Syariah

Hikmah Pembayaran Zakat Fitrah Sebelum Shalat Idul Fitri

NU Online  Ā·  Senin, 9 Maret 2026 | 06:30 WIB

Hikmah Pembayaran Zakat Fitrah Sebelum Shalat Idul Fitri

Ilustrasi zakat fitrah. Sumber: Canva/NU Online.

Sebagai penutup ibadah di bulan suci, zakat fitrah hadir bukan sekadar sebagai kewajiban finansial, melainkan instrumen penyempurna puasa. Ia adalah santunan kasih bagi mereka yang kekurangan, sekaligus menjadi tanda syukur atas tuntasnya perjalanan di bulan Ramadhan.

 

Lebih dari itu, zakat fitrah berfungsi sebagai pembasuh bagi segala noda dan kekhilafan yang sempat mengotori kesucian puasa kita, sehingga kita dapat melangkah menuju Idul Fitri dengan batin yang benar-benar bersih dan kembali pada fitrah.

 

Ketentuan zakat fitrah tersebut didasarkan pada hadits Rasulullah SAW:

 

Ā ŁŁŽŲ±ŁŽŲ¶ŁŽ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ’Ł„Ł اللهِ صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… Ų²ŁŽŁƒŁŽŲ§Ų©ŁŽ الْفِطْرِ ŲµŁŽŲ§Ų¹Ų§Ł‹ مِنْ ŲŖŁŽŁ…ŁŽŲ±ŁŲŒ Ų£ŁˆŁ’ŲµŁŽŲ§Ų¹Ų§Ł‹ مِنْ Ų“ŁŽŲ¹ŁŁŠŁ’Ų±ŁŲŒ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų§Ł„Ł’Ų¹ŁŽŲØŁ’ŲÆŁ ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’Ų­ŁŲ±ŁŁ‘ŲŒ ŁˆŁŽŲ§Ł„Ų°ŁŽŁ‘ŁƒŁŽŲ±Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ų£ŁŁ†Ł’Ų«ŁŽŁ‰ŲŒ ŁˆŁŽŲ§Ł„ŲµŁŽŁ‘ŲŗŁŁŠŁ’Ų±Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’ŁƒŁŽŲØŁŁŠŁ’Ų±Ł Ł…ŁŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŲ³Ł’Ł„ŁŁ…ŁŁŠŁ’Ł†ŁŽŲŒ ŁˆŁŽŲ£Ł…ŁŽŲ±ŁŽ ŲØŁŁ‡ŁŽŲ§ أنْ ŲŖŁŲ¤ŁŽŲÆŁŽŁ‘Ł‰ Ł‚ŁŽŲØŁ’Ł„ŁŽ Ų®ŁŲ±ŁŁˆŁ’Ų¬Ł Ų§Ł„Ł†Ų§ŁŽŁ‘Ų³Ł ؄لى Ų§Ł„ŲµŁŽŁ‘Ł„ŁŽŲ§Ų©Ł

 

Artinya : ā€œRasulullah SAW telah mewajibkan zakat Fitrah sebanyak satu sha’ kurma atau gandum atas orang muslim baik budak dan orang biasa, laki-laki dan wanita, anak-anak dan orang dewasa, beliau memberitahukan membayar zakat Fitrah sebelum berangkat (ke masjid) ā€˜Idul Fitriā€ (HR Bukhari dan Muslim).

 

Kapan Zakat Fitrah Mulai Disyariatkan?

