Nasional

Super El Nino Menguat, Walhi Desak Strategi Penyelamatan di Daerah Kepulauan

NU Online  ·  Kamis, 21 Mei 2026 | 10:00 WIB

Super El Nino Menguat, Walhi Desak Strategi Penyelamatan di Daerah Kepulauan

Super El Nino dirediksi menguat hingga awal 2027 (Foto:: surfertoday.com)

Jakarta, NU Online

Fenomena El Nino bukan sekadar persoalan cuaca ekstrem, melainkan ancaman serius terhadap keberlanjutan sosial dan ekologis masyarakat pesisir serta kepulauan.


Di tengah prediksi menguatnya super El Nino hingga awal 2027, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mendesak pemerintah segera menyusun strategi penyelamatan di daerah kepulauan yang berbasis keadilan ekologis dan perlindungan ruang hidup masyarakat.

 

Pengkampanye Perlindungan Pesisir dan Laut Walhi Mida Saragih menyampaikan bahwa El Nino dapat memicu fenomena upwelling atau naiknya massa air laut dari dasar ke permukaan. Kondisi ini meningkatkan suplai nutrien di laut. Dampaknya, produktivitas perikanan dan potensi sumber daya ikan diperkirakan meningkat, khususnya di wilayah selatan Jawa hingga barat Sumatra.


Mida menilai lonjakan potensi perikanan itu tidak otomatis menguntungkan masyarakat pesisir. Dalam praktiknya, akses terhadap wilayah tangkap justru lebih mudah dikuasai armada industri yang memiliki modal, teknologi, dan izin usaha besar. Sementara masyarakat pesisir dan nelayan tradisional terus menghadapi tekanan akibat ekspansi industri berbasis sumber daya alam.

 

“Dalam perspektif keadilan kelautan atau blue justice, pertanyaan utamanya bukan hanya ‘ikan bertambah’, tetapi ‘siapa yang bisa mengaksesnya, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang malah tersingkir’. Kita tidak boleh terjebak pada anggapan bahwa laut akan otomatis menjadi penyelamat krisis pangan akibat El Nino. Tanpa tata kelola adil, fenomena ini justru berpotensi mendorong perampasan ruang hidup,” ujarnya kepada NU Online, Rabu (20/5/2026).

 

Ia mengatakan bahwa di wilayah pesisir dan pulau kecil memiliki keterbatasan pasokan air bersih dan bahan pangan. Menurutnya, berbagai proyek pembangunan yang disebut sebagai solusi justru berpotensi memperburuk kerusakan ekologis.


“Kami meminta pemerintah menerbitkan rencana tapak untuk penyelamatan wilayah kepulauan. Secara spesifik, pesisir dan pulau kecil memiliki kerentanan ditandai dengan pasokan air, bahan pangan terbatas. Kerentanan ini sering diperparah oleh solusi semu, seperti proyek geotermal di kawasan konservasi atau revitalisasi perikanan yang justru merusak mangrove,” tegasnya.

 

Mida menjabarkan bahwa saat ini suhu permukaan laut di Samudra Pasifik telah meningkat sekitar 0,5 derajat Celsius di atas normal. Kondisi ini menjadi tanda awal El Nino yang diperkirakan terus menguat dalam beberapa bulan ke depan dan berpotensi berkembang menjadi super El Nino.

 

Ia menambahkan, jika kenaikan suhu bumi terus meningkat, Indonesia berisiko mengalami kekeringan berkepanjangan yang dapat menurunkan produksi pertanian, memperburuk krisis air, hingga mengancam cadangan pangan nasional.


“Konsensus dari lembaga-lembaga iklim mengarah pada urgensi kesiapan menghadapi Super El Nino. Penghentian laju kerusakan, termasuk di kawasan rentan bencana, adalah syarat kesiapsiagaan. Strategi penyelamatan ekosistem mencakup mangrove, lamun dan terumbu karang perlu digarap serius, diintegrasikan dan dijamin implementasinya lewat aturan daerah,” katanya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang