Nasional

Wasekjen PBNU Bahrul Fuad Bicara Penguatan Ekosistem Inklusif di Lingkungan NU

NU Online  ·  Selasa, 6 Oktober 2026 | 19:00 WIB

Wasekjen PBNU Bahrul Fuad Bicara Penguatan Ekosistem Inklusif di Lingkungan NU

Cak Fu saat berkunjung ke Kantor Redaksi NU Online di Gedung PBNU Lantai 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Senin (5/10/2026). (Foto: NU Online/Aceng Darta)

Jakarta, NU Online

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bahrul Fuad mendorong penguatan ekosistem inklusif di lingkungan Nahdlatul Ulama, khususnya dalam memastikan penyandang disabilitas memperoleh akses dan kesempatan yang setara.


Cak Fu, sapaan akrab Bahrul Fuad, mengatakan PBNU telah lama menaruh perhatian terhadap isu inklusivitas. Ia sendiri terlibat dalam penyusunan buku Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas yang terbit pada 2018.


Menurutnya, kehadiran dirinya bersama Gufroni Sakaril sebagai penyandang disabilitas dalam kepengurusan PBNU dapat menjadi bagian dari penguatan komitmen NU terhadap isu inklusivitas.


Hal tersebut disampaikan Cak Fu saat berkunjung ke Kantor Redaksi NU Online di Gedung PBNU Lantai 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Senin (5/10/2026).


Perkuat Ekosistem Inklusif

Cak Fu mengatakan, sejumlah program akan disiapkan untuk memperkuat ekosistem yang lebih inklusif terhadap penyandang disabilitas di lingkungan NU. Menurutnya, penguatan tersebut tidak hanya menyasar organisasi, tetapi juga berbagai sektor.


Upaya tersebut, antara lain, dilakukan melalui pelatihan untuk membangun kesadaran mengenai inklusivitas hingga perbaikan infrastruktur agar dapat diakses penyandang disabilitas.


Dalam diskusi dengan redaksi NU Online, Cak Fu juga mengaitkan isu disabilitas dengan berbagai bidang kajian, seperti ekonomi, budaya, filsafat, fiqih, dan teologi.


Pada bidang teologi, ia secara khusus mengaitkannya dengan Al-Qur'an Surat At-Tin yang berbicara tentang penciptaan manusia.


Berdasarkan ayat tersebut, Cak Fu menjelaskan pemahamannya bahwa Allah SWT menciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna. Menurutnya, ketidaksempurnaan manusia tidak semata-mata dapat dilihat dari kondisi fisik, mental, atau intelektual.


Ia memaknai Surat At-Tin sebagai penegasan bahwa kekurangan manusia berkaitan dengan keimanan dan amal saleh. Dalam pandangan tersebut, berkurangnya keimanan dan minimnya amal saleh justru menjadi bentuk ketidaksempurnaan manusia.


"Ya harusnya yang disebut cacat itu orang-orang yang di KPK itu sekarang," katanya.


Penguatan Kapasitas Redaksi

Dalam waktu dekat, Cak Fu juga menyambut baik usulan redaksi NU Online untuk memberikan penguatan kapasitas kepada jurnalis, penulis, dan kontributor mengenai wawasan inklusivitas.


Pelatihan tersebut diharapkan dapat memperkuat cara berpikir inklusif, menghindari bias, serta meningkatkan kepekaan dalam menghasilkan karya jurnalistik dan tulisan yang memperhatikan perspektif penyandang disabilitas.


Upaya tersebut, kata dia, penting untuk mendorong perubahan pola pikir di lingkungan redaksi sekaligus memperkuat wawasan mengenai isu inklusivitas.


Inklusi dalam Gerakan NU

Sebelumnya, setelah diumumkan sebagai pengurus PBNU, Cak Fu menegaskan bahwa keterlibatan penyandang disabilitas dalam struktur kepengurusan diharapkan tidak berhenti pada aspek representasi. Menurutnya, hal tersebut perlu dilanjutkan dengan penguatan gerakan inklusi di lingkungan NU.


Cak Fu berharap isu disabilitas menjadi bagian dari gerakan PBNU. Hal ini mengingat terdapat nahdliyin penyandang disabilitas yang membutuhkan perhatian dan akses yang setara.


"Kita akan mendorong lembaga seperti LP Ma'arif, Lembaga Dakwah, masjid, RMI, lebih inklusif. Nanti saya akan berkoordinasi dengan pengurus lain bagaimana mendesain pilot project pendidikan inklusif," tegasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang