6
Karhutla Belum Reda, Rais Aam PBNU Ajak Masyarakat Terus Berdoa agar Musibah Segera Berakhir
Terkini
Lihat Semua