Kewajiban membayar zakat fitrah bersamaan dengan disyariatkannya puasa Ramadhan, yaitu pada tahun kedua Hijriah. Hal ini sebagaimana dipaparkan oleh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dalam karyanya yang berjudul, Syari’atullah Al-Khalidah sebagai berikut:

 

فِي Ų§Ł„Ų³ŁŽŁ‘Ł†ŁŽŲ©Ł Ų§Ł„Ų«ŁŽŁ‘Ų§Ł†ŁŁŠŁŽŲ©Ł Ų£ŁŽŁŠŁ’Ų¶Ł‹Ų§: Ų“ŁŲ±ŁŲ¹ŁŽŲŖŁ’ Ų²ŁŽŁƒŁŽŲ§Ų©Ł الْفِطْرِ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų§Ł„Ł’Ų£ŁŽŲØŁ’ŲÆŁŽŲ§Ł†Ł. ŁˆŁŽŁ‡ŁŁŠŁŽ ŲµŁŽŲ§Ų¹ŁŒ مِنْ Ų£ŁŽŲŗŁ’Ł„ŁŽŲØŁ Ł‚ŁŁˆŲŖŁ Ų§Ł„Ł’ŲØŁŽŁ„ŁŽŲÆŁŲŒ Ų£ŁŽŁˆŁ’ Ų“ŁŽŲ¹ŁŁŠŲ±Ł Ų£ŁŽŁˆŁ’ ŲŗŁŽŁŠŁ’Ų±ŁŁ‡ŁŁ…ŁŽŲ§

 

Artinya: "Pada tahun kedua (Hijriah) pula, disyariatkan zakat fitrah atas jiwa (badan). Besarnya adalah satu sha' dari makanan pokok yang paling umum di suatu negeri, atau berupa gandum, maupun jenis lainnya." (Syari’atullah Al-Khalidah, [Makkah, Maktabah Malik Fahd: 1423 H], hal. 53).

 

Hikmah Pembayaran Zakat Fitrah Sebelum Shalat Idul Fitri

Mengenai alasan mengapa zakat fitrah wajib dibayarkan setelah kewajiban puasa Ramadhan selesai atau maksimal sebelum dilaksanakannya shalat Idul Fitri, Syekh Khudhari Beik dalam kitab Nurul Yaqin-nya memberikan penjelasan menarik mengenainya. Simak penjelasan beliau berikut:

 

ŁˆŁŽŁ„ŁŲ°Ł°Ł„ŁŁƒŁŽ Ų£ŁŽŁˆŁ’Ų¬ŁŽŲØŁŽ Ų§Ł„Ų“ŁŽŁ‘Ų§Ų±ŁŲ¹Ł Ų§Ł„Ł’Ų­ŁŽŁƒŁŁŠŁ…Ł Ų¹ŁŽŁ‚ŁŲØŁŽ Ų§Ł„ŲµŁŽŁ‘ŁˆŁ’Ł…Ł Ų²ŁŽŁƒŁŽŲ§Ų©ŁŽ Ų§Ł„Ł’ŁŁŲ·Ł’Ų±ŁŲŒ ŁŁŽŲŖŁŽŲ±ŁŽŁ‰ Ų§Ł„Ł’Ų„ŁŁ†Ł’Ų³ŁŽŲ§Ł†ŁŽ ŁŠŁŽŲØŁ’Ų°ŁŁ„ŁŁ‡ŁŽŲ§ ŲØŁŲ³ŁŽŲ®ŁŽŲ§Ų”Ł ŁˆŁŽŁ…ŁŽŲ­ŁŽŲØŁŽŁ‘Ų©Ł Ų®ŁŽŲ§Ł„ŁŲµŁŽŲ©Ł

 

Artinya, "Oleh karena itu, Sang Pembuat Syariat (Allah) Yang Maha Bijaksana mewajibkan zakat fitrah tepat setelah selesainya puasa (Ramadhan). Maka, engkau akan melihat seseorang menunaikannya dengan penuh kedermawanan dan cinta yang tulus." (Nurul Yaqin, [Damaskus, Darul Faiha: 1425 H], hal. 97).

 

Dari penjelasan di atas, kita dapat mengetahui bahwa Syekh Khudhari menyoroti sisi psikologis ibadah; setelah sebulan penuh ditempa lapar dan dahaga, ego manusia perlahan meluruh dan hatinya menjadi lebih lembut. Kelembutan inilah yang mengubah cara kita memandang harta.

 

Mengeluarkan zakat fitrah tidak lagi dirasakan sebagai beban kewajiban yang memberatkan, melainkan sebuah manifestasi kebahagiaan karena bisa memberi. Di sinilah zakat fitrah hadir sebagai jembatan emas yang menghubungkan kesalehan pribadi kita saat berpuasa dengan kesalehan sosial dalam wujud nyata berbagi kepada sesama.

 

Lebih jauh, Sayyid Muhammad Al-Maliki juga memberikan penjelasan menarik mengenai alasan mengapa zakat fitrah diberikan setelah selesainya bulan Ramadhan. Simak penjelasan beliau berikut:

 

ŁŠŁŽŲ£Ł’Ų®ŁŲ°ŁŁ‡Ł Ų§Ł„Ł’ŁŁŽŁ‚ŁŁŠŲ±Ł ŁŠŁŽŁ†Ł’ŲØŁŽŲ³ŁŲ·Ł بِهِ Ų°Ł°Ł„ŁŁƒŁŽ Ų§Ł„Ł’ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…ŁŽŲŒ ŁˆŁŽŁŠŁŽŲ³Ł’ŲŖŁŽŲ±ŁŁŠŲ­Ł Ł…ŁŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ų¹ŁŽŁ†ŁŽŲ§Ų”ŁŲŒ ŁˆŁŽŁŠŁŲ“ŁŽŲ§Ų±ŁŁƒŁ Ų„ŁŲ®Ł’ŁˆŁŽŲ§Ł†ŁŽŁ‡Ł فِي Ų§Ł„ŁŲ§Ų­Ł’ŲŖŁŁŁŽŲ§Ł„Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’ŁŁŽŲ±ŁŽŲ­Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ų“ŁŁ‘ŁƒŁ’Ų±Ł

 

Artinya: "(Zakat tersebut) diambil oleh orang fakir, sehingga ia merasa lapang (bahagia) pada hari itu, beristirahat dari kesulitan (mencari nafkah), serta dapat ikut serta bersama saudara-saudaranya dalam perayaan, kegembiraan, dan rasa syukur." (Syari’atullah Al-Khalidah, hal. 53).

 

Sayyid Muhammad menekankan bahwa zakat fitrah sejatinya melampaui sekadar pemberian materi; ia adalah upaya memberikan 'kelapangan hati' bagi kaum fakir-miskin agar tak lagi merasa terhimpit di hari kemenangan. Zakat hadir untuk meliburkan mereka dari beban kerja yang menghimpit atau getirnya rasa malu saat harus meminta-minta, sehingga mereka pun berhak mereguk ketenangan yang sama.

 

Dengan zakat, sekat-sekat sosial yang kaku pun runtuh, memastikan bahwa gemuruh takbir Idul Fitri bukan hanya milik mereka yang berpunya, melainkan menjadi melodi kegembiraan bersama dalam balutan ukhuwah Islamiyah.

 

Kesimpulannya, penetapan waktu zakat fitrah di akhir Ramadhan atau maksimal diberikan sebelum dilaksanakannya shalat Idul Fitri bukanlah tanpa alasan; ia adalah titik temu antara pembersihan jiwa dan pemerataan kesejahteraan.

 

Sebagaimana diungkapkan Syekh Khudhari Beik, puasa telah berhasil 'menjinakkan' sisi kemanusiaan kita sehingga memberi tidak lagi terasa berat. Di sisi lain, Sayyid Muhammad Al-Maliki melihat zakat sebagai cara untuk memuliakan fakir miskin, membebaskan mereka dari tuntutan hidup agar bisa menikmati hari raya dengan martabat yang sama.

 

Inilah esensi kemenangan sejati: ketika tembok pemisah kelas sosial roboh dan rasa bahagia menjadi hak setiap hamba dalam bingkai persaudaraan Islam yang tanpa batas. Wallahu a’lam.

 

Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang