Guyub Rukun Saklawase: Spirit Tambakberas untuk Muktamar ke-35 NU
NU Online · Selasa, 21 Juli 2026 | 15:42 WIB
Rahmat Hidayat
Kolumnis
Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, akan menjadi saksi sejarah baru perjalanan Nahdlatul Ulama (NU). Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah memutuskan bahwa Muktamar ke-35 akan digelar di pesantren bersejarah tersebut pada 27 sampai 31 Agustus 2026.
Tambakberas bukanlah tempat biasa. Lebih dari sekadar pesantren tua yang usianya mendekati dua abad, tapi "lumbung ilmu dan pergerakan santri" yang melahirkan para pemikir dan pejuang bangsa. Di sinilah KH Wahab Chasbullah, salah satu pendiri utama NU, menempa diri dan menyemai benih-benih kebangkitan kaum santri.
Memilih Tambakberas sebagai tuan rumah adalah upaya sadar untuk menghidupkan kembali "ruh" dan "marwah" perjuangan para muassis (pendiri). Ini adalah panggilan untuk kembali pada nilai-nilai fundamental yang membuat NU bukan sekadar organisasi massa, melainkan sebuah jam'iyah diniyah (perhimpunan keagamaan) yang kokoh dan berwibawa.
Keputusan memilih Tambakberas merupakan deklarasi simbolis untuk kembali ke akar dan semangat pendirian organisasi karena tempat ini merupakan "rumah sejarah" yang mempertemukan perjalanan masa lalu dan masa depan organisasi. Keterhubungan nilai historis Kiai Wahab dengan Tambakberas bagi konsolidasi NU terutama terlihat dari gagasan-gagasannya yang visioner dan lahir dari pengalamannya di pesantren ini.
Peta Jalan Konsolidasi Organisasi
Konsolidasi menjadi kata kunci yang sangat relevan menjelang muktamar. Beberapa tahun terakhir, tubuh NU dilanda berbagai dinamika yang menguras energi. Konflik internal yang berkepanjangan antara Rais Aam dan Ketua Umum PBNU sempat memicu kegaduhan dan menimbulkan kekhawatiran akan perpecahan.
Meskipun islah (rekonsiliasi) telah tercapai melalui pertemuan di Pesantren Lirboyo, tapi masih menyisakan pekerjaan rumah besar untuk memulihkan kepercayaan dan menyatukan kembali barisan. Muktamar ke-35 diharapkan menjadi titik akhir dari fragmentasi dan awal dari sebuah era baru yang lebih solid dan produktif. Pemilihan Pondok Pesantren Tambakberas menjadi jalan tengah dan sekaligus solusi terbaik setelah sebelumnya sempat muncul tarik-menarik yang kuat tentang tempat muktamar.
Lokasi di Tambakberas juga mengirimkan pesan kuat tentang independensi dan jati diri NU. Ada kekhawatiran di kalangan warga Nahdliyin bahwa organisasi ini semakin terkooptasi oleh kepentingan politik dan kekuasaan praktis. Halaqah Pra-Muktamar di Pesantren Luhur Ciganjur, misalnya, mendesak agar NU tetap berpihak kepada umat dan tidak kehilangan jati diri sebagai organisasi keagamaan.
Di sinilah letak pentingnya muktamar sebagai forum tertinggi untuk meluruskan arah. Muktamar bukanlah ajang "batu loncatan menuju Pemilu 2029," sebagaimana diingatkan oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Konsolidasi di Tambakberas harus mampu memastikan bahwa NU kembali pada khittah (garis perjuangan)-nya sebagai entitas sosial-keagamaan yang berdaulat, yang memberikan nasihat dan kritik kepada kekuasaan, bukan menjadi corong atau alat legitimasi.
Selain aspek kepemimpinan dan politik, konsolidasi organisasi juga menyangkut pembenahan internal secara menyeluruh. Kritik terhadap PBNU periode ini menyoroti kemunduran di berbagai lini, mulai dari kaderisasi yang mandek hingga program-program yang tersendat. Marwah NU sebagai "jam'iyah ulama" dinilai luntur karena konflik internal sering kali lebih didominasi oleh kepentingan pragmatis dan ekonomis dibandingkan oleh perdebatan pemikiran keislaman yang konstruktif.
Karena itu, Muktamar ke-35 menjadi "medium evaluasi total" untuk menata ulang kekuatan NU di abad kedua. Para peserta muktamar harus memiliki keberanian dan kejujuran kolektif untuk mengkritisi kinerja kepengurusan, merumuskan program kerja yang lebih membumi, dan berpihak pada warga nahdliyin, serta memastikan adanya kaderisasi yang berkelanjutan.
Muktamar di Tambakberas juga harus menjadi momentum untuk memperkuat sendi-sendi ukhuwah (persaudaraan). Selama ini, NU dikenal dengan tradisi musyawarah dan tawazun (keseimbangan) yang diwariskan oleh para pendiri (muassis). Semboyan Pesantren Tambakberas, "guyub rukun saklawase" (rukun dan bersatu selamanya), adalah cerminan dari nilai tersebut. Konsolidasi organisasi tidak mungkin terwujud tanpa adanya semangat persaudaraan yang tulus di antara seluruh komponen, mulai dari kalangan ulama (syuriyah), eksekutif (tanfidziyah), hingga warga akar rumput. Muktamar harus menjadi ruang untuk membangun kembali kepercayaan yang sempat retak, bukan arena untuk saling menjatuhkan.
Meraih kembali kejayaan NU bukanlah tentang nostalgia pada masa lalu, tetapi tentang bagaimana membangun masa depan dengan fondasi yang kuat. Kejayaan NU terletak pada kemampuannya menjadi "penuntun umat," "benteng penjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah," serta pelopor perdamaian dan moderasi beragama di tingkat global. Di tengah arus globalisasi dan tantangan ideologi radikal, peran NU sebagai penjaga moral dan spiritual bangsa menjadi sangat krusial. Muktamar ke-35 di Tambakberas harus melahirkan keputusan-keputusan strategis yang tidak hanya relevan untuk masa khidmah lima tahun ke depan, tetapi juga visioner untuk jangka panjang.
Pilihan tanggal 27-31 Agustus 2026 juga memiliki makna tersendiri. Agustus adalah bulan kemerdekaan, bulan di mana semangat juang para pendahulu berkobar. Dengan menggelar muktamar di bulan ini, NU seakan menegaskan kembali komitmennya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang telah dibangun di atas fondasi perjuangan para kiai dan santri. Ini adalah saat yang tepat untuk menggelorakan kembali semangat hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman) yang selalu diajarkan di pesantren-pesantren, termasuk Tambakberas.
Dengan demikian, pemilihan Tambakberas sebagai tempat Muktamar ke-35 dan pemilihan bulan Agustus sebagai waktu pelaksanaannya memiliki makna historis dan strategis bagi penguatan konsolidasi internal NU di tengah berbagai dinamika dan tantangan yang dihadapi, menegaskan kembali komitmen keindonesiaan NU dan sekaligus menjadi momentum konsolidasi total bagi seluruh elemen jam'iyah untuk meraih kembali kejayaan NU di abad kedua.
Sebagai kesimpulan, Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Tambakberas adalah momen yang sangat krusial. Ini adalah panggilan untuk kembali ke akar sejarah, arena untuk melakukan konsolidasi total, dan batu loncatan untuk meraih kejayaan di masa depan. Dengan memilih Tambakberas, NU telah membuat pernyataan berani bahwa sudah waktunya untuk menyembuhkan luka internal, memperkuat persatuan, dan meneguhkan jati diri.
Di sinilah para pemimpin dan warga Nahdliyin akan diuji: apakah mereka mampu menjadikan forum tertinggi ini sebagai ruang untuk kebijaksanaan dan kemaslahatan bersama, atau justru membiarkannya tenggelam dalam pusaran kepentingan sesaat?
Semoga Muktamar ke-35 membawa berkah, menghasilkan keputusan terbaik kepemimpinan yang mampu menyatukan kembali berbagai kekuatan di NU demi untuk kemajuan dan kejayaan jam'iyah dan bangsa Indonesia.
H. Rahmat Hidayat, Anggota A’wan Syuriah PBNU, Sekretaris Jenderal PP Dewan Masjid Indonesia (DMI), Wakil Sekjen MUI, Dosen Pascasarjana Fakulitas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta Pengasuh Ponpes Madinatur Rahmah, Tenjo-Bogor.
Terpopuler
1
Diskusi Kabla Muktamar Ke-35 di Unusia: Pengendali NU Kian Anonim, Perlu Menjaga Jarak dari Intervensi Negara
2
Akui Dapat Banyak Kritik, Presiden Prabowo Heran MBG Disebut Pemborosan
3
11 Kecamatan Banyumas Rawan Kekeringan, Ansor Minta Penanganan Tak Hanya Distribusi Air Bersih
4
Fachry Ali: Gus Dur Membuka Jalan Saya Melihat NU sebagai Objek Kajian Akademik
5
Pendukung Spanyol Kibarkan Bendera Palestina Sepanjang Turnamen Piala Dunia 2026
6
Halaqah Pra-Muktamar di Ciganjur Hasilkan Delapan Rekomendasi untuk Muktamar Ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua