Hal itu disampaikan oleh KH Fuad Affandi, pengasuhnya saat ini, saat para pengajar Fakultas Islam Nusantara (FIN) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) sowan kepadanya pada Selasa (14/1).
Kiai Fuad menjelaskan bahwa abahnya memusuhi pemerintah. Ada kepala desa terlihat melewati rumahnya, misalnya, pintu rumah langsung ditutup.Tidak hanya itu, sekolah, dan bahkan tembok beton pun diharamkan karena dianggap sebagai tradisi orang kafir.
Namun, sepulang dari Lasem, Jawa Tengah, sekitar tahun 1970-an, Kiai Fuad meyakinkan orang tuanya bahwa pemerintah bukanlah penjajah. Pasalnya, abahnya yang berjuang untuk kemerdekaan itu masih beranggapan pemerintah masih koloni sehingga kebenciannya masih memuncak.
Ia menjelaskan kepada abahnya bahwa presiden saat itu adalah orang Gunung Kidul (Soeharto) yang sama-sama warga Indonesia.
Kiai Fuad juga meminta izin kepada abahnya untuk mendirikan sekolah formal di pondoknya. Sebab, ia menjelaskan kepada orang tuanya bahwa pesantren akan sulit berkembang jika tidak mendirikan sekolah. Pasalnya, ia khawatir masyarakat tidak mondok karena tidak terfasilitasi pendidikan formalnya.
Mendengar penjelasan tersebut, abahnya dengan tulus mengizinkannya. Mulailah saat itu berkembang pendidikan formal hingga menengah atas. "Satu langkah lagi perguruan tinggi," katanya.
Pengajar FIN Unusia Syamsul Hadi menjelaskan bahwa memang ada kecenderungan hal yang sama di zaman itu mengingat program yang dicanangkan oleh Presiden Soeharto, bahwa dalam bekerja perlu ijazah.
"Tuntutan profesi harus punya ijazah resmi. Pondok salaf dulu kan gak punya ijazah. Jadi preferensi masyarakat ya pendidikan harus ijazah," katanya.
Saat ini, pesantren yang diasuhnya terus mengembangkan pertanian. Bahkan sudah mengekspor produknya ke Jepang dan Belanda. Tak sedikit pelajar dan mahasiswa yang turut tinggal di pesantren tersebut demi mengetahui pengembangan pertanian ala Al-Ittifaq.
Pewarta: Syakir NF
Editor: Abdullah Alawi
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Memasuki Bulan Maulid, Sudahkah Kita Meneladani Akhlak Rasulullah?
2
PWNU dan PCNU Se-DIY Tolak Politik Uang dalam Proses Muktamar NU
3
Para Kiai Sepuh Sampaikan Seruan Moral Jelang Muktamar Ke-35 NU, Soroti Penggalangan Dukungan Calon AHWA
4
Lima Kelompok Ini Perlu Jadi Perhatian NU dalam Putusan Muktamar Ke-35 di Tambakberas
5
Khutbah Jumat: Belajar Menjadi Orang yang Amanah dan Profesional dari Rasulullah
6
Iuran Lomba 17 Agustus: Gotong Royong atau Justru Bisa Jadi Judi? Ini Batas Hukumnya
Terkini
Lihat Semua