Pentingnya Rasa Cinta dalam Belajar
NU Online Ā· Selasa, 10 September 2013 | 02:01 WIB
Ada seorang santri dari Indonesia menuntut ilmu di Rubath Tarim pada zaman Habib Abdullah bin Umar Asy Syathiri. Setelah di sana 4 tahun, santri itu minta pulang. Dia pamit minta izin pulang kepada Habib Abdullah.<>
āHabib, saya mau pulang saja.ā
āLho, kenapa?ā tanya beliau.
āBebal otak saya ini. Untuk menghafalkan setengah mati. Tidak pantas saya menuntut ilmu. Saya minta izin mau pulang.ā
āJangan dulu. Sabar.ā
āSudah Bib. Saya sudah empat tahun bersabar. Sudah tidak kuat. Lebih baik saya menikah saja.ā
āSebentar, saya mau mengetes dulu bagaimana kemampuanmu menuntut ilmu.ā
āSudah bib. Saya menghafalkan setengah mati. Tidak hafal-hafal.ā
Habib Abdullah kemudian masuk ke kamar, mengambil surat-surat untuk santri itu. Pada masa itu surat-surat dari Indonesia ketika sampai di Tarim tidak langsung diberikan. Surat tersebut tidak akan diberikan kecuali setelah santri itu menuntut ilmu selama 15 tahun. Habib Abdullah menyerahkan seluruh surat itu kepadanya, kecuali satu surat. Setelah diterima, dibacalah surat-surat itu sampai selesai. Satu surat yang tersisa kemudian diserahkan.
āIni surat siapa?ā tanya Habib.
āOwh, itu surat ibu saya.ā
āBacalah!ā
Santri itu menerima surat dengan perasaan senang, kemudian dibacanya sampai selesai. Saat membaca, kadang dia tersenyum sendiri, sesekali diam merenung, dan sesekali dia sedih.
āSudah kamu baca?ā tanya beliau lagi.
āSudah.ā
āBerapa kali?ā
āSatu kali.ā
āTutup surat itu! Apa kata ibumu?ā
āIbu saya berkata saya disuruh nyantri yang bener. Bapak sudah membeli mobil baru. Adik saya sudah diterima bekerja di sini, dan lain-lain.ā Isi surat yang panjang itu dia berhasil menceritakannya dengan lancar dan lengkap. Tidak ada yang terlewatkan.
āBaca satu kali kok hafal? Katanya bebal gak hafal-hafal. Sekarang sekali baca kok langsung hafal dan bisa menyampaikan.ā kata Habib dengan pandangan serius.
Santri itu bingung tidak bisa menjawab. Dia menganggap selama ini dirinya adalah seorang yang bodoh dan tidak punya harapan. Sudah berusaha sekuat tenaga mempelajari ilmu agama, dia merasa gagal. Tetapi membaca surat ibunya satu kali saja, dia langsung paham dan hafal.
Habib Abdullah akhirnya menjelaskan kenapa semua ini bisa terjadi. Beliau mengatakan,
ĆāĆĀĆĀ£ĆŽĆā ĆāĆŽĆĘĆŽ ĆāƎƱƎĆĀ£ĆāĆĀŖĆŽ ƱĆĀĆ³ĆŽĆ§ĆāĆŽĆĀ©ĆŽ ĆĀ£ĆĀĆā¦ĆĀĆāĆĘĆŽ ĆĀØĆĀƧĆāĆĀƎƱƎĆĀĆĀ ĆĀĆŽĆāĆŽĆĖĆā ĆāƎƱƎĆĀ£ĆāĆĀŖĆŽ ƱĆĀĆ³ĆŽĆ§ĆāĆŽĆĀ©ĆŽ Ćā ĆŽĆĀØĆĀĆÅ ĆĀĆāĆĘĆŽ ĆĀØĆĀƧĆāĆĀƎƱƎĆĀĆĀ ĆāĆŽĆĀĆŽĆĀĆĀĆĀøĆāĆĀŖĆŽ ĆĀØĆĀƧĆāóĆāĆĀƱĆāĆ¹ĆŽĆĀ©ĆĀ
āSebab ketika engkau membaca surat dari ibumu itu dengan perasaan gembira. Ini ibumu. Coba jika engkau membaca syariat Nabi Muhammad dengan bahagia dan bangga, ini adalah Nabiku, niscaya engkau sekali baca pasti langsung hafal. ā
* * *
Banyak saudara-saudara kita (atau malah kita sendiri) yang tanpa sadar mengalami yang dirasakan santri dalam kisah di atas. Jawabannya adalah rasa cinta. Kita tidak menyertakan perasaan itu saat membaca dan mempelajari sesuatu. Sehingga kita merasa diri kita bodoh dan tidak punya harapan sukses.
Banyak orang merasa bodoh dalam pelajaran, tetapi puluhan lagu-lagu cinta dan ratusan nama pemain bola hafal di luar kepala. Padahal tidak mengatur waktu khusus untuk menghapalkannya.
Bagi para guru/pengajar, jangan mudah mengkambinghitamkan kemampuan otak siswa dalam lemahnya menerima pelajaran. Mungkin Anda tidak berhasi; menanamkan cirus cinta di hati mereka. (M. Ahid Yasin)
Ā
*Dikutip dari A. Yasin Muchtarom, āPetuah Bijak dan Kisan Inspiratif Ulama Salaf dan Nusantaraā, Kediri, Lirboyo Press, 2013.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Menjadi Teladan yang Dikenang Sepanjang Zaman
2
Khutbah Jumat: Menyeimbangkan 5 Unsur Utama dalam Diri Manusia
3
Khutbah Jumat: Makna dan Keutamaan Membaca Basmalah
4
Nyak Sandang, Penyumbang Pesawat Pertama RI Asal Aceh Wafat, PWNU Aceh Tegaskan Warisan Keikhlasan
5
Amerika Serikat dan Iran Sepakat Gencatan Senjata Selama Dua Pekan
6
Khutbah Jumat: Zakat, Jalan Menuju Masyarakat Adil dan Peduli
Terkini
Lihat Semua