Nasional

Respons Kabut Asap di Palembang, Dirjen Pendis Tegaskan Ekoteologi sebagai Prioritas Pendidikan Islam

NU Online  ·  Kamis, 8 Oktober 2026 | 12:30 WIB

Respons Kabut Asap di Palembang, Dirjen Pendis Tegaskan Ekoteologi sebagai Prioritas Pendidikan Islam

Dirjen Pendis Kemenagg Prof Amien Suyitno memberikan arahan secara daring dalam ajang 12th International Seminar on Social Humanities and Malay Islamic Civilization (ISSHMIC 2026) di UIN Raden Fatah Palembang, Rabu (7/10/2026) (Kemenag)

Palembang, NU Online

Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama RI Prof Amien Suyitno menyoroti krisis lingkungan hidup yang saat ini melanda berbagai wilayah, khususnya bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan gambut di Sumatra Selatan.

 

Amien Suyitno menegaskan bahwa kerusakan alam yang meluas saat ini bukan sekadar persoalan ekologi, melainkan telah menjadi krisis moral dan spiritual.

 

Pihaknya menyoroti kondisi udara di Palembang yang Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU)-nya dilaporkan sempat melampaui angka 1.000 akibat kabut asap.

 

"Dalam Islam, alam bukanlah sekadar kumpulan sumber daya yang tersedia untuk dieksploitasi oleh manusia. Alam adalah bagian dari ciptaan Allah dan tanda kebesaran-Nya," tegasnya saat memberikan arahan secara daring dalam ajang 12th International Seminar on Social Humanities and Malay Islamic Civilization (ISSHMIC 2026) di UIN Raden Fatah Palembang, Rabu (7/10/2026)

 

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa manusia mengemban amanah besar sebagai khalifah di muka bumi. Kedudukan ini menuntut umat manusia untuk senantiasa menjaga keseimbangan alam atau mizan.

 

Keseimbangan tersebut, menurutnya, mengharuskan pemanfaatan alam diatur berdasarkan prinsip keadilan dan tanggung jawab. Karena itu, tindakan eksploitasi berlebihan atau israf sangat dilarang.

 

"Kebalikannya adalah israf, yakni berlebih-lebihan dan pemborosan. Membuang-buang air, makanan, energi, atau lahan bukan sekadar manajemen yang tidak efisien, melainkan sebuah kegagalan dalam menghargai sumber daya yang dititipkan oleh Allah kepada kita," terangnya.

 

Sebagai langkah konkret dan respons kelembagaan, Dirjen Pendis menyampaikan bahwa penguatan eko-teologi kini telah ditetapkan sebagai salah satu dari delapan program prioritas Kementerian Agama untuk periode 2025-2029. Program ini bertujuan mengintegrasikan nilai-nilai agama ke dalam aksi nyata pelestarian lingkungan di seluruh perguruan tinggi, madrasah, dan pesantren di Indonesia.

 

Ia menegaskan bahwa kepedulian terhadap ekologi di lembaga pendidikan Islam tidak boleh berhenti pada kegiatan yang bersifat formalitas semata. "Ekoteologi tidak bisa diukur dari sekadar upacara seremoni. Pohon yang ditanam untuk difoto lalu dibiarkan mati tidak mewakili kesuksesan ekoteologi," ujar Amien Suyitno.

 

Dirjen Pendis mendorong agar prinsip-prinsip pelestarian alam diwujudkan melalui tindakan nyata yang terintegrasi secara mendalam. "Ekoteologi harus bergerak dari sekadar pengetahuan menjadi kebiasaan, dan dari kebiasaan menjadi budaya institusional. Seorang dosen mungkin menjelaskan konsep khalifah, namun pesan itu akan menjadi kurang meyakinkan jika lampu dan AC dibiarkan tetap menyala di ruang kelas yang kosong," tuturnya.

 

Prof Amien Suyitno mengajak seluruh pimpinan perguruan tinggi dan insan akademik untuk memberikan teladan yang terukur dalam merawat ekosistem.

 

"Mari kita rawat bumi ini, karena keimanan menuntut tanggung jawab, ilmu menuntut tindakan nyata, dan generasi masa depan berhak untuk mewarisi dunia yang layak huni," pungkasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang