Opini MUKTAMAR KE-35 NU

Logo Muktamar Ke-35 NU: Identitas Internasional Khas Lokal 

NU Online  ·  Rabu, 22 Juli 2026 | 05:00 WIB

Logo Muktamar Ke-35 NU: Identitas Internasional Khas Lokal 

Logo Muktamar Ke-35 NU (Foto: NU Online)

Logo merupakan bagian dari identitas visual yang berupaya menunjukkan pembedaan dirinya dari yang lain. Kesuksesan termudahnya adalah orang yang melihatnya mudah mengenalinya bahwa logo ini adalah logo dari ini bukan yang itu. Perihal filosofi dan makna yang dibawanya merupakan tingkatan lebih lanjut karena dasarnya pengetahuan dan doktrin. Begitu juga halnya dengan logo muktamar NU ke-35. Logo tersebut haruslah berbeda dari logo muktamar NU sebelumnya, muktamar organisasi keagamaan lainnya maupun organisasi selain keagamaan. 


Alina Wheeler (2018) menambahkan selain pengenalan dan pembedaan, peran lain dari identitas merek juga membuat ide-ide besar dan makna menjadi mudah diakses. Tiga hal ini yang akan diidentifikasi pada logo Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang baru saja dipublikasikan.


Tema dari Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama adalah Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa. Tema yang terbilang tidak mudah untuk diterjemahkan dalam visualisasi logo karena harus menyederhanakan tiga konsep sekaligus, yakni marwah (kehormatan), khidmat (pelayanan) dan maslahat (kebermanfaatan). 


Menurut penjelasan resmi dalam dokumennya, logo yang mengeksploitasi pertemuan angka 3 dan 5 tersebut tidak menyinggung secara langsung persoalan tema Muktamar ke-35. Kesinambungan, persatuan, dan harmoni dalam perjalanan Nahdlatul Ulama merupakan gagasan yang diwujudkannya dalam bentuk anatomi bagian bawahnya angka 3 dan 5 yang diatur berulang dan beriringan. Selain tema dan konsep logo Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 yang tidak bersinggungan, untuk pertama kalinya logo Muktamar Nahdlatul Ulama tidak lagi menggunakan angka arab, tetapi angka umum, tidak lagi menggunakan bentuk organik, melainkan geometris. Selain itu, tidak lagi mengaitkan simbol budaya setempat, tetapi menyempit pada lokasi. 


Pendekatan baru ini menunjukkan adanya keterpengaruhan terhadap desain modern. Ciri umum dari desain modern yang tampak dari logo Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama adalah meniadakan dekorasi demi fungsi komunikasi, penggunaan grid yang matematis, rupa huruf Sans-Serif dan bentuk geometris (lihat: History of Graphic Design – Philip B. Meggs dan Alston W. Purfis). 


Hal tersebut pun dapat ditemukan pada penjelasan resmi pada dokumennya, yakni mendasari bentuknya pada bentuk geometris lingkaran, posturnya dihasilkan atas perhitungan grid yang matematis, bentuk huruf yang polos tanpa tambahan bentuk kontras di ujungnya, dan tidak ada eksploitasi ragam aset budaya sebagai dekorasinya. Ekspresi desain modern semacam ini dapat ditelusuri pada istilah Swiss Style atau The International Typographic Style dan juga The New Typography. 


Secara khusus dalam pembahasan mengenai logo yang modernis, Jens Muller dan Julius Wiedemann (2015) mengatakan ciri khusus dari logo yang modernis adalah yang mengganti gambar representasional menjadi bentuk sederhana. Logo untuk merek dagang mengalami perubahan tersebut, tapi bagi acara pertemuan internasional (summit, symposium, forum, conference) kecenderungannya saat ini memang menampilkan bentuk sederhana yang simbolik. 


Wajah baru yang modernis tersebut menempatkan acara permusyawaratan tertinggi di Nahdlatul Ulama sejajar dengan acara perayaan di lembaga ataupun organisasi lainnya. Bahasa visual yang digunakan umum dan jelas dengan minim gangguan (redundan) menjadikannya dapat diprediksi dengan mudah. Logo yang serupa dengan acara perayaan atau peringatan tahunan di perusahaan, partai politik hingga pemerintahan. Masukkanlah kata kunci di mesin pencari: anniversary logo design, maka jutaan logo telah dibuat oleh beragam orang ataupun studio desain dan tersedia di berbagai toko untuk dibeli. Komposisi umumnya adalah mengutamakan permainan sejumlah angka dengan atau tanpa elemen tambahan lainnya. Kesan lebih utama daripada pemaknaan karena sifatnya yang universal sehingga dapat digunakan oleh siapa pun. 


Wajah barunya yang menggunakan bahasa visual universal tersebut mempertemukannya dengan bayang-bayang keserupaan. Wajah yang serupa di belahan dunia berbeda dipertemukan oleh keterbukaan informasi di internet. 
Logo Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dipublikasikan pada Juli 2026 tersebut tampak serupa dengan 35th Year Anniversary Logo karya Kushan Weerasinghe - Artic Concept dari Sri Lanka dan 35 logo design karya Swet. Logo karya Kushan Weerasinghe - Artic Concept tersebut dijual di dua tempat berbeda dan dalam waktu yang berbeda, yakni Shutterstock pada 5 Agustus 2022 dan di Istockphoto pada 11 Oktober 2024. Struktur anatomi angka 35 yang serupa dengan pembedaan di beberapa bagian dengan cara memanjangkan dan menghilangkan. 


Hal ini tentu perlu dijelaskan oleh pembuatnya, sehingga bisa dikatakan sebagai modifikasi salinan ataukah pengembangan rujukan (apropriasi). Terlebih logo ini digunakan untuk pertemuan para Ulama untuk bermusyawarah dan kedudukannya musyawarah tertinggi dari organisasi Islam paling besar di Indonesia.    


James O. Young (2008) menyatakan bahwa seniman (pelukis, musisi, komposer, penyair, novelis hingga sutradara film animasi) dari berbagai budaya terus-menerus terlibat dalam apropriasi budaya. Seluruh karya seni telah dipindahkan dari satu budaya ke budaya lain dengan berbagai cara. Kontroversi apropriasi budaya telah lama menjadi perdebatan, ditimbang kerugian dan kebermanfaatannya dari berbagai disiplin keilmuan dan praktisnya. 


Ringkasnya, apropriasi (peminjaman ataupun pengambilalihan) didasarkan atas pengakuan terhadap keunggulan kebudayaan lain (dari ide, motif, alur cerita, perangkat teknis) yang memiliki nilai lebih untuk dikembangkan dalam kebudayaannya sendiri. 


Selain itu, Austin Kleon (2012) pun menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang muncul begitu saja dan semua karya kreatif dibangun di atas apa yang pernah ada sebelumnya. Oleh karenanya, keterpengaruhan itu sesuatu yang tidak bisa dihindari dan karya yang terpengaruh dari karya lainnya itu suatu kelumrahan karena secara tidak langsung mengakui keunggulannya.


Sebagai catatan untuk ke depannya, perlu dipahami secara mendasar bahwa muktamar adalah acara spesial dan Nahdlatul Ulama sebagai pelaksananya. Peleg Top (2008) selaku pendiri Top Design Studio yang mengkhususkan diri dalam desain acara khusus hiburan dan nirlaba menyatakan bahwa peran desainer dalam acara spesial adalah menciptakan pengalaman yang unik. 


Lebih rinci, desainer acara spesial perlu menangkap suasana dan kegembiraan acara, membangkitkan emosi hingga mengidentifikasi segala hal yang berkesan. Tugasnya lebih besar dari desainer yang menciptakan identitas produk ataupun lembaga, karena yang ditanganinya adalah peristiwa khusus yang menghadirkan banyak orang dan kepentingan dalam satu kurun waktu tertentu di suatu tempat. 


Oleh karenanya, hal yang pertama dan utama, apapun yang didesain, riset adalah langkah awal untuk memulainya. Desain yang tidak diawali dengan riset adalah desain yang gagal sedari awal.   

    

Zamzami Almakki, Dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Mahasiswa Ilmu Seni Rupa dan Desain Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB)

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang