Denpasar, NU Online
Pengalaman NU menyetujui penghapusan tujuh kata dalam sila pertama Pancasila juga pernah terjadi pada zaman Nabi Muhammad SAW. Atas tuntutan sejumlah musyrikin Mekkah, Rasulullah rela mencoret tujuh kata yang tertuang dalam Perjanjian Hudaibiyah.<>
āIni luar biasa. Ada kesamaan antara sejarah umat Islam dan Nahdlatul Ulama,ā terang Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Masāudi dalam sambutan Rapimnas LTMNU Region VIII PWNU Bali, Senin (9/7), di Denpasar.
Masdar menjelaskan, sebelum dicoret Perjanjian Hudaibiyah memuat kata-kata ābismillahir rahmanirrahimā dan ārasulillahā. Sejumlah orang Mekah yang tidak terima menuntut penghapusan tujuh kata itu (bi, ism, Allah, ar-rahman, ar-rahim, rasul, Allah) untuk digantikan dengan redaksi yang lebih netral.
Penggalan sejarah ini, menurutnya, membuktikan bahwa sikap NU terhadap ideologi kebangsaan NKRI sudah ada di jalur yang tepat. KH Hasyim Asyāari sendiri yang memberikan keberanian moral kepada putranya KH Wahid Hasyim untuk mencoret tujuh kata Pancasila yang berbunyi ādengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknyanyaā.
āMelalui istikharah dan inayah dari Allah SWT, Hadratus Syaikh mengikhlaskan untuk mencoret tujuh kata. Ini adalah amal jariyah NU kepada bangsa ini,ā tuturnya.
Kiai asal Purwokerto ini menambahkan, sikap ini berpijak pada ajaran pokok NU yang dalam hal kenegaraan di antaranya menganut prinsip keadilan dan permusyawaratan.Ā
āBagi warga NU secara konseptual Pancasila sudah Islami,ā tandasnya.
Redaktur : Syaifullah Amin
Penulis Ā Ā : Mahbib Khoiron
Terpopuler
1
Habib Umar bin Hafidz Kunjungi PBNU, Ada Tiga Agenda di Dalamnya
2
Bolehkah Suami Menggunakan Tabungan Istri untuk Membayar Utang?
3
Khutbah Jumat: Hak atas Udara Bersih untuk Menjaga Kesehatan Pernapasan
4
BNPB Sebut 639 Hektare Lahan Masih Terbakar di Enam Provinsi
5
Kemenhaj Imbau Jamaah Umrah Indonesia Waspada, Pastikan Kesiapan Perjalanan
6
Profil KH Afifuddin Muhajir, Wakil Rais Aam PBNU Ahli Ushul Fiqih
Terkini
Lihat Semua