Nasional

KH Ma'ruf Amin: Halal Bihalal Momentum Perkuat Ukhuwah

NU Online  ·  Senin, 13 April 2026 | 19:00 WIB

KH Ma'ruf Amin: Halal Bihalal Momentum Perkuat Ukhuwah

Mustasyar PBNU KH Maruf Amin saat Halal Bihalal Majelis Alumni IPNU di Jakarta, Ahad (12/4/2026) malam. (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online

 

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma'ruf Amin menegaskan bahwa halal bihalal merupakan momentum penting dalam rangka memperkuat persaudaraan (ukhuwah) personal maupun secara organisasi atau kelembagaan. 

 

“Dari sisi keorganisasian, momentum halal bi halal ini merupakan jalan untuk saling memaafkan dan merajut kembali ukhuwah antar sesama manusia yang sebelumnya pernah ternoda oleh kesalahan dan kekhilafan yang diperbuat,” ujarnya acara Halal Bihalal Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (MA IPNU) di Hotel Acacia Jakarta, Ahad (12/4/2026) malam.

 

Lebih lanjut, Kiai Ma'ruf menjelaskan bahwa tugas manusia sebagai khalifatullah fil ardh dalam rangka beribadah kepada Sang Pencipta serta memakmurkan bumi.

 

"Allah mengatakan Dia lah yang menjadikan kamu dari tanah dan meminta kamu, yaitu tanggung jawab untuk memakmurkan bumi. Sebab memakmurkan bumi merupakan bagian daripada tugas khalifah," jelasnya.

 

Ia pun mengingatkan kepada yang hadir agar istiqamah dalam menjaga segala hal baik yang telah dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya untuk tetap dalam kebaikannya dan tidak melakukan tindakan yang merusak.

 

Tak berhenti di situ, Kiai Ma'ruf turut berpesan agar sesuatu yang baik tersebut mesti ditambah agar menjadi lebih baik lagi. "Artinya menjaga yang ada jangan sampai kita merusak. Kemudian menambah kebaikannya dengan melakukan transformasi dan melakukan inovasi," pungkasnya.

 

 

Sementara itu, Ketua Umum Majelis Alumni IPNU yang juga Katib Syuriah PBNU Prof Asrorun Niam Sholeh menyatakan, salah satu nilai yang menjadi fondasi tegaknya jam’iyyah NU adalah komitmen persatuan, sebagaimana nampak dalam Muqaddimah Qanun Asasi.

 

“Karenanya, kita perlu kebali kepada Qanun Asasi sebagai pijakan berorganisasi, komitmen ke depan harus membangan kesadaran kembali kepada Mabda Organisasi, kesatuan dan persatuan untuk mengoptimalkan perkhidmatan,” ujar Prof Niam.

 

Dalam kesempatan tersebut, ia menggarisbawahi pentingnya persatuan sebagai fondasi utama berdirinya jam’iyah Nahdlatul Ulama. Menurutnya, semangat kebersamaan harus terus dirawat agar tidak mudah terpecah oleh perbedaan orientasi, baik keagamaan maupun politik.

 

Lebih lanjut Guru Besar Bidang Fiqih ini menjelaskan, mengingat geneologi NU itu adalah komitmen bersatu, maka idealnya, tidak ada ruang yang di NU terhadap pertikaian dan perpecahan.

 

“Jika pengurus dan jamaah NU memahami utuh Qanun Asasi serta menjadikannya sebagai pijakan, maka pasti tak ada pertentantangan yang menjurus pada perpecahan atau syiqaq berkepanjangan. Di sinilah pentingnya kita kembali pada Qanun Asasi”, jelasnya

 

Karenanya, jika ada perbedaan pandangan di antara pihak, maka yang lain harus berperan sebagai juru damai, bukan menjadi kompor yang memanaskan, dengan menggunakan mabda’ serta mekanisme organisasi sebagai pedoman.

 

“Muktamar NU ke depan harus menjadi jalan menuju persatuan dan kebersamaan, dengan menempatkan norma yang ada dalam Muqaddimah Qanun Asasi sebagai pijakan”, ujarnya.

 

Dalam momentum Halal Bihalal itu, Ketua MUI Bidang Fatwa ini juga menyampaikan pesan mendalam tentang hakikat silaturahim sebagai perekat utama persaudaraan di tengah perbedaan.

 

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Halal Bihalal bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan momentum untuk “mempertautkan hati” demi menjaga dan mempererat hubungan antarsesama.

 

Ia mengingatkan pentingnya menyelesaikan konflik secara bijak dan tidak menjauh dari kebersamaan, sebagaimana nasihat orang tua yang selalu relevan dalam kehidupan sehari-hari.

 

“Perbedaan pilihan, afiliasi, maupun pandangan adalah hal yang tidak bisa dihindari. Namun, dengan bertemu dan bersilaturahim, minimal kita bisa membangun kesepahaman, meskipun belum tentu langsung mencapai kesepakatan,” ujarnya.

 

Ia juga menekankan bahwa dalam kehidupan berorganisasi, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama, seluruh elemen harus tetap berpegang pada prinsip dasar yang telah diwariskan para pendiri, yang termaktub dalam Muqaddimah Qanun Asasi.

 

Prinsip tersebut mencakup komitmen persatuan dan persaudaraan, memegang ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, pentingnya sanad keilmuan, keikhlasan dalam berkhidmat, serta tanggung jawab menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Lebih lanjut, beliau mengingatkan bahwa perubahan zaman menuntut adanya adaptasi, namun tidak boleh menggeser nilai-nilai fundamental organisasi. “Kita harus mampu membedakan mana yang prinsip dasar yang tidak boleh berubah, dan mana yang bisa disesuaikan dengan perkembangan zaman,” tegasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang