Refleksi Haji: Dzikir, Sandaran Hidup, dan Keseimbangan Dunia Akhirat
NU Online · Rabu, 27 Mei 2026 | 09:15 WIB
Puji Raharjo Soekarno
Kolumnis
“Apabila kamu telah menyelesaikan manasikmu, maka berdzikirlah kepada Allah sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyangmu, bahkan berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia,’ dan tidak ada bagian baginya di akhirat.” (QS Al-Baqarah: 200)
Ayat di atas turun dalam konteks ibadah haji. Namun, kandungan maknanya melampaui satu musim ibadah. Ia menyentuh arah hidup manusia. Ia menata ulang pusat ingatan, pusat harapan, dan pusat ketergantungan. Ia mengajarkan bahwa ibadah yang selesai secara lahir harus berlanjut menjadi kesadaran batin.
Haji tidak berhenti pada selesainya wukuf, mabit, melontar jumrah, thawaf, sa’i, dan tahallul. Haji harus melahirkan cara baru dalam mengingat Allah, memandang dunia, dan menyiapkan akhirat.
Ibn Katsir menjelaskan bahwa Allah memerintahkan hamba-Nya untuk banyak berdzikir setelah menyelesaikan manasik. Perintah ini penting. Sebab manusia sering mengalami penurunan ruhani setelah menyelesaikan ibadah besar.
Ketika manasik selesai, seseorang mudah kembali pada percakapan lama. Ia membicarakan status, keluarga, kedudukan, keberhasilan, perjalanan, fasilitas, dan pengalaman lahiriah. Padahal Allah menghendaki sesuatu yang lebih tinggi. Setelah ibadah selesai, lisan dan hati harus lebih hidup dalam mengingat-Nya.
Pada masa Jahiliah, sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Adhim karya Ibn Katsir, orang-orang Arab setelah musim haji sering membanggakan leluhur. Mereka berkata bahwa ayah mereka memberi makan, menanggung beban sosial, membayar diyat, dan melakukan banyak jasa. Mereka menjadikan musim haji sebagai ruang pembuktian kehormatan sosial. Allah menurunkan ayat ini untuk mengubah arah itu. Setelah manasik, yang layak dibesarkan bukan nama manusia, nasab, keluarga, atau reputasi. Yang layak diingat, diagungkan, dan dijadikan sandaran ialah Allah swt.
Dalam konteks itulah ayat ini menjadi sangat dalam. Allah tidak melarang manusia menghormati orang tua, keluarga, dan leluhur. Islam menjaga adab kepada mereka. Namun Allah menolak bila manusia menjadikan kebanggaan sosial sebagai pusat kesadaran. Allah mengarahkan manusia agar kembali kepada sumber segala nikmat. Sebesar apa pun jasa manusia, semuanya terjadi dengan izin Allah. Setinggi apa pun kedudukan keluarga, semua berada di bawah kuasa Allah. Seluas apa pun keberhasilan dunia, semuanya akan berakhir di hadapan Allah.
Ibn Katsir mengutip beberapa penjelasan ulama tentang makna klausa "fadzkuru Allah kadzikrikum abaakum" dalam ayat tersebut. Salah satunya berasal dari Atha’, yang menjelaskan bahwa maknanya seperti anak kecil yang terus menyebut ayah dan ibunya. Anak kecil menyebut “ayah” dan “ibu” karena ia merasa dekat, butuh, dan bergantung. Ia tidak menyebutnya sebagai teori. Ia menyebutnya karena jiwanya terikat. Maka Allah memerintahkan agar hamba berdzikir kepada-Nya dengan kedekatan yang lebih kuat, kebutuhan yang lebih dalam, dan ketergantungan yang lebih jernih.
Ini mengandung pendidikan ruhani yang halus. Dzikir bukan sekadar ucapan yang bergerak di lisan. Dzikir ialah kesadaran bahwa hidup ini tidak berdiri sendiri. Manusia bernafas karena Allah. Ia bekerja karena Allah memberi tenaga. Ia berpikir karena Allah memberi akal. Ia selamat karena Allah menjaga. Ia berhasil karena Allah membuka jalan. Ia pulang dari haji karena Allah menuntun langkah. Ia mampu beribadah karena Allah memberi taufik.
Oleh karena itu, setelah manasik selesai, Allah memerintahkan dzikir. Ibadah besar jangan berujung pada kebanggaan diri. Ibadah besar harus berujung pada kerendahan hati. Seorang haji tidak seharusnya pulang dengan membawa rasa lebih mulia dari orang lain. Ia pulang dengan kesadaran bahwa Allah telah menutup aibnya, memudahkannya, memanggilnya, dan mengizinkannya hadir di tanah suci. Bila ia dapat berdiri di Arafah, itu bukan karena kekuatan dirinya. Jika ia dapat melontar jumrah, itu bukan karena kepandaiannya. Jika ia dapat menyempurnakan thawaf dan sa’i, itu karena Allah memberi jalan.
Ibn Katsir juga menjelaskan riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa dahulu, orang Jahiliah berdiri pada musim haji lalu membanggakan ayah-ayah mereka. Mereka menyebut kedermawanan, kemuliaan, dan jasa sosial leluhur. Tidak ada yang mereka ingat kecuali perbuatan nenek moyang. Maka Allah memindahkan pusat perhatian itu. Dari manusia kepada Allah. Dari kebanggaan nasab kepada dzikir. Dari reputasi sosial kepada penghambaan.
Makna ini sangat relevan bagi kehidupan modern. Setelah manusia mencapai sesuatu, ia sering ingin dikenang. Setelah mendapat jabatan, ia ingin disebut. Setelah memiliki prestasi, ia ingin diakui. Setelah menunaikan haji, ia ingin dihormati. Setelah beramal, ia ingin dipuji. Ayat ini menegur kecenderungan itu. Manusia boleh bersyukur atas capaian. Namun ia tidak boleh menjadikan capaian sebagai pusat hidup. Yang harus menjadi pusat ialah Allah.
Sementara frasa "aw asyadda dzikra" menurut Ibn Katsir bukan menunjukkan keraguan. Ia menunjukkan penguatan makna. Allah menghendaki agar dzikir kepada-Nya setara, bahkan lebih kuat daripada ingatan manusia kepada orang tua, keluarga, tokoh, kehormatan, dan dunia. Manusia bisa mengingat orang yang dicintai sepanjang hari. Ia bisa menyebut pekerjaan, keluarga, usaha, jabatan, dan masalah hidup berkali-kali. Pertanyaannya, seberapa sering ia mengingat Allah dalam semua itu.
Ayat ini bukan sekadar meminta banyak bacaan. Ia menuntut perubahan orientasi. Ketika mendapat nikmat, ingat Allah. Ketika menghadapi kesulitan, bersandar kepada Allah. Ketika dihormati manusia, takutlah kepada Allah. Ketika dipuji, mohon perlindungan dari riya. Ketika gagal, jangan putus asa dari rahmat Allah. Ketika sukses, jangan merasa cukup tanpa Allah.
Doa sebagai bentuk kehambaan
Setelah memerintahkan dzikir, Allah mengajarkan doa. Ibn Katsir menegaskan bahwa dzikir menjadi keadaan yang dekat dengan terkabulnya doa. Hati yang banyak mengingat Allah akan lebih jernih ketika meminta. Ia tidak lagi meminta dengan hawa nafsu yang sempit. Ia meminta dengan kesadaran sebagai hamba. Ia tahu bahwa dunia penting, tetapi bukan tujuan akhir. Ia tahu bahwa rezeki diperlukan, tetapi tidak boleh mengorbankan akhirat. Ia tahu bahwa kesehatan berharga, tetapi iman lebih menentukan keselamatan. Ia tahu bahwa kedudukan bisa membantu kebaikan, tetapi kedudukan juga bisa menjadi ujian.
Di sinilah, Allah membagi manusia dalam doa mereka. Ada manusia yang hanya berkata, Rabbana atina fi ad-dunya hasanah, Ya Tuhan kami, berilah kami di dunia. Ibn Katsir menjelaskan bahwa kelompok ini hanya meminta urusan dunia. Mereka meminta hujan, kesuburan, hasil ternak, dan keadaan lahiriah yang baik. Mereka tidak menyebut akhirat. Mereka tidak meminta ampunan. Mereka tidak meminta keselamatan dari neraka. Mereka tidak meminta ridha Allah.
Allah berfirman, wa maa lahu fi al-akhirati min khalaq, tidak ada bagian baginya di akhirat. Kata “khalaq” bermakna bagian atau nasib. Ini peringatan keras. Masalahnya bukan karena mereka meminta dunia. Islam tidak mencela doa untuk dunia. Islam mengajarkan umatnya meminta rezeki, kesehatan, keluarga yang baik, keamanan, ilmu, dan kelapangan hidup. Yang dicela ialah ketika manusia hanya berhenti pada dunia. Ia menjadikan dunia sebagai seluruh isi doanya. Ia lupa bahwa dunia hanya tempat singgah. Ia lupa bahwa akhirat adalah tempat kembali.
Keseimbangan dunia dan akhirat menjadi pesan utama ayat ini. Seorang Muslim tidak diajarkan membenci dunia. Ia diajarkan menempatkan dunia pada tempatnya. Dunia adalah ladang amal. Dunia adalah ruang pengabdian. Dunia adalah tempat menanam nilai. Dunia dapat menjadi jalan menuju ridha Allah bila digunakan dengan iman, ilmu, dan akhlak. Namun dunia dapat berubah menjadi hijab bila manusia menjadikannya tujuan terakhir.
Karena itu, doa yang paling utuh hadir pada ayat berikutnya, Rabbanā, ātinā fid dunyā hasanah, wa fil ākhirati hasanah, wa qinā ‘adzāban nār.
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)
Doa ini menunjukkan keseimbangan. Ia tidak menolak dunia. Ia tidak melupakan akhirat. Ia meminta dunia yang baik, akhirat yang baik, dan keselamatan dari azab neraka. Dalam kerangka tafsir Ibn Katsir, doa ini menjadi pembeda antara manusia yang pandangannya sempit dan manusia yang pandangannya utuh. Yang satu hanya melihat kebutuhan dekat. Yang lain melihat kehidupan secara menyeluruh.
Kebaikan dunia memiliki banyak bentuk. Ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, keluarga yang sakinah, tubuh yang sehat, hati yang tenang, pekerjaan yang berkah, masyarakat yang damai, pemimpin yang adil, dan kesempatan beramal. Namun semua itu belum cukup bila tidak mengantar pada kebaikan akhirat. Sebab dunia akan habis. Harta tertinggal. Jabatan berpindah. Pujian mereda. Tubuh melemah. Yang tetap mengikuti manusia ialah amal.
Kebaikan akhirat juga memiliki banyak makna. Ampunan Allah, rahmat Allah, husnul khatimah, keselamatan di alam barzakh, kemudahan hisab, perlindungan dari neraka, dan masuk surga. Doa ini mengajarkan agar manusia tidak berpikir pendek. Ia boleh bekerja keras untuk dunia, tetapi hatinya tidak boleh tenggelam di dalamnya. Ia boleh membangun rumah, lembaga, usaha, dan karier. Namun ia harus membangun tempat kembali di sisi Allah melalui iman dan amal saleh.
Ayat ini juga mengajarkan bahwa Allah adalah satu-satunya tempat bersandar. Manusia boleh menggunakan sebab. Ia boleh merencanakan, bekerja, belajar, berikhtiar, dan meminta bantuan sesama. Namun hati tidak boleh bergantung mutlak kepada sebab. Sebab bisa gagal. Manusia bisa berubah. Sistem bisa lemah. Harta bisa hilang. Kekuasaan bisa berakhir. Tubuh bisa sakit. Hanya Allah yang tidak pernah lemah. Hanya Allah yang tidak pernah meninggalkan hamba yang kembali kepada-Nya.
Dalam konteks haji, pesan ini terasa lebih kuat. Jemaah haji meninggalkan rumah, keluarga, pekerjaan, dan kenyamanan. Ia memakai pakaian ihram yang sederhana. Ia berdiri di Arafah bersama jutaan manusia. Ia melihat bahwa status dunia menjadi kecil di hadapan kebesaran Allah. Di sana manusia belajar bahwa ia tidak membawa apa-apa kecuali iman, doa, dan harapan. Maka setelah manasik selesai, Allah memerintahkan dzikir agar pelajaran itu tidak hilang.
Haji mendidik manusia untuk kembali kepada Allah. Namun ujian sebenarnya datang setelah haji. Apakah ia tetap mengingat Allah ketika kembali pada kesibukan. Apakah ia tetap menjaga lisan ketika kembali pada pergaulan. Apakah ia tetap jujur ketika kembali pada pekerjaan. Apakah ia tetap rendah hati ketika dipanggil “Pak Haji” atau “Bu Haji”. Apakah ia tetap melihat dunia sebagai amanah, bukan tujuan terakhir.
Tafsir Ibn Katsir atas ayat ini membuka pemahaman bahwa dzikir setelah manasik adalah tanda keberlanjutan ibadah. Ketika ibadah selesai, ingatan kepada Allah tidak boleh selesai. Ketika ritual tuntas, penghambaan harus makin kuat. Ketika perjalanan lahir berakhir, perjalanan batin harus terus berjalan.
Pesan ini juga penting bagi para pemimpin, pelayan umat, dan petugas haji. Setelah melayani jemaah, jangan terjebak dalam kebanggaan kerja. Jangan berhenti pada laporan keberhasilan. Jangan hanya mengingat nama lembaga, jabatan, atau capaian. Semua keberhasilan pelayanan harus dikembalikan kepada Allah. Bila ada kelancaran, itu karena Allah memudahkan. Bila ada keselamatan, itu karena Allah menjaga. Bila ada kekurangan, itu menjadi bahan taubat dan perbaikan. Dzikir membuat pelayanan tidak berubah menjadi kesombongan. Doa membuat kerja tidak kehilangan ruh.
Keseimbangan dunia akhirat juga harus hadir dalam tata kelola kehidupan umat. Dunia perlu diurus dengan baik. Pelayanan harus profesional. Ekonomi harus kuat. Pendidikan harus maju. Kesehatan harus dijaga. Negara harus tertib. Namun semua itu harus diarahkan pada nilai akhirat. Kemajuan tanpa akhlak akan rapuh. Kesejahteraan tanpa syukur akan melahirkan kerakusan. Ilmu tanpa iman dapat kehilangan arah. Kekuasaan tanpa takut kepada Allah dapat melukai manusia.
Ayat ini mengikat dua hal yang sering dipisahkan manusia, yaitu dzikir dan doa, dunia dan akhirat, ikhtiar dan tawakal. Dzikir menjaga hati agar tidak liar. Doa menjaga manusia agar tidak merasa cukup dengan dirinya. Ikhtiar menjaga kehidupan agar tidak pasif. Tawakal menjaga jiwa agar tidak diperbudak hasil. Dunia dikelola dengan sungguh-sungguh. Akhirat dijadikan tujuan utama.
Maka seorang Muslim yang memahami ayat ini akan bekerja dengan serius, tetapi tidak menyembah pekerjaan. Ia mencari rezeki, tetapi menjaga halal dan haram. Ia mencintai keluarga, tetapi tidak melupakan Allah. Ia melayani masyarakat, tetapi tidak mengejar pujian. Ia membangun dunia, tetapi mengukur semuanya dengan akhirat. Ia meminta kepada Allah kebaikan dunia, lalu meminta kebaikan akhirat, lalu memohon perlindungan dari neraka.
Di titik ini, doa "Rabbanā, ātinā fid dunyā hasanah", tidak boleh dipahami sebagai doa material semata. Kebaikan dunia yang paling penting ialah dunia yang mendekatkan kepada Allah. Rezeki yang baik ialah rezeki yang membuat tangan lebih mudah memberi. Ilmu yang baik ialah ilmu yang membuat hati lebih takut kepada Allah. Jabatan yang baik ialah jabatan yang membuat seseorang lebih adil. Keluarga yang baik ialah keluarga yang saling menuntun menuju ridha Allah. Kesehatan yang baik ialah kesehatan yang dipakai untuk taat.
Begitu pula "wa fil ākhirati hasanah", harus menjadi arah hidup. Manusia tidak cukup selamat secara sosial. Ia harus selamat di hadapan Allah. Tidak cukup dihormati manusia. Ia harus diridhai Allah. Tidak cukup dicatat berhasil di dunia. Ia harus berharap tercatat sebagai hamba yang diterima amalnya. Sebab ukuran akhir hidup bukan tepuk tangan manusia, melainkan rahmat Allah.
Ayat ini mengajak kita merenung. Setelah manasik selesai, apa yang paling sering kita ingat. Setelah keberhasilan datang, siapa yang paling kita sebut. Setelah doa terucap, apa yang paling kita minta. Setelah dunia terbuka, apakah akhirat masih menjadi arah.
Ibn Katsir menunjukkan bahwa Allah memerintahkan dzikir setelah manasik karena manusia mudah kembali pada kebanggaan lama. Pada masa jahiliah, mereka membanggakan leluhur. Pada masa kini, bentuknya bisa berubah. Manusia membanggakan gelar, jabatan, jaringan, kekayaan, pengalaman, keluarga, lembaga, bahkan ibadahnya sendiri. Semua itu dapat menjadi hijab bila tidak dikembalikan kepada Allah.
Haji mengajarkan pelepasan. Ihram melepaskan simbol status. Arafah melepaskan kepongahan. Muzdalifah mengajarkan ketenangan. Mina mengajarkan perlawanan terhadap godaan. Thawaf mengajarkan pusat hidup. Sa’i mengajarkan ikhtiar. Namun semua pelajaran itu harus bermuara pada satu kesadaran, yaitu Allah tempat mengingat dan Allah tempat bersandar.
Tidak ada sandaran yang lebih kuat dari Allah. Manusia yang bersandar pada harta akan cemas ketika hartanya berkurang. Manusia yang bersandar pada jabatan akan goyah ketika jabatan berpindah. Manusia yang bersandar pada pujian akan gelisah ketika dilupakan. Manusia yang bersandar pada Allah akan tetap memiliki arah dalam lapang dan sempit. Ia tetap berusaha, tetapi hatinya tidak diperbudak hasil. Ia tetap mencintai dunia sebagai amanah, tetapi tidak menjadikannya tujuan akhir.
Keseimbangan dunia dan akhirat bukan sikap setengah hati. Ia justru bentuk kedewasaan iman. Kita meminta dunia agar bisa beramal. Kita meminta akhirat agar hidup tidak sia-sia. Kita meminta perlindungan dari neraka karena sadar bahwa amal kita tidak pernah cukup tanpa rahmat Allah. Kita bekerja untuk memperbaiki kehidupan, tetapi kita sadar bahwa kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan di sisi-Nya.
Maka setelah setiap ibadah, setelah setiap kerja, setelah setiap keberhasilan, dan setelah setiap fase kehidupan, kita perlu kembali kepada pesan ayat ini. Ingatlah Allah lebih banyak. Sebutlah Allah lebih dalam. Sandarkan hati kepada Allah lebih kuat. Jangan biarkan doa kita hanya dipenuhi urusan dunia. Jangan biarkan akhirat hilang dari agenda batin kita.
Doa seorang mukmin harus luas. Ia memeluk kebutuhan dunia, tetapi menembus sampai akhirat. Ia meminta rezeki, tetapi juga ampunan. Ia meminta kesehatan, tetapi juga husnul khatimah. Ia meminta kelancaran urusan, tetapi juga keselamatan dari azab. Ia meminta keberhasilan hidup, tetapi juga ridha Allah.
Rabbanā, ātinā fid dunyā hasanah, wa fil ākhirati hasanah, wa qinā ‘adzāban nār
Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.
Inilah doa keseimbangan. Inilah arah hidup seorang hamba. Dunia dijalani dengan amanah. Akhirat dituju dengan iman. Allah diingat dalam setiap keadaan. Kepada Allah hati bersandar. Hanya kepada-Nya semua perjalanan kembali.
Puji Raharjo Soekarno, Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah dan Ketua PWNU Lampung.
Terpopuler
1
Qadha Puasa Ramadhan di Hari Tarwiyah dan Arafah, Tetap Dapat Pahala Puasa Sunnah?
2
Lafal Niat Puasa Tarwiyah Malam Ini dan Keutamaan Melaksanakannya
3
Khutbah Idul Adha: Momentum Menguatkan Kepedulian Antarwarga
4
Inilah Lafal Bilal Shalat Idul Adha
5
Petunjuk Pelaksanaan Shalat Idul Adha
6
Alih Fungsi Lahan hingga Konflik Agraria Membayangi 10 Tahun Perjanjian Paris di Pulau Jawa
Terkini
Lihat Semua