Ciamis, NU Online
Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. Mas’udi mengatakan bahwa NU adalah jangkar keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sekiranya tak ada NU, Indonesia sudah dan akan berkeping-keping.
<>
Pernyatannya itu, ditunjang dengan fakta-fakta sejarah. Pada tanggal 17 Agustus 1945, ada sekelompok tokoh dari Indonesia timur meminta tujuh kata dalam Pancasila sila pertama dibuang. Ketujuh kata itu adalah “dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”
Bung Karno, pemimpin bangsa waktu itu, sangat dilematis menghadapi permintaan itu. Pasalnya, kalau tidak dibuang, Indoensia Timur akan melepaskan diri. Bung Karno kemudian mencari tokoh Islam yang punya pengaruh luas di masyarakat.
“Kalau yang populer banyak di Jakarta, tapi yang berpengaruh luas tidak ada,” kata kiai kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, di hadapan 200 peserta Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) Pengurus Pusat LTMNU bekerjasama dengan PCNU Ciamis, dan PT Sinde Budi Sentosa di aula PCNU Ciamis, (9/2).
Pada waktu itu, yang memiliki kekuatan dan pengaruh luas, hanyalah Rais Akbar NU, KH Hasyim Asy’ari. Ia punya jaringan pesantren di seluruh Nusantara, bukan hanya di Sumatera, tapi Kalimantan, Sulawesi, bahkan Indonesia Timur.
Melalui putrnya, KH Wahid Hayim, Bung Karno mengomunikasikan pembuangan tujuh kata dalam Pancasila tersebut.
Setelah malamnya istikhoroh, pagi harinya Mbah Hasyim bilang, tidak apa-apa tujuh kata itu dibuang, yang penting “maharnya” Indonesia dari Sabang sampai Merauke utuh.
“Pertimbangan beliau (KH Hasyim Asy’ari), saya kira pertimbangan langit juga,” tambah Kiai Masdar.
Jika tujuh kata itu tidak dibuang, Indonesia Timur akan lepas. Kalimatan, Sulawesi, mungkin Sumatera juga akan menyusul. Tinggal Jawa dan Madura.
Jawa juga tak bisa dijamin untuk dipertahankan. Misalnya, Jawa Timuur bagian timur, memiliki etnis yang berbeda dengan bagian barat. Jadi pasti Jawa Timur pun, tidak utuh. Jawa tengah itu, antara Yogya dan Solo itu mufaroqoh. Sementara Jawa Barat, antara Banten, Pasundan, dan Cirebon juga berbeda.
“Kalau tidak dicoret tujuh kata itu harganya sangat mahal.”
Penulis: Abdullah Alawi
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Meneladani Hidup Rasulullah di Masa Ekonomi Sulit
2
Khutbah Jumat: Sebelum Memilih dan Memutuskan, Bertanyalah kepada Allah melalui Istikharah
3
Bahlil Janji BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026, Pertamax Malah Melonjak Jadi Rp16.250 per Liter
4
Gus Ipul: Pembukaan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan Masih Sebatas Usulan
5
Menjaga Marwah Pemilihan Pengurus NU: Catatan dari Sowan kepada KH Afifuddin Muhajir
6
Pendaftaran Seleksi Beasiswa Al-Azhar Mesir Melalui Akun Pesantren, Berikut Panduannya
Terkini
Lihat Semua