Pengamat Transportasi: Efisiensi Logistik Jangan Korbankan Keselamatan Masyarakat
NU Online · Kamis, 6 Agustus 2026 | 13:30 WIB
Ilustrasi: Truk dengan Over Dimension Over Loading merusak jalan dan memicu kecelakaan (NU Online/AI Generated)
Haekal Attar
Penulis
Jakarta, NU Online
Pengamat dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno menilai bahwa efisiensi logistik tidak boleh dicapai dengan mengorbankan keselamatan masyarakat di jalan raya. Menurutnya, kecelakaan truk angkutan barang yang terus berulang menunjukkan masih adanya masalah dalam sistem logistik nasional.
"Ketika truk ODOL (Over Dimension Over Loading, yaitu kendaraan angkutan barang yang melanggar ketentuan ukuran atau muatan, Red) dibiarkan merusak jalan publik dan memicu kecelakaan fatal, masyarakat sebenarnya sedang menyubsidi keuntungan para pelaku industri dengan nyawa dan pajak mereka melalui APBN atau APBD untuk perbaikan jalan," katanya kepada NU Online pada Kamis (6/7/2026).
Djoko melihat bahwa penyebab kecelakaan tidak bisa hanya dibebankan kepada sopir. Ia menilai, banyak pengemudi bekerja dalam tekanan, seperti mengendarai kendaraan yang tidak layak jalan atau bekerja melebihi batas waktu demi memenuhi target perusahaan.Â
"Maka akar masalahnya adalah kegagalan Sistem Manajemen Keselamatan  Perusahaaan Angkutan Umum (SMK PAU) di tingkat korporasi dan longgarnya pengawasan hulu, bukan sekadar kesalahan taktis di balik kemudi," jelasnya.
Pemerintah Perlu Perkuat Angkutan Barang Lewat Kereta dan Laut
Djoko menilai, tingginya angka kecelakaan menunjukkan angkutan barang masih terlalu bergantung pada jalan raya. Menurutnya, pemerintah perlu meningkatkan penggunaan kereta api barang dan jalur laut agar beban angkutan di jalan berkurang.
Ia menegaskan bahwa percepatan perpindahan ke moda transportasi yang lebih aman dan berkapasitas besar perlu dilakukan untuk mengurangi kepadatan serta risiko kecelakaan di jalan.
"Tingginya angka kecelakaan angkutan barang sebenarnya menurunkan daya saing logistik nasional di mata global," katanya.
Ia juga mendorong pemerintah memperkuat pengawasan dengan memanfaatkan teknologi, seperti jembatan timbang digital, pembatas kecepatan, dan alat pemantau jam kerja pengemudi yang terhubung langsung dengan sistem pemerintah.
"Jika kecelakaan masih terus terjadi, itu adalah sinyal kuat bahwa aspek keselamatan masih ditempatkan di bawah kepentingan ekonometrik atau logistik jangka pendek," katanya.
Ia mengatakan bahwa sistem logistik yang baik tidak hanya harus cepat dan murah, tetapi juga aman dan andal.
"Angka fatalitas yang tinggi mencerminkan risiko investasi yang besar akibat potensi kerusakan barang, keterlambatan pengiriman, dan biaya asuransi yang tinggi," katanya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Beribadah Bukan Transaksi, Meluruskan Hubungan antara Hamba dengan Tuhan
2
Khutbah Jumat: Spirit Sumpah Pemuda, Jangan Bungkam Suara Anak Muda yang Peduli Bangsa
3
Khutbah Jumat: Pentingnya Menolong Tetangga di Tengah Kesulitan Ekonomi
4
Khutbah Jumat: 3 Alasan Pemerintah Wajib Mendengarkan Aspirasi Rakyat
5
NU Online Raih AMSI Awards 2026 Kategori Inovasi Strategi dan Engagement Terbaik
6
PBNU Terima Kunjungan BTN dan BSN, Bahas Akses KPR Subsidi bagi Warga NU
Terkini
Lihat Semua