Yahya Staquf: Islam Nusantara itu Mu’tabar, Otentik dan Otoritatif
NU Online · Senin, 1 Juni 2015 | 09:01 WIB
Jakarta, NU Online
Katib Syuriah PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengatakan, dalam kajian NU, hal-hal yang menyangkut ekspresi Islam Nusantara seluruhnya adalah sah dalam pandangan ajaran agama. Dalam bahasa agama disebut mu’tabar, artinya otentik dan otoritatif.<>
“Ini memang Islam. Bukan bid’ah, bukan pula khurafat. Ini Islam berdasarkan kajian terhadap sumber-sumber ajaran agama. Ini sungguh-sungguh Islami,” kata Gus Yahya kepada wartawan usai memoderatori diskusi umum pra-Muktamar NU di kantor The Wahid Institute Jl Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat, Jumat (29/5).
Ditanya apakah kegiatan ini dalam rangka melawan isu Islam transnasional, semisal ISIS, Gus Yahya menjawab, sebetulnya ini mewakili perasaan publik yang terancam. “Sebetulnya itu bukan hanya ancaman bagi Indonesia. Kita merasa terancam karena kita akan kehilangan identitas dan pada saat yang sama terancam kehancuran sebagaimana yang terjadi di tempat lain,” tuturnya.
Yang kedua, lanjut Gus Yahya, kekejaman ISIS merupakan ancaman global karena mereka melakukan kerusakan di berbagai tempat di mana mereka membuat propaganda. “Mana bangsa yang memperoleh kemakmuran oleh ideologi itu, semuanya hancur. Libya, Tunisia, Mesir, semuanya hancur. Kita tidak mau seperti mereka,” ujarnya.
Gus Yahya berkeyakinan, bahwa sebetulnya mayoritas muslim di sana seperti muslim di Indonesia yang mengikuti madzhab Islam damai sebagaimana digambarkan utusan Grand Syeikh Al-Azhar Mesir. “Semuanya ini terancam karena ada kelompok yang memiliki ambisi politik tertentu kemudian mengatasnamakan agama yang menimbulkan kekacauan dan kerusakan,” terangnya.
Melalui diskusi tersebut, lanjut Gus Yahya, kita ingin menunjukkan Islam Nusantara untuk encourage kaum muslimin di tempat lain yang seperti kita berani menunjukkan diri. “Jadi, Islam bukan milik mereka yang radikal-radikal itu. Kita yang mu’tabar, bukan mereka,” tegasnya.
Ditanya bagaimana cara membumikan Islam Nusantara sementara berbagai gesekan masih kerap terjadi lantaran adanya pihak yang mempermasalahkan salah satu paham tertentu, bagi dia, tak paham sejarah. “Kita hidup di sini lima ratus tahun. Anda tau, Ahmadiyah itu hidup di Indonesia sudah lebih dulu daripada NU. Bahkan sejak Republik ini belum lahir. Dulu aman-aman aja. Sekarang kok ada yang teriak-teriak, siapa mereka itu,” ujarnya.
Menurut keponakan Gus Mus ini, para narasumber diskusi hendak mengkonfirmasi Islam yang mengedepankan kedamaian itulah Islam yang sejati. “Nah, Islam yang seperti itu benar-benar hidup di Indonesia,” ujarnya.
Diskusi umum bertajuk “Konsolidasi Dunia Islam Menghadapi Radikalisme dan Terorisme” tersebut menghadirkan tiga narasumber: Prof Dr Abdelmonem Fouad Othman (Utusan Khusus Grand Syeikh Al Azhar), Mohamed Aboelfadl Ahmed (Redaktur Senior Harian Al-Ahram), dan Prof Dr Rudiger Lohlker (Guru Besar Studi Islam Universitas Wina, Austria). (Musthofa Asrori/Fathoni)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Jihad Generasi Muda dalam Mengisi Kemerdekaan Indonesia
2
RAPBN 2027 untuk Program MBG Capai Rp240 Triliun, Setara 29 Persen dari Anggaran Pendidikan
3
Khutbah Jumat: Jangan Nodai Kemerdekaan dengan Kemaksiatan
4
Gus Ipul Targetkan DPT Muktamar Ke-35 NU Rampung 17 Agustus 2026, Sebut Progres SK 95 Persen
5
RAPBN 2027 Tembus Rp4.097,2 Triliun, DPR: Harus Berdampak dan Menjawab Harapan Rakyat
6
Kompensasi kepada Pemilih dengan Dalih Transportasi atau Ongkos Kerja untuk Memengaruhi Pilihan adalah Haram dan Suap
Terkini
Lihat Semua