Hari Ini Gerhana Matahari Total di Eropa dan Afrika, Tak Dapat Disaksikan di Indonesia
NU Online · Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:00 WIB
Muhammad Syakir NF
Penulis
Jakarta, NU Online
Gerhana Matahari Total terjadi pada 29 Safar 1448 H /12-13 Agustus 2026. Peristiwa ini tampak terjadi di sebagian wilayah Eropa, Afrika, dan Amerika Utara. Karena saat peristiwa terjadi sudah mengalami malam, hal tersebut tak dapat disaksikan di Indonesia.
"Wilayah gerhana Matahari ini hanya meliputi sebagian kecil dari bola Bumi yang sedang mengalami siang hari. Tepatnya hanya meliputi hemisfer (belahan) utara Bumi," kata Ma'rufin Sudibyo, Wakil Sekretaris Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU), kepada NU Online pada Selasa (11/8/2026).
Ia menjelaskan bahwa wilayah GMT 29 Safar 1448 H terdiri atas dua zona, yakni zona totalitas dan zona sebagian. Zona totalitas berupa area sempit dengan lintasan yang memanjang dari Rusia Arktika di Provinsi Krasnoyark Krai (saat Matahari terbit setempat, bertepatan dengan 12 Agustus jam 23:08 WIB), lalu ke Denmark (Greenland), Islandia dan berakhir di Portugal dan Spanyol (saat Matahari terbenam setempat, bertepatan dengan 13 Agustus jam 00:39 WIB).
"Hanya di lintasan ini saja fase total (yakni tertutupinya cakram Matahari oleh bundaran Matahari) terjadi. Durasi totalitas terpanjang akan terjadi di Islandia bagian barat (2 menit)," katanya.
Sementara wilayah gerhana lainnya yang meliputi sebagian benua Amerika Utara dan sebagian Eropa hanya akan berupa zona sebagian. "Negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim yang tercakup dalam zona sebagian ini misalnya Tunisia, Aljazair, dan Maroko," katanya.
Senada, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa fenomena Gerhana Matahari Total yang terjadi pada Rabu, 12 Agustus 2026, tidak dapat diamati dari wilayah Indonesia. Sebab, jalur lintasan gerhana tersebut tidak melewati wilayah Nusantara dan fasenya berlangsung saat Indonesia berada pada waktu malam hari.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa masyarakat di kawasan Eropa, Rusia bagian utara, Afrika bagian barat laut, serta Amerika Utara menjadi wilayah yang berkesempatan menyaksikan fenomena astronomis ini secara langsung.
“Untuk masyarakat Indonesia yang ingin menyaksikan peristiwa Gerhana Matahari Total dapat mengikutinya melalui kanal resmi NASA,” kata Ayu sebagaimana dikutip NU Online pada Rabu (12/8/2026).
Lebih lanjut, fenomena skala global ini dimulai dari fase Gerhana Sebagian (P1) pada pukul 15.34 UT (22.34 WIB), memasuki fase Gerhana Total di lokasi awal (U1) pada pukul 16.57 UT (23.57 WIB), dan mencapai puncaknya pada pukul 17.45 UT (00.45 WIB, 13 Agustus 2026). Keseluruhan proses gerhana berakhir sepenuhnya pada pukul 19.57 UT (02.57 WIB, 13 Agustus 2026).
Untuk diketahui, Gerhana Matahari Total terjadi ketika Matahari, Bulan, dan Bumi berada dalam satu garis lurus saat fase Bulan Baru. Pada puncaknya, piringan Bulan akan menutupi piringan Matahari secara utuh dari sudut pandang Bumi, sehingga mengubah suasana siang hari menjadi gelap selama beberapa saat di wilayah yang terlintasi jalur bayangan inti (umbra). Sementara itu, wilayah yang hanya terlintasi bayangan samar (penumbra) akan menyaksikan fenomena sebagai Gerhana Matahari Sebagian.
BMKG juga mengingatkan masyarakat yang berada di lokasi pengamatan untuk tidak melihat Matahari secara langsung tanpa pelindung, melainkan wajib menggunakan kacamata khusus berfilter matahari. Hal ini penting sebagai langkah preventif untuk menjaga keselamatan mata.
Terpopuler
1
Besok Rebo Wekasan, Berikut Amalan dan Doa yang Dianjurkan
2
Alma Esbeye Siap Tampil Meriahkan Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas
3
Ngaji Al-Hikam, Perlu Fase Menepi dari Ketenaran dalam Hidup
4
KH Nasaruddin Umar Mengaku Dapat Dorongan Maju Ketua Umum PBNU, Soroti Tantangan Kepemimpinan NU
5
Muktamar ke-35 NU Bahas Hukum DNA, Kripto, hingga Pasang Chip di Otak
6
Muktamar Ke-35 NU Bahas Revisi UU Sisdiknas dan Ketenagakerjaan, hingga Qanun Jinayat Aceh
Terkini
Lihat Semua