Rais Aam PBNU Jelaskan Alasan Para Ulama Konsisten Berwirid dan Menuntut Ilmu
NU Online · Jumat, 30 Oktober 2026 | 18:30 WIB
Rais Aam saat memberikan tausiyah dalam Ngaji Syarah Kitab Al-Hikam di Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Jalan Kedung Tarukan No. 100, Surabaya, Jumat (30/10/2026). (Tangkapan layar kanal Youtube Multimedia KH Miftachul Akhyar)
Achmad Risky Arwani Maulidi
Kontributor
Jakarta, NU Online
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menjelaskan alasan para wali dan ulama tetap konsisten mengamalkan wirid meskipun telah memperoleh karomah. Ia merujuk pada pandangan Imam Abu Junaid Al-Baghdadi ketika ditanya oleh Abul Hasan ad-Darraj.
Hal itu disampaikan Kiai Miftach saat memberikan tausiyah dalam pengajian syarah kitab Al-Hikam di Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Jalan Kedung Tarukan Nomor 100, Tambaksari, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (30/10/2026).
Menurut Kiai Miftach, konsistensi para ulama sufi dalam beribadah, mengamalkan wirid, dan menuntut ilmu dilandasi keyakinan bahwa ibadah memiliki faedah tersembunyi yang nilainya lebih berharga daripada harta dan kemewahan duniawi.
"Ibadah menurut orang-orang ahli ma'rifat itu lebih baik daripada mahkota yang dihiasi dengan perhiasan-perhiasan mahal," katanya dalam kanal YouTube Multimedia KH Miftachul Akhyar, mengutip pandangan Abu Junaid.
Kiai Miftach menjelaskan, keyakinan tersebut mendorong para ulama untuk terus mencari dan mendalami ilmu, meskipun telah memiliki kematangan intelektual. Ia mencontohkan Imam Al-Ghazali yang tetap tekun belajar kepada gurunya, Imam Al-Haramain.
"Imam Ghazali itu walaupun karangan kitabnya sudah banyak, selama Imam Haramain masih sehat beliau tetap mengaji apa saja kepada gurunya," tutur Kiai Miftach.
Mulazamah Menjadi Jalan Meraih Keberkahan Ilmu
Pengasuh pengajian syarah kitab Al-Hikam yang rutin digelar setiap Jumat itu mengemukakan bahwa mulazamah atau ketekunan dalam belajar merupakan salah satu upaya untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat dan berkah. Menurutnya, pengkajian secara konsisten dapat membuka pemahaman baru terhadap materi yang dipelajari.
"Walaupun sudah diterangkan sebanyak 27 kali, ketika diterangkan lagi pasti ada hal yang baru, karena ilmu itu selalu berkaitan dengan ilmu-ilmu yang lain," ujarnya.
Ia menambahkan, ilmu menjadi salah satu jalan bagi Allah untuk mengangkat derajat hamba-Nya. Dalam hal ini, Kiai Miftach mengutip potongan Surah Al-Mujadilah ayat 11 yang menjelaskan keutamaan orang-orang beriman dan berilmu.
"Karena itu, melalui ilmu ini lah Allah menaikkan pangkat atau derajat hamba-hambanya," imbuhnya.
Lebih lanjut, Kiai Miftach menjelaskan bahwa pemahaman tidak selalu hadir seketika setelah seseorang mengikuti pengajian. Terkadang, pelajaran yang telah diterima baru menemukan relevansinya ketika seseorang berhadapan langsung dengan persoalan dalam kehidupan bermasyarakat.
"Banyak orang yang mengaji tapi tidak langsung diberi pemahaman tapi besok ketika bertemu masyarakat ilmunya muncul," tuturnya.
Menurutnya, pandangan tersebut menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak semata-mata diukur dari simbol kehormatan duniawi. Bagi ulama yang menjalani laku hakikat dan memiliki kedekatan dengan Allah, ketekunan beribadah, mengamalkan wirid, dan menuntut ilmu memiliki nilai yang lebih tinggi daripada harta maupun jabatan.
"Jadi wajar ketika Imam Junaid komentar ibadah, wirid, mengaji menurut ulama ahli ma'rifat itu lebih baik daripada mahkota raja-raja yang penuh dengan hiasan," tandasnya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Beribadah Bukan Transaksi, Meluruskan Hubungan antara Hamba dengan Tuhan
2
NU Online Institute Buka Seleksi Beasiswa Kuliah di Malaysia bagi Santri, Ini Syarat dan Jadwalnya
3
Khutbah Jumat: Spirit Sumpah Pemuda, Jangan Bungkam Suara Anak Muda yang Peduli Bangsa
4
Lula Menangkan Pilpres Brasil, Cetak Sejarah dengan Empat Kali Masa Jabatan
5
Khutbah Jumat: Pentingnya Menolong Tetangga di Tengah Kesulitan Ekonomi
6
Alvin Tedjo, Pria Keturunan Indonesia yang Terpilih sebagai Wali Kota Mississauga di Kanada
Terkini
Lihat Semua