Muktamar Sahkan Peta Jalan "NU Digdaya 2050", Ini 3 Lapis Strateginya
NU Online · Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:15 WIB
Alissa Wahid saat memimpin Sidang Komisi Program di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada Sabtu (29/8/2026). (Foto: Suwitno)
Umi Kholifah
Kontributor
Jombang, NU Online
Peta Jalan "NU Digdaya 2050" yang dirumuskan oleh Sidang Komisi Program Muktamar Ke-35 NU resmi disahkan dalam Sidang Pleno III di Gedung Serbaguna KH Hasbullah Said, Tambakberas, Jombang, pada Sabtu (29/8/2026). Peta jalan ini diharapkan dapat menjadikan NU sebagai perkumpulan yang kuat, tangguh, dipercaya, dan bermartabat.
Alissa Wahid, Pimpinan Sidang Komisi Program menyebut bahwa Muktamar Ke-35 ini mencetak sejarah baru dalam forum perumusan program muktamar dari masa ke masa, untuk pertama kalinya Komisi Program berhasil menghasilkan sebuah peta jalan (roadmap) jangka panjang yang jelas.
"Peta jalan ini adalah amanah Muktamar ke-34 NU, mengingat NU memasuki abad keduanya. Peta jalan ini akan menjadi panduan agar NU menjadi jam'iyyah yang digdaya, yang mampu mengoptimalkan SDM nya ke arah yang tepat," katanya.
Ia menjelaskan, untuk mencapai peta jalan ini NU harus menyelesaikan terlebih dahulu ada 3 lapis pekerjaan yang harus mulai dilakukan dari bawah dan perlahan naik ke atas. Tiga pekerjaan tersebut ialah, landasan transformasi, pilar kemaslahatan, dan khidmah peradaban.
"Pekerjaan pertama yang harus dilakukan adalah landasan transformasi yang dimulai dari penguatan jati diri NU, lalu memastikan landasan transformasi bisa kita selesaikan dengan tata kelola, kaderisasi dan transformasi digital," jelasnya.
Langkah selanjutnya adalah 4 pilar kemaslahatan, yaitu pengembangan pesantren dan Aswaja, keunggulan sumber daya manusia SDM NU, kesejahteraan sosial ekonomi dan pelestarian lingkungan berkelanjutan. Setelah dua pekerjaan tersebut terlaksana dengan baik, langkah terakhirnya ialah khidmah bagi bangsa dan peradaban.
"Perlu diingat bahwa visi digdaya itu tidak akan tercapai jika kita lalai pada penguatan jati diri NU. Sangat dibutuhkan kerja keras untuk menguatkan ideologi Aswaja an-nahdliyyah di tiap warga NU termasuk pengurus," tegasnya.
Putri Gus Dur ini menyebut, pentingnya penguatan Aswaja an-nahdliyyah ini juga merupakan aspirasi kuat dari para muktamirin agar PBNU memberikan pendampingan yang lebih intensif, khususnya kepada struktur organisasi di daerah-daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Keutamaan Mendoakan Keluarga yang Sudah Meninggal pada Hari Jumat
2
Khutbah Jumat: Sedekah Jumat Berkah, Menghidupkan Hari Mulia dengan Kebaikan
3
Mengenal Enam A’wan PBNU 2026-2031 dari Kalangan Guru Besar dan Rektor Perguruan Tinggi
4
Sembilan Hakim MK Diadukan ke MKMK karena Tunjukkan Ijazah Gibran ke Pemohon
5
Khutbah Jumat: Menjaga Diri dari Maksiat Digital di Era Media Sosial
6
PBNU Sosialisasikan AD/ART Baru, Konferensi PWNU, PCNU, dan PCINU Dimulai 1 November 2026
Terkini
Lihat Semua