Lawatan Raja Salman Diharapkan Redam Perdebatan Agama di Indonesia
NU Online · Jumat, 10 Maret 2017 | 15:01 WIB
Indonesia tengah sibuk menerima lawatan orang nomor satu Kerajaan Arab Saudi Raja Salman Abdulazis al- Saud beserta rombongannya. Bahkan, agenda yang awalnya selama sembilan hari dari1 sampai 9 Maret, kini ditambah tiga hari.
Pengamat Timur Tengah Robi Sugara menganggapi hal itu sebagai lawatan yang sangat positif. Menurutnya, itu menunjukkan gagasan neoliberal mendapatkan tempat yang baik dalam hubungan antarnegara.
“Neoliberal yang dimaksud adalah negara lebih mengedepankan kerja sama ekonomi daripada pendekatan militer, seperti kepentingan soal kuota haji dan bisnis travel,” ujar dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut, Rabu, (8/3).
Menurut dia, Arab Saudi mulai melirik negara-negara Muslim yang dulu dipandang sebelah mata karena dampak dari perubahan arah politik selama konflik Suriah, perang Yaman dan kemenangan Donald Trump.
“Arab juga punya kepentingan di sektor ini di mana dunia pelan-pelan tidak lagi bergantung sama minyak Arab. Hal ini nantinya akan timbul saling ketergantungan dalam bidang kerja sama ekonomi,” ungkapnya.
Selain kerja sama ekonomi, tambahnya, Raja Salman juga membawa pesan toleransi ke Indonesia. Salah satu bentuknya yaitu kunjungan ke beberapa pariwisata, salah satunya Bali.
“Hal itu sangat simbolik. Di situ terlihat bahwa Raja Salman tidak bawa “agama” datang ke Indonesia kecuali memberikan gambaran soal kerukunan antarumat beragama,” ujar pria yang pernah aktif di PMII Ciputat tersebut.
Ia berharap, kunjungan Raja Salman dapat meredam perdebatan agama di Indonesia. Sekaligus memukul balik kelompok intoleran yang pada awalnya menempatkan Arab di belakang kelompok puritan yang intoleran.
Bahkan, langkah seperti ini menurutnya, perlu dilakukan secara terus-menerus untuk melawan ideologi ekstrem dalam Islam yang saat ini marak berkembang.
“Makanya ada meme kok enggak cingkrang, kok enggak berjenggot, kok tangannya pas shalat posisinya biasa saja,” ujarnya.
Selain dampak positif itu, menurutnya kita juga perlu mewaspadai kekuatiran dunia yang muncul terkait kecurigaan penyebaran ideologi Salafi Wahabi.
“Mengingat saat ini dunia bergerak ke timur (Asia), konflik juga akan pindah ke sini, karena ada banyak negara super power dan middle power berebut kepentingan,” pungkasnya. (M. Ilhamul Qolbi/Abdullah Alawi)
Terpopuler
1
5 Santri Laki-laki Jadi Korban Pelecehan Seksual, Syekh Ahmad Al Misry Jadi Tersangka
2
Kisah Rombongan Gus Dur Diberondong Senapan di Timor Leste
3
Resmikan Klinik di Cilacap, Gus Yahya: Harus Profesional, Bukan Sekadar Khidmah
4
KA Jarak Jauh Tabrak KRL di Bekasi Timur, Gerbong Perempuan Ringsek
5
3 Orang Tewas dalam Tabrakan Kereta di Bekasi, KAI Minta Maaf Fokus Evakuasi
6
Haji 2026: 5.426 Jamaah Aceh Siap Terbang, Ini Rute dan Jadwalnya
Terkini
Lihat Semua