Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) dr Siti Nadia Tarmizi. (Foto: Tangkapan layar)
Nuriel Shiami Indiraphasa
Kontributor
Jakarta, NU Online
Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) masih kerap dijumpai di tengah masyarakat Indonesia. Bentuknya bercaman-macam, salah satunya seperti tindakan pengasingan kepada ODHA merupakan tantangan yang belum kelar dijawab hingga hari ini.
Merespons hal tersebut, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) dr Siti Nadia Tarmizi menerangkan bahwa meskipun menular, Human Immunodeficiency Virus (HIV) tidak terjadi ke sembarang orang hanya karena melalui interaksi sosial biasa.
“Kalau kita makan bersama, menggunakan alat makan bersama, ataupun penggunaan kamar mandi bersama itu tidak akan menularkan HIV,” papar dr Nadia dalam Press Briefing Hari AIDS Sedunia 2021 secara virtual, Senin (29/11/2021).
“Masyarakat yang tanpa stigma dan diskriminasi akan mendukung orang dengan HIV bisa tetap berkualitas dan tetap menjaga kondisi kesehatannya agar tetap berkarya dan produktif,” imbuhnya.
Secara rinci ia menerangkan, virus HIV terdapat pada darah, cairan sperma, cairan vagina, dan air susu ibu (ASI). Hal tersebut adalah alasan utama bahwa penularan HIV tidak terjadi sebab interaksi sosial biasa, melainkan melalui beberapa aktivitas seperti hubungan seks berisiko baik heteroseksual maupun homoseksual, melalui darah baik alat suntik tercemar maupun transfusi darah yang tidak disaring, dan dari ibu ke bayi pada saat kehamilan, melahirkan dan menyusui.
Mengenai Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), dr Nadia menjelaskan bahwa AIDS merupakan suatu kondisi yang disebabkan oleh HIV. Kondisi yang akan dialami oleh penderita HIV apabila ia terus membiarkan perkembangan virus dalam tubuhnya tanpa mendapatkan pengobatan.
“Di mana kalau sakit HIV dan kemudian tingkat keparahannya bertambah berat, maka akan pada kondisi yang disebut AIDS. Jadi, AIDS merupakan kumpulan gejala dan tanda yang merupakan tanda fisik terjadinya infeksi opportunity yang memanfaatkan kondisi tubuh lemah yang kemudian menimbulkan penyakit-penyakit,” ujar dr Nadia.
Kendati demikian, hal tersebut dapat dicegah. “Setia pada satu pasangan, kalau melalui darah, alat suntik harus sekali pakai dan transufi darah dilakukan pemeriksaan laboratorium dulu,” terang dr Nadia.
Bagi ibu hamil, lanjut dr Nadia, penting untuk dilakukan deteksi sebelum kehamilan. Ia mengatakan bahwa pihaknya memiliki program Tripel Eliminasi yang berkenaan untuk ibu hamil. Tripel Eliminasi merupakan upaya untuk memutus rantai penularan hepatitis B, sifilis, dan juga HIV dari ibu ke anak.
Penuntasan HIV/AIDS merupakan upaya bersama. Dalam peringatan Hari Aids Sedunia, dr Nadia mengimbau segenap pihak untuk berupaya mengakhiri AIDS dan mencegah HIV. Beberapa upaya yang dilakukan seperti menguatkan komitmen semua pemangku kepentingan di semua tingkatan; memperluas akses pencegahan, layanan diagnosis HIV, pengobatan terapi antiretroviral (ART) dan infeksi oportunistik serta mitigasi dampak; juga penguatan kemitraan multi-pihak, dan inovasi perlu dilakukan untuk memastikan bahwa upaya penanganan HIV/AIDS tetap di dalam track yang seharusnya.
Kontributor: Nuriel Shiami Indiraphasa
Editor: Syamsul Arifin
Terpopuler
1
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
2
Kepada Pengurus NU, KH Nurul Huda Djazuli: Tetap Ikhlas demi Menghidupkan NU
3
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
4
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
5
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua