Pustaka

Filosofi Si Doel: Ketika Kampung Digusur, Kemanusiaan Jangan Ikut Hilang

NU Online  ·  Senin, 14 September 2026 | 10:00 WIB

Filosofi Si Doel: Ketika Kampung Digusur, Kemanusiaan Jangan Ikut Hilang

Jilid buku Si Doel Anak Sekolahan: Filosofi Orang Kampung (Foto: Abi S Nugroho/NU Online)

“Yang membuat manusia dikenang bukanlah jabatan, kekayaan, atau ketenarannya. Melainkan kebaikan yang pernah ia berikan kepada sesamanya.”
— Harry Tjahjono
 

Siapa tidak kenal Si Doel? Sosok lelaki sederhana, sopan, pekerja keras, tak banyak bicara namun hatinya luas seperti lapangan luas di pinggiran kampung. Selama puluhan tahun, nama itu bagian dari ingatan kolektif bangsa Indonesia. Bukan juga cuma tokoh serial televisi yang dicintai jutaan orang, melainkan bisa jadi gambaran diri kita sendiri, atau lebih tepatnya, potret siapa yang dulu kita miliki, dan perlahan-lahan kita tinggalkan.
 

Dalam buku Si Doel Anak Sekolahan: Filosofi Orang Kampung, Harry Tjahjono bukan hanya cerita bagaimana tokoh itu lahir dari imajinasinya bersama Rano Karno. Buku ini lebih jauh dari sebatas catatan pengalaman proses kreatif. Buku ini mengulas seperti jeritan halus, tapi tajam tentang Jakarta, tentang manusia, tentang apa yang terjadi ketika kota tumbuh begitu cepat sampai meninggalkan hati warganya di belakang. 


Ditulis dengan gaya yang hangat, jujur, dan penuh kenangan, karya ini adalah apresiasi mendalam terhadap nilai-nilai rakyat kecil dan kritik pedas namun penuh kasih terhadap peradaban kota yang mulai lupa pada asal muasalnya. Kini kota makin padat, makin mahal, makin individualis, suara Harry Tjahjono lewat buku ini sedang menanyakan: Kemana kalian pergi? Dan apa yang kalian cari?
 

Filosofi Lahir Bukan dari Universitas, Melainkan dari Bengkel dan Dapur
Harry Tjahjono memulai dengan sebuah pengakuan yang sederhana yang cukup berat. Buku selain serial televisi sekaligus catatan perjalanan tentang persahabatan, tentang kampung, tentang Jakarta, tentang rakyat kecil, dan tentang nilai-nilai kehidupan yang penulis yakini tetap relevan sampai hari ini. Dalam kata pengantar Rano Karno, ia tegaskan bahwa sejak awal Si Doel digagas, tujuannya bukan membuat tokoh hebat yang jauh dari kenyataan, melainkan menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: keluarga, tetangga, kesederhanaan, penghormatan kepada orang tua, dan kepedulian terhadap lingkungan di sekitar kita.
 

Bab-bab dalam buku ini membentangkan peta kehidupan. Barangkali perlahan hilang dari pandangan kita. Ada bab tentang kampung yang tidak malu menjadi kampung; tentang bengkel oplet yang menjadi universitas tempat Doel belajar ketekunan dan kejujuran yang tak bisa diajarkan di ruang kelas; tentang Emak yang filosofi hidupnya terletak pada kesabaran dan keikhlasan; tentang humor rakyat kecil yang bukan cuma tawa, melainkan perisai menghadapi hidup yang keras; tentang rumah kecil yang justru menyimpan kehangatan yang tak dimiliki gedung bertingkat. Semua itu disusun bukan sebagai cerita fiksi belaka, melainkan potongan-potongan realitas yang diamati penulis selama puluhan tahun hidup di tengah Jakarta.
 

Perihal yang bikin buku ini menyentuh sekaligus tajam adalah cara Harry Tjahjono membedah perubahan kota. Ia menulis, warga Jakarta dulu masih punya waktu untuk duduk, waktu bertegur sapa di pinggir jalan, waktu berbagi makanan, waktu mendengarkan tetangga yang bercerita. Sekarang? Kota ini berjalan begitu cepat sampai-sampai kita lupa berhenti. Televisi dan media sosial menghilangkan percakapan langsung; rumah-rumah semakin rapat, tapi penghuninya semakin asing; kampung digusur jadi apartemen di mana tetangga nomor satu tak mengenal nomor dua. Penulis bertanya dengan nada lembut namun menusuk: Apakah kemajuan harus berarti hilangnya kemanusiaan? Apakah jadi modern, kita harus lupa cara sebagai manusia?
 

Di tengah narasi penuh kerinduan itu, ada kritik yang tak bisa diabaikan. Penulis mengamati bahwa orang kampung, dalam arti semangat gotong royong, kesederhanaan, kebersamaan bukanlah mereka yang tinggal di wilayah pinggiran kota. Orang kampung sejati adalah mereka yang tetap menjaga hati, kejujuran, dan kemanusiaan di mana pun mereka berada. Sebaliknya, banyak yang tinggal di kota besar, tinggal di gedung tinggi, berpakaian rapi, namun hatinya miskin, dingin, dan tertutup bagi sesama. Di sinilah kekuatan filosofi yang ditawarkan buku ini: kemiskinan materi bukan aib, tetapi kemiskinan hati adalah kehancuran sesungguhnya.
 

Harry Tjahjono, Menulis dengan Hati
Untuk memahami kedalaman buku ini, kita harus memahami siapa penulisnya. Harry Tjahjono lahir di Madiun, 5 Februari 1954, seorang pekerja seni yang tak pernah benar-benar meninggalkan akar rakyat kecil sepanjang hidupnya. Ia bukan penulis di menara gading melihat dunia dari jauh. Ia hidup bersama rakyat, mendengarkan cerita mereka, merasakan kesulitan mereka, dan mencatatnya dengan penuh kasih sayang. Sebagai penulis, jurnalis, pengamat budaya, dan seniman yang berkiprah di dunia sastra, musik, dan film, ia selalu kembali ke satu tema: kehidupan orang-orang biasa yang luar biasa dalam kesederhanaan mereka.
 

Karyanya, mulai dari novel-novelnya yang difilmkan hingga penciptaan karakter Si Doel bersama Rano Karno selalu berpusat pada manusia, bukan benda. Ia memahami bahwa kekuatan cerita yang abadi bukan terletak pada kemewahan adegan atau tokoh yang sempurna, melainkan kejujuran hati yang bisa dirasakan siapa saja, dari mana saja. Bahkan ketika usia dan kesehatannya menurun. Ketika stroke membatasi gerak tubuhnya, semangatnya tak pernah surut. Ia tetap menulis, tetap merenungkan kehidupan, tetap percaya bahwa harapan sederhana masih layak diperjuangkan. Baginya, menulis bukan pekerjaan tapi bersuara tentang kehidupan, tetap menyapa sesama manusia meski tubuh sudah tak bisa lagi berjalan sejauh dulu.
 

Sosoknya semakin berkesan karena kesederhanaannya. Ia tak mengejar ketenaran pribadi, melainkan ingin suara rakyat terdengar. Penggagas Monumen Gembok Kejujuran di Madiun itu selalu percaya: bangsa ini tidak butuh lebih banyak orang kaya atau berkuasa, tetapi lebih banyak orang jujur, peduli, dan tidak malu jadi manusia baik. Semangat inilah yang mengalir di setiap halaman buku ini. Darah kehidupan yang membuat kata-katanya tak hanya dibaca, tetapi dirasakan di dalam dada.
  

Ketika Kampung Hilang, Kita Juga Kehilangan Diri Sendiri
Membaca buku ini di tengah Jakarta terasa seperti menatap potret yang jujur. Dan kadang menyakitkan. Kota ini sekarang berbeda jauh dari Jakarta yang diceritakan Harry Tjahjono. Gedung-gedung pencakar langit merimbun di mana-mana, jalan tol melintasi bekas kampung dan sawah, harga tanah dan hunian mencapai angka yang tak terbayangkan rakyat kecil. Transportasi makin modern, konektivitas makin cepat, orang-orang bisa berkomunikasi dalam hitungan detik, namun entah mengapa, rasanya semakin sulit benar-benar berkomunikasi satu sama lain.
 

Buku ini menegaskan, masalah Jakarta bukan hanya soal kemacetan, banjir, atau kepadatan penduduk. Itu hanyalah gejala. Masalah yang lebih dalam adalah kemacetan hati, banjir kepentingan pribadi, dan kepadatan kesepian. Di Jakarta sekarang, kita hidup berdampingan tetapi tak saling kenal. Kita bertetangga tetapi tak saling peduli. Kita memiliki segalanya, ponsel canggih, kendaraan mewah, rumah megah tetapi kehilangan hal yang paling mendasar: rasa memiliki, rasa menghormati, rasa berbagi. Ketika kampung digusur, kita bukan lagi kehilangan tempat tinggal. Kita kehilangan ruang di mana manusia belajar sebagai manusia, tempat di mana kita mendapat pelajaran bahwa kebahagiaan bukan terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada apa yang kita bagi.
 

Harry yang juga pengarang lagu film Keluarga Cemara ini mengingatkan kita bahwa kemajuan sejati tidak bisa diukur dari tinggi gedung atau lebar jalan raya, melainkan dari kemanusiaan yang masih tersisa bagi penduduknya. Sebuah kota yang kaya raya tapi miskin kasih sayang adalah kota yang gagal. 


Sebuah peradaban dengan teknologi maju tetapi mundur etika, tata kramanya adalah peradaban yang sedang berjalan mundur tanpa disadari. Kritik ini bukan menolak perubahan, penulis sendiri tak menolak kemajuan. Ia hanya meminta satu hal sederhana: jangan membawa perubahan itu dengan tangan kanan, lalu melempar kemanusiaan ke belakang dengan tangan kiri.
 

Ada hal-hal yang teknologi tak bisa gantikan. Tak ada aplikasi yang bisa menggantikan senyum tetangga di pagi hari. Tak ada kendaraan tercepat yang bisa mempercepat rasa sabar. Tak ada media sosial yang bisa menciptakan kehangatan pelukan ketika seseorang sedang sedih. Itulah “filosofi orang kampung” yang ditawarkan buku ini. Kita diajak memikirkan kembali keadaan kita, bukan kembali hidup di masa lalu. Kita perlu membawa kebijaksanaan masa lalu untuk menata masa depan yang lebih manusiawi. Di tengah Jakarta yang semakin terasing dari dirinya sendiri, pesan ini adalah napas segar yang sangat dibutuhkan. 
 

Karya yang Jujur, Tanpa Pelesit
Kekuatan terbesar buku ini terletak pada kesederhanaannya. Tak ada bahasa yang rumit, tak ada teori yang berbelit-belit. Bahasanya mengalir seperti percakapan. Hangat, akrab, terus terang. Namun di balik kesederhanaan itu, kedalamannya luar biasa. Setiap halaman menyimpan renungan yang bisa direnungkan berulang kali. Penulis tak menggurui, tak menghakimi. Ia hanya bercerita, dan lewat cerita itu, pembaca menemukan kebenaran sendiri. Narasinya bersifat memanusiakan, utuh melihat manusia bukan sebagai angka statistik atau objek pembangunan. Kemanusiaan adalah inti dari setiap kalimat, dan itulah yang membuat buku ini begitu kuat.
 

Namun, tentu saja karya ini bukan tanpa keterbatasan. Sebagian pembaca mungkin merasa bahasanya terlalu lembut untuk ukuran kritik sosial yang seharusnya tajam. Penulis cenderung membawakan nada merindukan dan mengingatkan, daripada menyerang secara frontal kebijakan atau pihak-pihak yang bertanggung jawab atas perubahan wajah Jakarta. Bagi sebagian orang, nada ini mungkin terasa kurang “berani”. Tetapi justru di sinilah letak kekhasan Harry Tjahjono. Ia percaya bahwa kebenaran tak perlu diteriakkan dengan alat pengeras suara. Kelembutan yang berasal dari kasih sayang terhadap sesama justru lebih menusuk daripada kemarahan meledak-ledak. 


Buku ini lebih banyak bicara dari sudut pandang budaya dan nilai sosial, kurang menyentuh aspek struktural dan kebijakan publik mendalam. Namun itu bukan kelemahan, melainkan pilihan penulis yang ingin berbicara ke hati terlebih dahulu, sebelum berbicara ke akar. Karena perubahan sejati, seperti yang dikatakan penulis, dimulai dari perubahan hati manusia.
 

Doel Tak Pernah Pergi Selama Kita Masih Mau Jadi Manusia Baik 
Di akhir lembaran halaman buku, kita tidak hanya menutup sebuah buku. Kita menutupnya dengan perasaan seolah-olah baru saja pulang berkunjung ke rumah seorang kawan lama. Ia hadir begitu hangat tanpa memberi jawaban instan atau solusi ajaib masalah Jakarta yang makin rumit. Tetapi ia memberi kita sesuatu yang jauh lebih berharga. Sebuah gambaran melihat diri sendiri, dan harapan bahwa semuanya belum hilang.
 

Si Doel tak pernah benar-benar meninggalkan kita meski kampungnya sudah tergusur. Ia tetap ada di setiap orang yang masih memilih bersikap jujur meski banyak orang memilih hidup kebohongan. Ia ada di setiap orang yang masih menolong tanpa menghitung untung rugi. Ia ada di setiap orang yang tetap sopan kepada siapa saja, tak peduli status dan pangkat. Selama masih ada orang percaya bahwa kebaikan itu sendiri keuntungan terbesar, selama itu pula “filosofi orang kampung” akan tetap hidup, bahkan di tengah kota yang paling modern sekalipun.
 

Harry Tjahjono telah menulis sebuah buku yang tak hanya layak dibaca, tetapi layak direnungkan, direnungi ulang, dan diamalkan. Di tengah Jakarta yang makin bising dan makin lupa dengan nilai kemanusiaan. Buku ini adalah suara yang tak bisa diabaikan. Kita boleh pergi ke mana saja, tetapi jangan pernah lupa dari mana kita berasal. Kita boleh jadi apa saja, tetapi jangan lupa tetap jadi manusia. Bukan kampung yang bikin kita manusiawi, melainkan manusialah yang harus menjaga kemanusiaan di mana pun kita berada. 


Itulah pesan terbesar buku ini. Dan pesan Rano Karno yang tidak kalah mendesak ada di pengantar buku ini: “Semoga buku ini tidak hanya jadi catatan tentang Si Doel, tetapi juga pengingat di tengah dunia yang terus berubah, nilai-nilai kemanusiaan yang baik akan selalu menemukan tempat di hati masyarakat.”


Data Buku 
Judul Buku: Si Doel Anak Sekolahan: Filosofi Orang Kampung
Penulis: Harry Tjahjono
Penerbit: Kosa Kata Kita bekerja sama dengan Perpustakaan Budaya Betawi/Politan, Jakarta
Tahun Terbit: 2026
Halaman: xii + 144 halaman

Peresensi: Abi S Nugoro, penikmat buku, peneliti dan pengurus di Lakpesdam PBNU 2021-2026

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang