Surabaya, NU Online
Wujud kesalehan sesorang tidak semata dibuktikan dengan amaliyah ibadah mahdlah. Yang justru penting diperhatikan adalah dalam perilaku keseharian, termasuk saat bermedia sosial.
Dalam pandangan ahli tasawuf, KH Lukmanul Hakim bahwa saat ini masyarakat tengah berada pada zaman yang berubah. āKebutuhan mendesak nahdliyin atau warga Nahdlatul Ulama khususnya pada era revolusi industri adalah menjaga dari pergeseran nilai,ā katanya, Sabtu (27/4).
Dalam pandangannya, warga NU harus menyadari sebagai khalifah Allah di bumi. āOleh sebab itu, saat bermedia sosial sekalipun harusĀ tetap menjaga akhlakul karimah,ā ujarnya pada Forum Silaturahim Nasional (Forsilatnas) VIII Persaudaraan Profesional Muda (PPM) Aswaja.
Menurut Kiai Lukman, dalam setiap kata dan kalimat, gambar, video dan sejenisnyaĀ yang diunggah di media sosial (Medsos) harus mencerminkan cahaya atau nur. āYakni dengan menjaga transparansi dan spiritualitas,ā ungkapnya.
Pada kegiatan yang berlangsung di Pondok Pesantren Miftachussunnah, Kedung Tarukan,Ā Pacar Kembang Surabaya tersebut, Kiai Lukman menjelaskan bahwa Medsos juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk menjaga etika. āSama seperti para sufi yang lebih mengedepankan cahaya daripada wacana,ā jelasnya.
Oleh sebab itu, hal yang harus selalu dipegang para pegiat Medos yang berlatarbelakang Nahdliyin adalah memikirkan dulu secara matang, apa yang akan diunggah. āBukan posting dulu baru mikir,ā sergahnya.
Dirinya mengemukakan agar dalam bermedos juga dilandasi dengan riang gembira, bukan dendam apalagi menjatuhkan seseorang. āKomunikasi harus dilandasi dengan rahmat, bukan balas dendam,ā tegasnya. Sebab kalau dilandasi dengan sifat negatif, tidak akan berdampak apa-apa, malah orang akan cenderung lari, lanjutnya.
Yang juga harus diingat adalah saat akan menulis atau berbagi apa saja di Medsos, hendaknya dilandasi dengan kasih sayang. āKalaupun harus berdebat maupun membantah, hendaknya diawali dengan istighfar, agar hati orang lain bisa terbuka,ā sarannya.
Dalam pandangannya, ini pula yang akan menjadi kekuatan Nahdliyin. āDan khazanah seperti ini yang justru harus dijaga dalam berinteraksi, termasuk di Medsos,ā tandasnya.
Forsilatnas VIII berlangsung Sabtu hingga Ahad (27-28/4). Narasumber yang hadir pada kegiatan hari pertama antara lain H Zainal Arifin, Fauzi Priambodo, Ubaidillah sadewo, Ustadz Ahmad Muntaha, Hakim Jayli, Arif Affandi, dan Edi Kurniawan.
Sedang pada kegiatan di hari kedua diisi dengan worshop yang diikuti ratusan peserta dari perwakilan pesantren dan kampus di tanah air. (Ibnu Nawawi)