Nasional

Masjid Berpotensi Jadi Pusat Ketahanan Iklim dan Penanganan Bencana

NU Online  ·  Kamis, 8 Oktober 2026 | 08:00 WIB

Masjid Berpotensi Jadi Pusat Ketahanan Iklim dan Penanganan Bencana

Peluncuran Panduan Masjid sebagai Pusat Ketahanan Iklim Berbasis Komunitas di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (7/10/2026). (NU Online/Jannah) 

Jakarta, NU Online

Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga memiliki peran penting dalam menghadapi bencana dan krisis iklim. Berdasarkan Sistem Informasi Masjid (SIMAS) Kementerian Agama (Kemenag), terdapat 710.739 masjid dan mushala yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia.

 

Dengan jumlah tersebut, masjid berpotensi menjadi ruang perlindungan ketika bencana terjadi sekaligus pusat edukasi tentang krisis iklim bagi masyarakat.

 

Pegiat lingkungan sekaligus Founder EcoMasjid Hayu Prabowo menilai masjid perlu memperkuat kesiapsiagaan bencana karena kerap menjadi tempat pertama untuk evakuasi, terutama di tengah semakin seringnya bencana yang berkaitan dengan perubahan iklim.

 

Menurut Hayu, masjid memiliki fungsi penting dalam penanganan bencana karena dapat menjadi tempat pengungsian sementara sekaligus lokasi distribusi bantuan bagi masyarakat terdampak setelah bencana.

 

“Pasalnya, masjid kerap kali digunakan sebagai tempat pengungsian sementara hingga distribusi bantuan bagi para korban setelah bencana mereda,” ujarnya dalam acara Peluncuran Panduan Masjid sebagai Pusat Ketahanan Iklim Berbasis Komunitas di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (7/10/2026).

 

Ia menyampaikan, peran tersebut juga terlihat ketika kebakaran hutan dan lahan melanda sejumlah wilayah. Saat itu, pengurus masjid memanfaatkan ruang masjid sebagai rumah oksigen untuk memberikan perlindungan kepada korban kabut asap, terutama anak-anak, ibu hamil, lansia, dan kelompok rentan lainnya.

 

“Kebakaran hutan dan lahan yang melanda, membuat para pengurus masjid memanfaatkan ruang masjid menjadi rumah oksigen bagi para korban kabut asap, terutama anak-anak, ibu hamil, lansia, dan kelompok rentan lainnya,” tuturnya.

 

Hayu juga menyampaikan bahwa penanaman nilai-nilai lingkungan dalam kehidupan sehari-hari bagi pengelola masjid dan jamaah merupakan wujud tanggung jawab manusia sebagai khalifah fi al-ardl yang diperintahkan Allah swt untuk mengemban amanah dan memakmurkan bumi.

 

“Selain itu, upaya menggerakkan jamaah dan komunitas dalam aksi iklim setiap hari juga menjadi bagian dari ikhtiar kita untuk saling membantu dalam kebaikan dan memakmurkan masjid, terutama di tengah ancaman krisis iklim yang memberikan dampak besar untuk kehidupan kita sehari-hari,” katanya.

 

Senada, Kepala Proyek Ummah for Earth Greenpeace Indonesia Riska Rahman menyampaikan bahwa masjid merupakan ruang yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan komunitas dan berpotensi menjadi bagian dari solusi menghadapi krisis iklim.

 

Ia menambahkan, peran masjid dapat mencakup pendidikan lingkungan, penyebaran informasi kebencanaan, penyediaan posko perlindungan saat bencana, hingga penggerakan aksi lingkungan berbasis komunitas.

 

“Ketika bicara tentang masjid yang tangguh, kita tidak hanya bicara soal seberapa kokoh bangunannya, tetapi juga ketangguhan jamaah dan komunitas di sekitarnya. Ummah for Earth Greenpeace Indonesia melihat bahwa ketahanan masjid dalam menghadapi krisis iklim dapat dibangun melalui pengetahuan, gotong royong, pemanfaatan instrumen ZISWAF untuk lingkungan, serta aksi nyata yang dilakukan jamaah dan anggota komunitas di sekitarnya,” ucapnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang